Senin, 10 Mei 2010

contok proposAL PENElitian aplikasi trichoderma sp pada pembibitan tembakau kasturi

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tembakau memiliki peranan yang penting dalam perekonomian nasional baik dari aspek penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan Negara, pendapatan petani maupun sektor jasa lainnya. Tembakau dan industri hasil tembakau dalam perekonomian nasional mampu berperan menyediakan lapangan kerja secara langsung maupun tidak langsung bagi 6,4 juta orang, meliputi 2,3 juta petani tembakau, 1,9 juta petani cengkeh,199.000 pekerja pabrik rokok, sekitar 1,15 juta pedagang eceran dan asongan, 900.000 orang yang bekerja pada sektor lembaga keuangan, percetakan dan transportasi (Rachman, 2003).
Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian andalan yang dapat memberikan kesempatan kerja yang luas dan memberikan penghasilan bagi masyarakat pada setiap rantai agribisnisnya. Selain itu, tembakau menunjang pembangunan nasional berupa pajak dan devisa Negara (Cahyono, B, 2005).
Untuk meningkatkan pendapatan petani tembakau sekaligus meningkatkan ekspor, pemerintah telah menganjurkan kepada petani tembakau untuk melaksanakan intensifikasi. Dalam pelaksanaan intensifikasi ini agar petani tembakau berhasil maka perlu diatur langkah-langkahnya. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan intensifikasi adalah masalah proteksi tanaman atu perlindungan tanaman dari penyakit sejak dini.
Pada tanaman tembakau, masalah proteksi sangat penting sekali khusunya saat pembibitan. Hama dan penyakit cukup banyak dan perlu penanganan yang sungguh-sungguh. Dalam hal pengendalian hama sampai saat ini boleh dikatakan dapat diatasi, namun dalam hal penyakit, masih saja mengalami banyak kesulitan. Tidak jarang gagalnya produksi tembakau disebabkan oleh serangan penyakit, seperti yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, dan virus. Dalam menghadapi penyakit pada pembibitan tembakau yang penting disini adalah bukan tindakan pemberantasan, namun tindakan pencegahan. Tindakan pemberantasan sampai saat ini hampir tidak pernah berhasil (Sudarmo, S. 1992).
Tanaman tembakau dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu tembaku Na Oogst dan Voor Oogst. Tembakau Na Oogst adalah tembakau yang ditanam pada akhir musim kemarau dan dipanen pada musim hujan, tembakau Voor Oogst adalah tembakau yang ditanam awal musi kemarau dan dipanen pada musim kemarau. Salah satu tembakau Voor ogst adalah tembakau besuki, tembakua jember atau lebih dikenal dengan tembakau kasturi.
Segala jenis tembakau diharapkan memiliki kualitas dan kuantitas yang sangat tinggi untuk memenuhi permintaan para konsumen baik yang berasal dari dalam atau luiar negeri. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas tembakau adalah perlindungan tanaman tembakau dari serangan penyakit. Biaya untuk mendapatkan fungisida saat ini harganya cukup besar dan sering kali fungisida yang digunakan berasal dari bahan kimia yang dalam penggunaannya bersifat tidak ramah lingkungan dan dapat mengurangi mutu hasil panen.
Sistem pengendalian penyakit yang menjadi jalan keluar terbaik saat ini yaitu dengan sistem pengendalian ramah lingkungan yaitu sistem pengendalian yang memperhatikan kondisi lingkungan ekosistem, misalnya dengan pestisida organik atau dengan cara musuh alami. Adapun cara yang dapat kita lakukan yaitu dengan memanfaatkan agen hayati salah satunya Trichoderma sp sebagai musuh alami.
Agen hayati mencakup pengertian mahluk hidup yang dimanfaatkan sebagai agen pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Pengendalian hayati adalah penggunaan musuh alami serangga hama, penyakit dan tumbuhan pengganggu untuk mengurangi kepadatan populasi (Mangndihardjo, 1975; Speight et al.,1999). Pengendalian hayati dalam pengertian ekologi didefinisikan sebagai pengaturan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian (De Bach, 1997, dalam Oka, 1998).
Pemanfaatan Trichoderma sp. diharapkan mampu meningkatkan produksi tanaman tembakau khususnya dalam hal pengendalian penyakit yang sering menyerang tanaman tembakau sehingga selain didapatkan hasil produksi yang optimal kita juga mampu menerapkan sistem budidaya yang ramah lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah
Pada tanaman tembakau, masalah proteksi atau perlindungan dari penyakit sangat penting. Hama dan penyakit cukup banyak dan perlu penanganan yang sungguh-sungguh. Dalam hal pengendalian hama sampai saat ini boleh dikatakan dapat diatasi, namun dalam hal penyakit, masih saja mengalami banyak kesulitan. Tidak jarang gagalnya pembibitan tembakau disebabkan oleh serangan penyakit, seperti yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, dan virus. Dalam menghadapi penyakit pada pembibian tembakau yang penting disini adalah bukan tindakan pemberantasan, namun tindakan pencegahan pencegahan sejak dini atau sejak usia pembibitan. Tindakan pemberantasan penyakit sampai saat ini hampir tidak pernah berhasil (Sudarmo, S. 1992).
Hingga saat ini, baik petani maupun perusahaan yang melakukan pembibitan tanaman tembakau dalam pengendalian penyakit masih banyak yang menggunakan bahan-bahan kimia sebagai bahan utama untuk mengendalikan penyakit yang menyerang pembibitan tembakau. Oleh karena itu, masih butuh penelitian sampai manakah kemampuan agen hayati (Trichoderma sp.) sebagai pengendali penyakit yang sering menyerang pada pembibitan tanaman tembakau sehingga nantinya kita mampu menerapkan sistem pengendalian penyakit yang ramah lingkungan dan dari segi biaya pun lebih murah dibandingkan pengendalian yang menggunakan bahan-bahan kimia.

1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
1. Mengetahui sampai manakah Trichoderma sp. mampu mengendalikan intensitas serangan penyakit pada pembibitan tanaman tembakau.
2. Mengetahui perbandingan penggunaan agen hayati (Trichoderma sp.) dibandingkan menggunakan fungisida sintetik atau kimia.
3. Trichoderma sp. manakah yang paling efektif sebagai pengendali serangan penyakit pada tanaman tembakau.
4. Mengetahui seberapa kuat trichoderrma dalam mencegah cendawan rhizoctonia solani yang menyerang pebibitan tembakau kasturi
1.3.2 Manfaat
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai pengatahuan baru dalam berbudidaya tanaman tembakau khususnya dalam pengendalian penyakit pada saat pembibitan yang sering menyerang sehingga dihasilkan bibit yang sehat dan menghasilkan tanaman dengan produktivitas yang optimal dan lebih murah serta ramah lingkungan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Tembakau
Menurut musimnya, tembakau di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu tembakau Voor-Oogst (VO) dan tembakau Na-Oogst (NO). Tembakau VO ditanam pada akhir musim hujan dan dipanen pada musim kemarau. Sedang tembakau VO ditanam pada akhir musim kemarau dan dipanen pada musim hujan (Cahyono, 1990).
Tanaman tembakau dapat tumbuh optimal pada daerah dengan ketinggian kurang dari 700 m diatas permukaan laut dengan temperatur lebih dari 22o C dan curah hujan rata-rata 2000mm/tahun. Sedang tembakau pada dataran tinggi sangat baik bila ditanam didaerah dengan curah hujan rata-rata 1500 – 3500 mm/tahun (Cahyono, 1990).
Tembakau banyak memiliki varietas, namun yang banyak dibudidayakan adalah dari induk Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica. Sekarang ini Nicotiana tabacum merupakan jenis tembakau yang banyak dibudidayakan yang merupakan tembakau asli dari India Barat, sebagian Amerika Tengah dan Ameriaka Selatan. Meskipun aslinya tanaman tembakau adalah tanaman tropis namun tembakau ini cocok dibudiyakan baik didaerah sub tropis atau didaerah beriklim sedang.
Tembakau adalah jenis tanaman semusim dan dimanfaatkan daunnya sebagai bahan pembuatan rokok. Tanaman tembakau diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Spermatophyta
Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotiledoneae
Bangsa : Solanales
Suku : Solanaceae
Marga : Nicotiana
Jenis : Nicotiana tabacum

2.2 Penyakit Pada Pembibitan
Penyakit yang sering menyerang pada pembibitan tembakau adalah Penyakit hangus batang atau damping off merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan rhizoctonia solani. Meskipun jenis penyakit ini tidak begitu meluas namun memiliki gejala yang sangat nampak yaitu gejala serangannya sama dengan yang disebakan oleh cendawan phytium dan phytohthora. tanda tanda serangannya adalah menyebabkan bibit terserang layu, karena terdapat gelang gelang yang berwarna hitam, tepat pada batang permukaan tanah. Mula mula daun layu dan berwarna kuning, bila dibelah batang yang terserang terlihat kering dan berwarna kecoklatan dan di dalamnyaditumbuhi cendawan.
Penyakit hangus batang yang disebabkan oleh cendawan rhizoctonia solani pada pembibitan ini tidak tidak begitu meluas. Untuk mengatasi atau mencegah serangan ini dapat dilakukan beberapa macam cara, baik secara kimiawi atau dengan memanfaatkan agen hayati atau musuh alaminya.

2.3 Pengendalian Secara Hayati
Pengendalian hayati adalah teknik pengendalian OPT dengan melibatkan peranan musuh alami dari OPT tersebut. Agen hayati mencakup pengertian mahluk hidup yang dimanfaatkan sebagai agen pengendali Organisme Pengganggu Tanaman. Pengendalian hayati dalam pengertian ekologi didefinisikan sebagai pengaturan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian (De Bach, 1997, dalam Oka, 1998).
Pengendalian secara hayati adalah kerja dari beberapa faktor biotis seperti parasitoid, predator dan patogen terhadap mangsa atau inang, sehingga menghasilkan suatu keseimbangan umum yang lebih rendah dari pada keadaan yang ditunjukkan apabila faktor tersebut tidak ada atau tidak bekerja (Stern et al., 1959).

Pengendalian hayati memanfaatkan spesies-spesies mahluk hidup tertentu untuk mengendalikan hama penyakit tanaman. Pemanfaatan ini dimungkinkan karena adanya interaksi antara dua spesies mahluk hidup atas keuntungan yang satu memangsa atau sebagai parasit dan lainnya dirugikan karena dimakan atau meningkatkan efisiensi dan aktivitas musuh alami sehingga peranannya semakin nyata. Penggunaan pestisida dapat menurunkan populasi musuh alami, oleh sebab itu mengurangi penggunaan pestisida dapat membantu melindungi musuh alami (De Bach, 1997, dalam Oka, 1998).
Potensi musuh alami akhir- akhir ini sudah banyak dikembangkan, artinya pengendalian OPT sudah banyak memanfaatkan peran musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen serangga dan agens antagonis.
2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Agen Hayati
1. Kelebihan agen hayati, antara lain :
a. Selektifitasnya tinggi dan tidak dapat menimbulkan ledakan hama baru dan resurgensi hama.
b. Faktor pengendali (agen) yang digunakan tersedia di lapang.
c. Agen hayati (parasitoid dan predator) dapat mencari sendiri inang atau mangsanya.
d. Agen hayati (parasitoid dan predator, patogen) dapat berkembang biak dan menyebar.
e. Tidak menimbulkan resistensi terhadap serangga inang atau mangsa ataupun kalau terjadi sangat lambat.
f. Pengendalian ini dapat berjalan dengan sendirinya karena sifat agens hayati tersebut.
g. Tidak ada pengaruh samping yang buruk seperti pada penggunaan pestisida
h. Pengendalian hayati relatif murah.
2. Kelemahan agen hayati, antara lain :
a. Pengendalian terhadap OPT berjalan lambat.
b. Hasilnya tidak dapat diramalkan
c. Sukar untuk pengembangan dan penggunaannya
d. Dalam pelaksanaannya pengendalian hayati memerlukan pengawasan pakar dalam bidangnya.
e. Dalam mengembangkan pengendalian hayati harus selalu dikawal atau dimonitor.

2.4 Bioekologi Trichoderma sp
Trichoderma sp. masuk dalam kelas Euascomycetes dan family Hypocreaceae. Konidiofor hyaline, bercabang dan pyramidal. Konidia (dengan diameter rata – rata 3 ┬Ám) berbentuk sel tunggal dan bulat permukaannya halus dan kasar (Smith, et al, 1990).
Agen antagonis patogen tumbuhan yang telah banyak dikembangkan adalah cendawan Trichodema sp. Klasifikasi cendawan Trichoderma sp. adalah sebagai berikut :
Kingdom : Fungi
Divisi : Ascomycota
Subdivisi : Pezizomycotiana
Kelas : Sordariomycetes
Ordo : Hypocreales
Famili : Hypocreaceae
Genus : Trichoderma
Cendawan marga Trichoderma terdapat lima jenis yang mempuyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen yaitu Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichorderma viride, Trichorderma hamatum dan Trichorderma polysporum. Jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichorderma viride.
Trichoderma sp. umumnya penghuni tanah, khususnya pada tanah organik. Cendawan ini dapat hidup sebagai saprofitik atau parasitik terhadap cendawan lain, bersifat antagonistik dan banyak digunakan sebagai pengendalian biologi (Sundheim dan Tromsno, 1988). Trichoderma sp. juga ditemukan pada permukaan akar bermacam-macam tumbuhan, pada kulit kayu yang busuk, terutama kayu busuk yang terserang cendawan dan pada sklerotia atau propagul lain dari cendawan lain. Cendawan Trichoderma sp. dapat hidup pada beberapa macam kondisi lingkungan. Trichoderma hamatum dan Trichoderma pseudokoningii dapat berdaptasi pada kondisi kelembaban tanah yang sangat tinggi. Trichoderma viride dan Trichoderma polysporum terbatas pada daerah yang mempunyai suhu rendah. Trichorderma harzianum sangat umum ditemukan di daerah yang beiklim panas, sedangkan Trichorderma hamatum dan Trichorderma koningii tersebar luas pada kondisi iklim yang bermacam–macam. Kondisi kering dalam waktu yang lama mengakibatkan populasi Trichorderma spp. menurun (Rifai, 1969, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).
Suhu optimum untuk pertumbuhan Trichorderma harzianum adalah 15-310 C, tetapi pertumbuhan terbaik rata-rata pada suhu 300 C dan untuk suhu maksimum 300–360 C. Sedang suhu optimum untuk pertumbuhan Trichorderma koningii adalah 260 C. Pertumbuhan normal untuk cendawan Trichorderma harzianum pada pH 3,7-4,7 sedangkan Trichorderma koningii pertumbuhan optimumnya pada pH 3,7-6,0 (Domsch et al., 1980, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).

2.5 Mekanisme Antagonis Cendawan Trichoderma sp.
Trichoderma sp. dapat bersifat antagonis terhadap banyak cendawan karena mempunyai banyak cara untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan cendawan lain. Ada tiga mekanisme antagonis cendawan Trichoderma harzianum terhadap patogen tular tanah yaitu sebagai kompetitor baik ruang maupun nutrisi, antibiosis yaitu mengeluarkan ethanol yang bersifat racun bagi patogen dan sebagai mikro parasit (Sudantha, 1995, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).
Trichoderma koningii dan Trichoderma viride dapat menghambat secara nyata terhadap cendawan Fusairum annosus dan Rhizocthonia solani dengan antibiotika menguap yang dihasilkannya. Disamping itu Trichoderma koningii dan Trichoderma viride juga dapat menggulung Fusarium annosus dan Rhizocthonia solani. Trichoderma koningii dapat mempengarui Phytophthora Palmivora cendawan penyebab panyakit busuk buah kakao dengan perubahan warna menjadi kuning. Diduga hal ini karena adanya antibiotika yang dikeluarkan oleh Trichoderma koningii tersebut. cendawan antagonis yang lain seperti Trichoderma pseudokoningii dan Trichoderma aureoviride berdasarkan pengamatan menandakan kontak langsung secara fisik dengan Phytophthora Palmivora (Dennis dan Webster, 1971, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).

2.6 Hipotesa
1. Aplikasi Trichorderma sp Pada pembibitan tanaman tembakau dapat menekan laju serangan penyakit hangus batang
2. Perlakuan Trichoderma sp mempengaruhi kualitas bibit tanaman tembakau


BAB III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan Topik Perorangan (TP) ini dilakukan pada bulan juli sampai dengan bulan Agustus 2010. Tempat pelaksanaan di lahan percobaan Politeknik Negeri Jember dengan ketinggian ± 89 m dpl.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan adalah cangkul, timba, gembor, koret, knap sack, linggis, spayer, gergaji, parang, gergaji potong, corongan, kotak potong, bak plastik, ayakan 0,5 cm, bak plastik.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah benih tembakau kasturi, tanah top soil, pupuk kandang, pasir, plastik roll, plastik,
decis, pupuk (Urea, ZA, dan SP-18), Trichoderma harzianum (NASA), manzet, dithane.

3.3 Perlakuan
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK), yaitu dengan 4 perlakuan, diantaranya aplikasi Trichorderma harzianum dari NASA, Puslit dan perlakuan menggunakan pestisida sintetik atau kimia serta satu kontrol.
Masing-masing perlakuan menggunakan lima kali ulangan sehingga terdapat lima plot dengan beberapa macam perlakuan yang telah ditentukan.






3.4 Metode Pelaksanaan
3.4.1 Persiapan Lahan
Persiapan lahan dalam hal ini yaitu mempersiapkan lahan yang akan dibuat sebagai bedengan. Dalam hal ini bedengan dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu bedengan secara konvensional sebagai penyebaran benih dan bedengan sistem polibag yaitu bedegan yang digunakan untuk menaruh bibit polibag setelah tranplanting.
Cara pengolahan tanah untuk bedengan ada beberapa cara berdasarkan jenis bedengannya. Untuk bedengan sebar diolah sampai 4 kali selama satu minggu bertujuan untuk menghancurkan tanah, selanjutnya dibuat dengan ketinggian 30 cm. untuk bedengan sistem polibag 1-2 kali. Posisi bedengan dibuat tidak rata tapi miring yaitu sebelah barat atau belakang tingginya 30 cm, dan sebelah timur atau depan tingginya 20 cm. Pada saat inilah cendawan Rhizoctonia solani di sebarkan atau diaplikasikan sebagai ssalah satu perlakuan pada topik perorangan ini.
3.4.2 Pembuatan Bedengan
a. Pemilihan lokasi
• Lokasi dipilih di daerah yang rata dan tidak tertutup sehingga tida terlindungi dari sinar matahari
• Dekat dengan sumber air
• Bebas dari tanaman inang sumber penyakit
b. Pemasangan Kerangka Bedengan
Pemasangan atap atau penutup bertujuan untuk melindungi bibit dari panas sinar matahari dan menjaga kelembaban bedengan.atap bedengan dibedakan menjadi dua yaitu untuk konvensional atau sebar menggunakan plastik blabat dan untuk bibit polibag menggunakan waring plastik waring.



3.4.3 Pembuatan Media Pembibitan Polibag
a. Sterilisasi media
Yaitu mensterilkan media untuk pembuatan polibag yaitu pasir, tanah dan pupuk kandang dengan alat sterilisasi selama 3 jam dengan suhu 1000 C
b. Pengisian, Pemotongan dan Pengaturan Polibag
sebelum diisikan ke dalam kantong plastik untuk di buat sosis media yang steril di beri cendawan rhizoctonia solani yaitu sebagai salah satu perlakuan pada topik perorangan ini, plastik yang digunakan utuk pembuatan sosis berukuran lebar 6 cm dan diameter 5 cm dengan ketebalan 0,02 cm. Plastik dipotong dengan ukuran panjang 110 cm ujungnya diikat. Media dimasukkan kedalam plastik dengan bantuan corong. Setelah diisi sosis diletakkan di tempat yang lembab kurang lebih selama 1 – 2 hari. Setalah itu dilakukan pemotongan, pemotongan dilakukan dengan cara meletakkan sosis pada kotak potong, pemotongan dilakukan dengan menggunakan gergaji secara hati hati agar tidak rusak, pemotongan dilakukan dengan panjang 5 cm. Setelah dipotong sosis ditata pada bak plastik untuk kemudian dipindahkan ke bedengan dan ditata dengan rapi.

3.4.4 Sebar Benih Konvensional dan Pemupukan Dasar
a. Pemupukan Dasar
Pemupukan dasar dilakukan untuk mendapatkan bibit yang baik, pemupukan dasar ii dilakukan 2 hari sebelum benih disebarkan. Pemberian pupuk dasar ini bersamaan dengan pemberian racun semut dan aplikasi tricodherma sp sebagai agen hayati yang diterapkan pada topik perorangan Sebar Benih
b. Sebar benih dilakukan setelah benih dilakukan pemeraman selam 2-3 hari sampai benih kelihatan pecah, penyebaran dilakukan dengan gembor yang memiliki lubang semprong agak besar.
b. Pemupukan Dasar
Pemupukan dasar dilakukan untuk mendapatkan bibit yang baik, pemupukan dasar ii dilakukan 2 hari sebelum benih disebarkan. Pemberian pupuk dasar ini bersamaan dengan pemberian racun semut dan aplikasi tricodherma sp sebagai agen hayati yang diterapkan pada topik perorangan ini. Adapun pupuk dasar yang dibutuhkan antara lain 200 gr SP18/m2 dan 20 gr ZA/m2

3.4.5 Transplanting Bibit
Transplanting bibit yaitu pemindahan bibit dari bedeng konvensional ke media polibag. Tranplantik dilakukan pada saat bibit berusia 2 minggu atau 14 hari. 2 hari sebelum tranplanting, polibag diberi atau ditaburi trichoderma sebagai agen hayati yang diterapkan pada topik perorangan ini
3.4.6 Pemeliharaan
a. Penyiraman
dilakukan setiap hari secara intensif dan diusahan bibit tidak mengalami kekeringan
b. Perlindungan Penyakit
Perlindungan penyakit dilakukan sejak bibit berusia 25 hari sampai bibit siap tanam atau sekitar usia 35 – 40 hari. Pada perlindungan penyakit ini diberikan perlakuan yaitu dengan pemberian pestisida, cendawan Trichoderma dan kontrol yaitu tanpa pemberian perlindungan

3.5 Parameter
3.5.1
Dalam Topik Perorangan ini parameter yang akan diamatai meliputi :
a. Intensitas serangan penyakit pada tiap perlakuan, yaitu dengan menghitung jumlah tanaman yang terserang penyakit dari beberapa sample tanaman yang telah ditentukan.
b. Dan parameter agronomi yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, serta panjang dan lebar daun (daun ke 3, 5, dan 10).

3.6 Jadual Pelaksanaan
No Kegiatan Hari ke Keterangan
1 Persiapan Lahan 1 Persiapan lahan dilakukan dalam 1 minggu yaitu untuk menggemburkan tanah pada bedeng konvensional
2 Pembuatan Bedengan
Pemilihan lokasi
Pemasangan Kerangka Bedengan

8
8
Yaitu memilih lokasi yang tepat
Pemasangan kerangka yaitu membuat atap bedengan
3 Pembuatan Media Pembibitan Polibag
Sterilisasi media

Pengisian sosis

Pemotongan sosis dan Pengaturan Polibag
15

16

18

1
Mensterilkan media agar diapstikan tidak terdapat cendawan atau bakteri
Yaitu pengisian tanah pada plastik

Pemotongan lonjoran sosis menjadi batangan kecil berukuran 5 cm dan ditata pada bedengan
4 Pemeraman benih

Sebar Benih
12

14 Pemeraman benih untuk sampai benih pecah
Menyebar benih setelah dilakukan pemeraman
5 Pemupukan Dasar 14 Dilakukan sebelum benih disebar
6 Transplanting Bibit 28 Dilakukan setelah bibit berumur 14 hari setelah sebar
7 Pemeliharaan
Penyiraman


Perlindungan Penyakit




------
Penyiraman dilakukan secara intensisf baik sejak bibit masih dalam bedengan konvensional maupun dalam polibag
Dilakukan setelah bibit tranplanting ke polibag, bersamaan dengan perlakuan TP

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, bambang.1998. Tembakau Budi Daya dan Analisis Usaha Tani.Yogyakarta: Kanisius.

Cholyubi, Y, Hari Rujtnodan Siti Humaida. 1990. Menejemen Usaha Tani. Jember : Politeknik Pertanian Universitas Jember.

Dinas Perkebunan Kabupaten Jember. 2004. Panduan Budidaya dan Pengolahn Hasil Tembakau Kasturi Di Kabupaten Jember. Jember: Dinas Perkebunan Jember.


Robert, D.W. 1981. Toxins of Entomopathogenic Jamur dalam H.D Burges (Ed.) Microbial Control of Pest and Plant Diseases. Academic Press Inc. New York. 949 p.

Sasongko Sigid. 2008. Respon Tembakau Rendah NIkotin. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/?p=opini.11. diakses tanggal 21 November 2008.

Sudarmo, S. 1990. PESTISIDA. Yogyakarta: Kanisius.

Sudarmo, S. 1992. Tembakau Pengendalian Hama dan penyakit. Yogyakarta: Kanisius.

Soeroso, B., Y.H. Agus dan K. Astuti. 1993. Pengaruh Insektisida Klorpirifos, Jamursida Benomyl dan Jamur Beauveria bassiana Terhadap Tingkat Kerusakan, Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai Varietas Wilis.Makalah Simposium Patologi Serangga. PEI Cabang Yogyakarta. Yogyakarta. 8 p.

Sulistyowati, E. Dan Y.D. Junianto. 2000. Produksi dan Aplikasi Agens Pengendali Hayati Hama Utama Kopi dan Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan kakao Indonesia. Jember. 26 p.

LAY OUT PENELITIAN


Blok I Blok II Blok III Blok IV

T1 KO K T2

K T2 T1 KO

T2 T1 KO T1

KO K T2 K


Keterangan :
T1 : Trichorderma sp. (Puslit)
T2 : Trichorderma sp. (NASA)
K : Sintetik
KO : Kontrol

1 komentar:

  1. mampir...
    mo bagi sedikit info tentang pohon jabon.. kalo ada yang baru tahu tentang pohon jabon
    salam.....

    BalasHapus