Jumat, 09 April 2010

diktat tembakau

BAB I
PENDAHULUAN

Tembakau sebagai komoditi yang pada umumnya dibudidayakan oleh petani, memiliki peranan sangat penting dalam pereknomian Nasional dari dulu hingga masa mendatang baik dari aspek penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan Negara, pendapatan petani maupun sektor jasalainnya. Perkembangan komoditi ini merupakan bagian tak terpisahkan sejalan dengan maju mundurnya Industri rokok.
Oleh karenanya perhatian pemerintah terhadap komoditi ini cukup besar yang tertuang dalam upaya pembangunan perkebunan rakyak melalui proyek intensifikasi didaerah tradisional, sekaligus menunjang keberhasilan pembangunan serta lain utamanya sektor industri
Pada saat ini industri tembakau Voor-Oogst tampaknya masih memiliki prospek cukup baik, hal ini didasarkan atas konsumsi rokok dalam negeri masih relative rendah dan ada kecenderungan meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk dan peningkatan pendapatan per kapita
Pasar tembakau khususnya Voor-Oogst sebagai bahan campuran dalam perusahaan pembuatan rokok kretek masih terbuka cukup luas dengan memperhatikan kualitas permintaan masing-masing pabrikan.
Mengingat pentingnya sumbangan industri tembakau ini terhadap kehidupan social ekonomi masyarakat baik sektor informal maupun formal maka pemerintah melalui kebijaksanaan perangkat lunak berupa peraturan-peraturan tetap akan membantu kelangsungan industri rokok ini.
Pemakaian tembakau Voor-Oogst ini sangat dipengaruhi oleh sektor kualitas atau dengan kata lain faktor kualitas sangat dominan, karena itu komoditi tembakau disebut 2 Fancy product. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kualitas tembakau, antara lain galur, pembibitan, pengolahan tanah, iklim, jarak tanam, pemetikan, pengeringan dan lain-lain.
Mengingat peranan tembakau masih dirasakan sangat penting, maka komoditi ini masih tetap dibina dengan memperhatikan keseimbangan antar penyediaan dan kebutuhan

A BOTANI TANAMAN TEMBAKAU
1. Sistematik
Tanaman tembakau termasuk famili solanaceae bersama dengan tanaman lain, misalnya : solanum tuberosum,solanum melongena, solanum licopersicum, dan capsicum annum. Famili solanaceae mempunyai 85 genus, yaitu terdiri dari ± 1.800 spesies. Nicotiana merupakan genus yang paling banyak dibudidayakan sehingga dijadikan induk.

2. Morfologi Tanaman Tembakau
a. Bagian Akar
Tanaman tembakau memiliki akar tunggang, jika tanaman tumbuh bebas pada tanah yang subur dan bukan berasal dari bibit cabutan. Tanaman dari bibit cabutan terkadang mengalami gangguan kerusakan akar. Jenis akar tunggang pada tanaman tembakau yang tumbuh sumbur terkadang dapat tumbuh sepanjang 0,75 m. Selain akar tunggang, terdapat pula akar-akar serabut dan bulu-bulu akar. Pertumbuhan perakaran ada yang lurus, berlekuk, baik pada akar tunggang maupun akar serabut. Banyak sedikitnya perakaran sangat bervariasi tergantung berbagai macam faktor jenis tanah dan kesuburan tanah. Akar yang terputuskan pada saat pendangiran daya rangsang pertumbuhannya lebih tinggi.
Dalam tingkat kesuburan tanah yang maksimal, pertumbuhan akar adventif dapat mencapai panjang lebih dari 2m. Bila pengolahan tanah baik, akar adventif terdapat pada kedalaman1 cm- 30 cm. Akar tumbuh terbanyak pada kedalamna lapisan tanah 15 cm-20cm dari permukaan tanah atas.Akar tanaman tembakau kurang tahan terhadap tanaman yang berlebihan
b. Bagian Batang
Batang tembakau ada yang bercabang, biasanya tanaman tembakau akan bercabang apabila bagian titik tumbuhnya terputus, sehingga merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. Apabila bagian batang dibelah di dalamnya terdapat empulur.
c. Bagian daun
Daun tembakau dangat bervariasi, ada yang berbentuk ovalis, oblongos, dan ovatus. Daun-daun tersebut mempunyai tangkai yang menempel langsung pada bagan batangnya. Jumlah daun yang dapat dimanfaatkan dalam setiap batangnya dapat mencapai 16 helai daun. Zat hijau daun mmenyebabkan warna hijau muda hingga hijau tua pada daun.
d. Bagian Bunga
Bunga tembakau termasuk bunga majemuk yang berbentuk seperti terompet. Benang sari berjumlah lima buah. Warna bunga dalam satu malai ada yang kemerah-merahan dan putih. Bakal buah terdapat pada bagian dasar bunga. Biji-bijian sangat kecil, dengan jumlah mencapai ribuan per batang, sehingga untuk kebutuhan pembibitan tidak kesulitan. Benih tembakau dapat dihasilkan dari kebun sendiri, dengan pemeliharaan bunga hingga berbuah sampai tua untuk keperluan penanaman pada musim berikutnya.
Proses masaknya buah setelah terjadi pembuahan kadang-kadang memerlukan lebih dari 20 hari. Sementara itu proses pembuahan kadang-kadang memerlukan waktu sekitar 1,5 hari setelah penyerbukan. Jadi untuk mencapai clean seed, dalam setiap karangan bunga yang hendak dijadikan benih perlu dilindungi terhadap adanya penyerbukan silang. Hal ini dilakukan dengan isolasi sebelum terjadi penyerbukan hingga terjadinya proses pembuahan sampai selesai.
Dari warna bunga kemerahan-merahan dan putih, akan terjadi perubahan warna pada biji menjadi cokelat muda kehitam-hitaman. Setiap pertumbhan yang normal, dalam satu tanaman terdapat ± 300 buah dan setiap buahnya berisi biji-biji sebanyak ± 2.500 butir

BAB II
SYARAT TUMBUH TANAMAN TEMBAKAU

A. KEADAAN TANAH
Tipe tanah yang berstruktur remah, sedikit berpori, pasir halus dengan aerasi yang lebih cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau. Dengan tipe tanah semacam ini ada harapan besar untuk mendapatkan hasil daun yang tipis, elastis, dan warna krosok cerah, asalkan dalam pembudidayakannya baik, tepat musim, kondisi air curing dan fermentasi yang optimal.
Peranan tanah pada budidaya tembakau disamping untuk memperoleh pertumbuhan yang normal, juga merupakan faktor pembatas bagi diperolehnya kualitas hasil. Persediaan air yang cukup dalam tanah sangat diperlukan, karena system perakarannya relative dangkal, akan tetapi sebaliknya tanaman tembakau dapat tumbuh baik pada pH 5,5 – 6,5. Pada umumnya tanah yang mudah meluluskan air lebih sesuai untuk penanaman tembakau.

B. KEADAAN IKLIM
Keberhasilan usaha pertanaman tembakau sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim selama masa pertumbuhannya. Faktor-faktor iklim yang berpengaruh antara lain curah hujan., Kelembaban, penyinaran dan suhu. Diantara faktor-faktor tersebut curah hujan merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya.
Tembakau musim kemarau ditanam pada akhir musim penghujan dan dipanen pada musim kemarau. Umumnya tembakau pada musim kemarau daunnya lebih tebal dari pada tembakau pada musim penghujan. Penurunan produksi terjadi kalau musim menyimpang dari kebiasaan yang diramalkan. Dengan demikian faktor iklim memegang peranan yang sangat penting dalam keberhasilan penanaman tembakau ini sehingga diharapkan adanya kerjasama secara insentif dengan Badan Metereologi dan Geofisika dalam mengusahakan penyajian data perkiraan sifat iklim yang akan terjadi dalam suatu musim tanam.
BAB III
PEMBIBITAN

A. PERSIAPAN PEMBIBITAN
Keberhasilan penanaman tembakau banyak dipengaruhi kondisi bibit yang ditanam. Untuk mendapatkan bibit yang baik, sehat, kuat dan tepat waktu untuk penanaman perlu penanganan pada pembibitan secara serius dan intensif. Salah satu penunjang keberhasilan penyediaan bibit tembakau selama ini adalah dengan menggunakan polybag. Namun demikian keberhasilan tersebut belum diimbangi dengan keseragaman besarnya bibit, terutama pada bibit yang berada diposisi tengah dan belakang dari bedengan. Kenyataan ini disebabkan oleh penerimaan intesitas matahari yang kurang merata pada bedengan. Oleh karena itu masih diperlukan upaya untuk mendapatkan bibit yang mempunyai sifat morfologis yang baik dan seragam serta jumlah yang cukup memadai. Penggunaan atap plastik yang atapnya berbentuk sungkup merupakan salah satu alternative untuk mengatasi permasalahan tersebut. Menurut Hartana (1978) penggunaan atap plastik setebal 0,15 mm atau 0,33 mm menunjukkan pertumbuhan bibit lebih cepat dan rata sebab penerimaan penyinaran lebih merata. Penggunaan bedengan atap plastik yang berbentuk sungkup akan menghasilkan bibit yang mempunyai sifat morfologis yang baik, sehat,kuat, jumlah daun lebih banyak, jumlah bibit layak tanam juga akan lebih banyak dan keseragaman lebih merata. Dari segi efisiensi lebih baik dan biayanyapun lebih murah serta dapat memanfaatkan material-material bekas yang tidak terpakai.

B.PEMBUATAN MEDIA KOMPOS SSK
Pembuatan media kompos dengan cara fermentasi serbuk kelapa (SSK) stapelan yang dipakai dengan luas dasar 10 m persegi. Bahan campuran yang dipergunakan adalah SSK 5.000 kg, pupuk kandang 500 kg., tanah halus 250 kg, kapur halus 250 kg, urea 150 kg, SP36 50 kg dan ZK 50 kg. Stapelan diberi dinding tabing dengan ukuran tinggi ± 2,5 m. Agar temperature dapat berjalan dengan baik, maka pemberian air pada waktu pembuatan stapelan pada tiap-tiap sap disiram air sebanyak 8 – 10 gembor.
Stapelan diberi thermometer di tiga tempat ditengah-tengah bagian bawah pada ketinggian 65cm, ditengah-tengah pada ketinggian 110 cm dan diengah-tengah bagian atas pada ketinggian 150 cm. Temperatur yang diharapkan dapat mencapai 60 derjat C sampai akhir pembongkaran. Pembalikan dilakukan 2 kali pada umur 3 sampai 4 minggu. Setelah dibongkar media kompos SSK diayak dengan ayakan.
Pekerjaan pembuatan sosis dilakukan di gudang pengeringan lantai gudang pengering sekitar tempat pembasamidan diracun ekstra dengan kocide 77 ( 20 gram/saval)
Usaha mendapatkan tanah olah yang baik dan kering sesuai kebutuhan tanah diayak dan tanah ayakkan tersebut dicampur dengan kompos SSK dengan pembandingan 1 SSK : 3 tanah ayakan. Hasi pemcampuran tersebut dibentuk bedengan dengan ukuran panjang 10 cm, lebar 1 cm dan tinggi 20 cm yang sudah dialasi plastic bekas yang tidak bocor. Jumlah campuran = 2 meter kubik cukup untuk 1.500 sosis
Bedengan campuran diberi basamid sebanyak 400 gr kemudian diaduk-aduk sampai rata sambil disiram air sedemikian rupa sehingga tanah campuran tersebut dalam keadaan lembab. Bedengan tersebut ditutup plastic rapat selama satu minggu. Setelah sat minggu plastic dibuka, bedengan dicacah berlang-ulang selama 2 minggu, maka siap diisikan ke plastic sosis. Plastik lebar 5 cm tebal 0,02 mm dipotong potong panjang 1 m, salah satu ujungnya tertutup. Sosis tersebut dipotong untuk menjadi polybag dengan panjang potongan 5 cm. Pemotongan dilaksanakan di lorong bedengan dalam kompleks bedengan. Setelah dipotong kemudian satu persatu diambil untuk ditaruh dan disusun diatas bedengan dengan berjajar dua-dua jarak ke barisan yang lain 2-3 cm.



C. PERSIAPAN BEDENGAN TEMPAT PEMBIBITAN
Dalam mempersiapakan bedengan tempat pembibitan harus memperhatikan lokasi media terbuka, komplek bedengan diusahakan berada ditengah atau didalam lahan tanaman. Mudah mendapatkan air bersih atau air sumur, harus bersih lingkungan dari tanaman inang sumber sektor hama dan penyakit. Dipilih tanah sawah berlapis olah tebal, mudah melepaskan air tetapi tidak lekas kering karena berpasir.
Tanah untuk pembibitan dipilih tanah yang subur, tidak becek atau bebas banjir. Tanah perlu dikerjakan baik-baik, sehingga terdapat tanah yang gembur, tidak bergumpalan terlalu besar dan merata, tidak terlalu teduh karena berada dibawah pohon pohonan yang rindang akan mengandung bahaya penyakit.
Bedengan sebar dan bedengan tanam dibuat sama, hanya bedengan sebar permukaannya ditumpangi nampan kasa plastik ukuran 20 x 25 cm, diatasnya disebari media setebal 1 cm. Sedangkan bedengan tanaman dilapisi plastik. Perbandingan jumlah bedengan sebar dan bedengan tanam 1;5. Diantara jarak 21 m arah utara selatan dibuat 2 bedeng memanjang dengan ukuran permukaan bedengan efektif panjang 8,5 meter lebar 1,05 m arah utara selatan dengan kemiringan permukaan ± 6 derajat.
Atap bedengan dibuat dari plastik dan waring dengan susunan waring plastik-waring plastik disatukan dan dijahit dengan ukuran panjang 5 cm lebar 2,4 m tebal plastic 0,6 mm dan warna polos. Panjang waring 5 cm lebar 2,4 m. Kerangka waring dibuat dari kawat BWG 10 yang dilengkung di atas bedengan dengan menusuk bambu galur sebagai puncak permukaan atap bedengan.

D.PENABURAN BENIH PADA BEDENGAN SEBAR
Penaburan benih pada bedengan sebar dilakukan pada pukul 0.6.00 atau 14.00 – 14.30 WIB. Sebelum menabur permukaan sebar atau semaian disiram dulu dengan air. Sebaran benih harus merata pada semua permukaan bedengan. Supaya penyebaran benih merata maka waktu menyemai benih dapat diaduk dengan abu dapur sebelum ditaburkan.
Untuk tiap-tiap 8 m persegi bedengan memerlukan 1 gram benih, yang setiap gramnya berisi ± 12.000 butir benih. Kerapatan benih yang idial dalam bedengan persemaian kira-kira 400 batang per meter persegi yang berarti jarak bibit satu sama lainnya 5 cm.Bibit yang terlalu rapat biasanya berkualitas jelek yaitu akan terjadi etiolasi. Keperluan bedengan untuk 1 Ha pertanaman tergantung pada jarak tanamannya dan ukuran bedengan.

E. PEMELIHARAAN PEMBIBITAN
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan secara teratur sesuai dengan kebutuhannya. Pada umur ± 10 hari bibit hendaknya diperjarang dengan jarak kira-kira 5 cm, sehingga dalam 1 meter persegi luas akan diperoleh ± 400 batang bibit. Semakin lanjut umur bibit, semakin dikurangi interval penyiraman, hingga pada umur 1 bulan hanya satu kali penyiraman dan itu disiram bila perlu saja.

2. Pengendalian Hama Pada Bibit
Untuk menghindari serangan cendawan seperti Phytoptora Nicotianae (penyakit lanas) perlu diadakan penyemprotan dengan Dithane M-45 (konsentrasi 0,25) atau Koperoksiklarida (konsentrasi 0,5 %). Untuk mencegah serangan hama dicampur dengan insektisida seperti misalnya Thiodan (0,10%). Penyemprotan dilakukan empat hari sekali. Kalau hujan banyak maka diadakan penyemprotan tambahan karena lapisan pestisida di atas daun mudah larut oleh air hujan

3. Pemindahan Bibit
Umur bibit yang baik untuk dipindahkan antara 35-40 hari. Pencabutan bibit dapat dilakukan beberapa kali dan pertama-tama memilih bibit yang baik tumbuhnya dan demikian seterusnya. Bibit yang dicabut pada pagi hari, harus pada sore hari itu juga ditanam. Untuk mengurangi kematian dijaga jangan sampai layu dan dalam mengangkut bibit perlu dimasukkan dalam keranjang terutama bila lapangan yang akan ditanami cukup jauh dari persemaian. Oleh karena itu waktu mencabut tanah bedengan harus berikut akar. Cara mencabut bibit yaitu 2 helai dan terbesar yang dipegang kemudian ditarik, maka tercabutlah bibit tanpa rusak. Sebaliknya tidak boleh batangnya dipegang karena batang masih dalam keadaan lemah.























BAB IV
PENGOLAHAN TANAH

A.PENGOLAHAN TANAH
Untuk mencapai nilai pengolahan tanah yang intensif, hendaknya dilaksanakan seawal mungkin, sesaat sesudah tanaman sebelumnya dipanen, agar tanah mempunyai waktu cukup untuk penguapan asam-asam tanah. Persiapan dan pengolahan tanah di kebun perlu memperhatikan jadwal semai dan umur bibit pindah taman. Umur bibit pindah taman adalah 35 – 55 hari, sedangkan lama persiapan tanah yang baik untuk siap taman adalah dua bulan (60 hari ). Jadi, persiapan dan pengolahan tanah adalah 25 – 55 hari sebelum semai, tergantung pada umur bibit yang akan dipindah taman.
Sebelum tanah diolah dibiarkan kering selama 1 bulan (diberokan) Brujulan dilakukan seawal mungkin, guna memperoleh derajat keasaman yang tepat, sebab sawah yang ditanami padi mempunyai derajat keasaman (pH) 4-5, sedangkan untuk tanaman tembakau agar dapat hidup baik memerlukan pH sekitar 6. Kenaikan pH dapat diperoleh dengan pengolahan tanah secara baik dan diangin-anginkan selama mungkin.
Pengolahan tanah diolah yang pertama dibajak dengan traktor atau dengan bajak yang ditarik hewan. Pembajakan tanah dilakukan sedalam 40 cm-60cm karena perakaran tanaman tembakau cukup dalam. Dengan pembajakan itu, bagian tanah yang berada di dalam dapat terbalik dan terangkat ke atas ( ke permukaan ) Pembrujulan yang baik dilakukan paling sedikit tiga kali dan dilakukan sedalam mungkin.
Semakin sering tanah diolah semakin baikpengaruhnya terutama terhadap hasil dan kualitas serta secara tidak langsung pathogen dalam tanah ikut terbunuh oleh terik matahari.
Pada brujulan pertama, tanah hasil bajakan dibiarkan selama satu minggu agar bongkaran-bongkaran tanah dapat terangin-anginkan dan terkena panas sinar matahari. Perlakuan ini merupakan tindakan desinfection pada tanah secara alami karena terjadi proses pemasaman (oksidasi) zat zat beracun (asam sulfida) yang berasal dari dalam tabah. Dengan demikian, tanaman terhindar dari racun asam sulfida. Disamping itu, sumber-sumber penyakit, seperti jamur phytopthora nicotiabae yang dapat menyebabkan penyakit lanas pada tanaman tembakau dapat hilang.
Seminggu kemudian dilakukan lagi pengolahan tanah tahap kedua. Pada pengolahan tahap ke dua ini, tanah digemburkan dengan cangkul sehingga bongkahan-bongkahan tanah hancur dan diperoleh struktur tanah yang remah (gembur). Kemudian, tanah diratakan dan dibiarkan lagi selama satu minggu agar terangin-anginkan dan terkena sinar matahari.
Seminggu setelah pengolahan tanah yang kedua, tanah diolah lagi dengan dicangkul atau dibajak lagi. Tujuannya adalah membalik tanah kembali sehingga tanah berada di dalam permukaan lagi. Pada tahap tanah yang kedua ini dapat dilakukan pemupukan dasar dan pengapuran apabila kondisi tanah terlalu asam. Pemupukan dasar dilakukan dengan pupuk kandang yang telah terjadi. Pupuk kandang yang belum jadi masih mengeluarkan energi panas sampai 75 derajat selsius akibat masih berlangsungnya penguraian dan pembusukan. Di samping itu, upuk kandang yang belum jadi umumnya mengandung bibit-bibit penyakit. Dengan demikian pupuk kandang yang belum jadi dapat membahayakan mematikan tanaman. Pupuk kandang yang telah jadi memiliki struktur yang remah, tidak basah, dan tidak terlalu kering. Pupuk kandang sangat baik sebagai pupuk dasar karena dapat memperbaiki struktur tanah (daya ikat tanah menjadi baik), memperkaya bahan orbanik tanah , dan dapat menahan air dalam tanah. Dosis pupuk kandang adalah sebanyak 25 – 30 ton/ha. Adapun untuk pengapuran dapat dapat dilakukan dengan kapur tohor, kapur karbonat, atau kapur tembok. Selain itu dapat menggunakan kapur karbonat atau dolomit. Selanjutnya, tanah dibiarkan lagi selama satu minggu agar terjadi reaksi antara tanah, pupuk kandang, dan kapur
Seminggu sesudah itu dilakukan pengolahan tanah secara ringan sekaligus dibentuk bedeng-bedeng dan parit-parit. Bedeng berfungsi untuk tempat penanaman bibit dan parit-parir berfungsi untuk saluran irigasi dan drainase. Penanaman tembakau biasanya menggunakan baris tunggal, maka ukuran lebar bedeng tidak perlu terlalu besar, cukup selebar 40 cm dan tinggi bedengan juga sekitar 50 cm. Dengan demikian, tanaman tembakau terhindar dari genangan air hujan.
Jarak antar bedengan adalah 90 cm-100cm dan jarak antar guludan merupakan lebar parit. Jarak antar bedengan dapat pula dibuat 90 cm-100cm setiap dua baris tanaman atau guludan dan jarak dua guludan tersebut sekitar 50 cm. Dengan demikian, lebar parit pada dua guludan adalah 50 cm dan lebar parit setiap dua guludan 90 cm-100cm. Sekeliling petak-petak guludan (bedeng) dibuat saluran pembuangan air dengan lebar 60 cm dan dalam 60 cm. Arah bedengan yang baik adalah membujur arah timur- barat karena sinar matahari dapat diterima secara merata oleh seluruh tanaman. Setelah selesai pembuatan bedeng dan arit-parit, tanah dibiarkan lagi selama satu minggu agar terangin-angin dan terkena sinar matahari. Satu minggu kemudian tanah bedengan digemburkan lagi dengan dicangkul tipis-tipis. Pada tahap ini tanah telah siap ditanami.
Pengolahan tanah yang intensif dapat menciptakan media tanam yang baik sehingga pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil dapat meningkat. Pengolahan tanah yang intensif dapat meningkatkan peredaran udara (oksigen) di dalam tanah, meningkatkan tata air, meningkatkan penguraian zat-zat hara, meningkatkan aktivitas biologis tanah sehingga mempercepat proses penguraian bahan organic tanah (humus) menjadi zat yang bermanfaat bagi tanaman. Di samping itu, pengolahan tanah dapat menghilangkan zat- zat beracun di dalam tanah, tanah menjadi bersih dari tanaman lain dan rumput-rumput yang mengganggu pertumbuhan tanaman tembakau, kesuburan tanah terpelihara, dan memudahkan pemeliharaan tanaman di kebun



1. Pengolahan Tanah dengan Pembrujulan
Pembrujulan ditanah ringan dibuka tanpa dibasahi terlebih dahulu. Ditanah yang berat, bila terpaksa dibasahi, agar pembrujulan dilaksanakan pada kondisi tercapainya jangka olah, pembrujulan dilakukan sedalam lapis olah. Pengolahan terbagi menjadi dua tahap yaitu pembrujulan (pembukaan tanah) dan penggaruan (penghalusan), pojokan dicangkul. Setiap pasang sapi dapat menyelesaikan 1/8 Ha. Per hari kerja. Jadi 1 Ha memerlukan 8 pasang sapi, sehingga setiap Ha sampai pengolahan masak tergantung derajat beraat tanah memerlukan 24-32 pasang sapi

2. Pengolahan Tanah dengan Penebalan Lapis Olah dengan Penggarpuan
Mula-mula dilakukan pembrujulan/pembalikan setebal lapis olah, dipasang ajir (trocok) sesuai jarak larikan 70 x 100cm (jarak tanaman 100 x 70 x 45 cm ) atau jarak larikan 60 x 100 cm ( jarak tanaman 100 x 60 x 45 cm ). Tanah atas/tanah olah dengan jarak 60 cm atau 70 cm dikesampingkan dibentuk gudulan sementara dan pada waktunya ditanami sesuai jarak tersebut. Tanah dibawahnya digerjuk sedalam satu cangkul, jika masih mungkin lebih dalam pakai garpu. Saat gulud 1, setelah tanah gerjugan kering, tanah yang dikesampingkan dikembalikan lagi dan dibentuk guludan sesungguhnya. Tanah bagian bawah pada jaeak 100 cm digerjuk dan setelah kering saat gulud ll dibumbunkan sehingga guludan tambah tinggi

3. Pembersihan Sisa Tanaman
Sebelum dilakukan pembrujulan, sisa tanaman harus dikumpulkan ketepi dan dibakar. Dilarang membenamkan sisa-sisa tersebut karena dapat menjadi sarang hama antara lain ulat tanah disamping menjadi sumber penyakit

4. Penentuan Jarak Tanam
Setelah bedeng-bedeng siap ditanami, jarak tanam ditentukan dengan memberikan tanda dan setiap tanda dilubangi untuk tempat penanaman bibit. Jarak tanam yang ditentukan untuk budi daya tembakau dapat beragam menurut jenis/tipe tembakau yang ditaman dan tujuan dari penanaman. Jarak tanam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, pembentukan kualitas daun, dan jumlah produksi per satuan luas.
Menurut Voges (1984), tanaman tembakau yang ditanam dengan jarak tanam rapat (jumlah populasi 20.000 – 30.000 tanaman / ha) menghasilkan daun lebih kecil dari lapis. Apabila tujuan penanaman menghendaki daun yang tipis dan halus, maka jarak tanam harus rapat. Misalnya, jenis tembakau cerutu yang menghendaki daun tipis dan halus, maka jarak tanamnya adalah 90 cm x 70 cm.





















BAB V
PENANAMAN

A. PERSIAPAN TANAM
1. Persiapan Tanah
Sebelum sawah atau tegal ditanami tembakau terlebih dahulu perlu tanag dikeringkan kalau keadaan masih basah atau becek
Pematang dan talud petak sawah dibersihkan dari tumbuhan/rerumputan pengganggu (gulma) dan tanaman inang hama dan penyakit, mengurangi sumber hama dan penyakit serta serangga vaktor penyakit virus tembakau. Tanah dibrujul masak kemudian dihaluskan permukaannya sampai rata, sisa tanaman yang masih ketinggalan maupun yang semula tertimbun mudah ketahuan. Kemudian dibersihkan dari sisa tanaman yang masih ketinggalan.
Selokan-selokan digali, kemubian tanah dibuka dengan cangkul atau bajak, sehingga lapisan atas tanah dibuka dan dibalik. Tanah yang terbuka ini dibiarkan selama 7 sampai 10 hari supaya gumpalan tanah yang sudah terbalik mendapatkan sinar matahasi secukupnya. Kemudian tanah dibagi-bagi menjadi jalur-jalur dengan lebar 1 m sampai 1,20 meter.Kalau perlu dapat digali selokan-selokan agar air mudah dibuang.

2.Pemasangan Patok Kepala dan Tanaman
Patok kepala dari bambu yang dibelah di tancapkan cukup kuat, bagian di atas tanah yang setinggi 1 meter dikapur putih. Patok kepala menjadi patok pangkal bagi patok tanaman. Jarak antara patok kepala latikan tunggal 9 meter, larikan ganda 15 meter. Pemasangan patok tanaman (tracok atau ajir tanaman adalah larikan ganda dengan ukuran 100 cm x 70 cm, atau 100cm x 60 cm. Arah larikan untuk medan datar arahnya utara selatan, untuk medan miring/ bergelombang sejajar garis tinggi (kontur) atau tegak lurus miringnya tanah. Untuk tali tanam (kenca) dipersiapkan terlebih dahulu sesuai sistim larikannya. Tiap Ha dibutuhkan 2 gulung.
3. Cara Penanaman
Pemindahan bibit dari persemaian ke kebun harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman. Perakaran yang rusak dapat menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan dapat meyebabkan kematian tanaman. Pemnindahan bibit tembakau ke kebun tergantung pada cara penyemaian bibit. Perpindahan bibit yang berasal dari kantong polybag lebih mudah dilakukan, kani sebelum bibit diambil dari kantong polybag hendaknya dibasahi terlebih dahulu. Selanjutnya bibit beserta tanahnya dikeluarkan dari kantong polybag. Caranya kantong polybag dibasahi terlebih dahulu agar tabah media semai tetap menyatu dengan bibit. Kemudian, kantong plastik dirobek dengan pisau atau catter dan bibit bersama tabahnya dikeluarkan. Dengan demikian, perakaran tanaman tidak rusak. Caranya memindahkan bibit yang berasal dari kotak pesemaian atau dari bedeng pesemaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Sistem cabutan : sebelum bibit dicabut, tanah pesemaian dibasahi terlebih dahulu untuk memudahkan pencabutan. Kemudian, bibit dicabut dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran. Pencabutan bibit dari bedengan ini tidak menyertakan tanahnya.
b. Sistem putaran : sebelum bibit dicabut, tanah pesemaian dibasahi terlebih dahulu untuk memudahkan pencabutan. Pencabutan dapat dilakukan dengan cangkul atau cetok. Dengan demikian, bibit beserta tanahnya dapat terambil.
Lubang tanah dipersiapkan dengan membuat titik-titik sesuai dengan jarak tanam. Jarak tanam untuk lahan datar maupun lahan bergelombang bervariatif tergantung pada kondisi lahan, umumnya jarak tanam yang dipakai berukuran 60 x 90 cm : 65 x 90 cm. Kemudian, pada titik-titik tersebut dibuat lubang sedalam kira-kira 10 cm-15 cm dan diameternya sekitar 8 cm. Untuk penanaman bibit tembakau di tanah tegalan (tanah kering) sebelum bibit ditanam sebaiknya disiram terlebih dahulu agar tabahnya agak lebih lekat dan longgar. Dengan demikian, bibit yang ditanamkan dapat berdiri dengan kuat. Pada penanaman bibit tembakau di tanah sawah, penyiraman dapat dilakukan dengan cara leb. Lubang tanam sebaiknya diberi insektidiga untuk mencegah serangan serangga yang dapat merusak bibit yang baru ditanam.
Cara penanaman bibit tembakau gigi walang dan dilakukan dengan cara membenamkan ke dalam lubang tanam sedalam leher akar. Cara penanaman mundur kebelakang, agar dapat memperhatikan luruanya larikan dengan melihat bibit yang telah tertanam didepannya. Menanam jangan terlalu dekat dengan pematang minimum 45 cm. Dengan tangan kiri memegang bibit, dan tangan kanan membuat lubang dibagian lubang tanam yang gembur dan bibit ditamankan. Akar tunggang harus lurus menuju ke bawah dan tidak boleh bengkok. Dengan tangan kanan tanah disekeliling bibit ditekan, supaya bibit berdiri tegak dengan kuat
Bibit tembakau yang berasal dari kantong polybag dapat dimasukkan ke dalam lubang tanam beserta tanahnya. Demikian pula, bibit yang berasal dari kotak pesemaian ataupun bedengnya pesemaian yang pencabutannya dengan system putaran dapat dimasukkan ke dalam lubang tanam beserta tanahnya. Akar-akar bibit yang telah dimasukkan ke lubang tanam diatur, terutama bibit yang berasal dari cabutan. Kemudian lubang tanam diurug dengan tanah dan ditekan-tekan sedikit agar tanaman dapat berdiri tegak dan kuat.
Penyiraman bibit dapat dilakukan setelah selesai penanaman. Di daerah yang memiliki irigasi teknis, penyraman dapat dilakukan dengan system leb. Adapun penyiraman bibit di daerah yang tidak memiliki irigasi teknis dapat dilakukan dengan gembor berluang halus. Dalam melakukan penyiraman pupusnya tidak boleh kena iar, cara menyiramkan air dari gembor harus dilakukan dekat dengan permukaan tanah.

4. Waktu Tanam.
Penanaman bibit tembakau pada pagi hari, siang hari, atau sore hari sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit. Penanaman yang dilakukan pada siang hari saat matahari terik dapat menyebabkan bibit layu atau mati. Sebab akar bibit yang baru ditanam belum dapat berfungsi sempurna dalam penyerapan ait tanah dan laju transpirasi ( penguapan air tanaman) berjalan sangat cepat. Dengan demikian, tidak tercapai keseimbangan antara jumlah air yang dapat oleh tanaman dan proses transpirasi yang terjadi pada tanaman. Akibatnya, tanaman menjadi layu dan mati. Untuk mencegah kelayuan pada bibit yang baru ditanam, penanaman hendaknya dilakukan pada sore hari setelah pukul 15. 00 atau pada pagi harinya pukul 0.9.00. Dengan demikian, pada siang harinya tanaman sudah kuat.
Jenis Tembakau Voor – Oogst ini penanaman dilaksanakan pada akhir musim penghujan atau dapat juga disesuaikan prakiraan awal dan sifat musim kemarau pada musim tanam tahun yang bersangkutan yaitu antara bulan Mei s/d Juni

5. Penyulaman
Seminggu setelah bibit ditanam di kebun harus dikontrol karena tidah semua bibit dapat tumbuh dengan baik. Beberapa bibit pasti ada yang mengalami gangguan sehingga pertumbuhannya kurang baik, misalnya tumbuh kerdil, kurus, atau bahkan mati. Tanaman yang tumbuh kurang baik atau mati harus diganti dengan tanaman yang baru agar jumlah populasi tanaman dapat dipertahankan sehingga tidak menurunkan hasil. Penggantian tanaman yang rusak dengantanaman yang baru ini disebut dengan penyulaman.
Penyulaman dapat dilakukan beberapa hari setelah penanaman apabila terdapat bibit yang pertumbuhannya kurang baik atau mati. Bibit sulaman harus diambil dari bibit cadangan uang telah dipersipaknan sebelumnya. Penyemaian benih untuk bibit sulaman dilakukan bersamaan dengan benih-benih yang lain bukan cadangan. Dengan demikian, besar dan pertumbuhan bibit sulaman sama dengan bibit- bibit yang ditanam di kebun sehingga pertumbuhannya tetap seragam.
Penyulaman dapat dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang rusak atau mati. Tempat bekas cabutan dibersihkan dan diberi obat pemberantas hama atau penyakit bila ditemukan patogen yang bersarang ditempat tersebut. Kemudian, bibit yang baru ditaman pada lobang tanaman yang terdahulu dan diurug tanah sambil ditekan sedikit hingga posisi tanaman berdiri tegak dan kuat. Setelah tanaman, bibit tembakau disiram air secukupnya. Waktu penyulaman yang baik adalah pada sore hari atau pagi hari. Penyulaman terakhir dilakukan pada tanaman umur 3 minggu setelah tanam atau sebelum tanaman mencapai tinggi 20 cm. Penyulaman yang dilakukan pada umur 3 minggu setelah taman umumnya tidak banyak membawa hasil.

























BAB VI
PEMELIHARAAN TANAMAN

A.PENGGULUDAN
Pada dasarnya pengguludan adalah untuk memperkokoh pertumbuhan tanaman dan dilaksanakan sekurang kurangnya tiga kali yaitu bersamaan dengan pemupukan pertama dan kedua atau ditambah satu kali perlakuan yaitu pendangiran awal
Penguludan pertama dimulai pada tanaman berumur 8 – 10 hari dan harus selesai pada umur 14 hari atau menurut keadaan. Pada saat mulai gulud satu adalah apabila pada siang hari tanaman tetap segar dan telah mulai keluar daun baru. Pengguludan ada dua macam yaitu :
1. Pengguludan geger sapi.
Pengguludan ini dilakuan sedemikian rupa, sehingga batang tanaman tidak kelihatan, yang kelihatan hanya pupus dan satu dua daun besar, sedang daun-daun bawah ditutup dengan tanah. Hal ini perlu supaya mempercepat pembentukan akar baru yang bayakk dan untuk memperkuat tumbuh. Guludan harus lurus dan tinggi kurang lebih 20 cm. Waktu menggulud satu sekaligus dilakukan penyiangan satu, waktu penyangan got-got harus dibersihkan
2. Pengguludan kuping kuda atau tutup kaki pada cuaca basah
Pada keadaan cuaca yang demikian basah perlu sekali tutup kaki atau pengguludan tinggi. Tutup kaki harus dilakukan dengan baik yang merupakan kuping kuda, cukup dalam, batang tertutup rapat oleh tanah, tinggi satu atau dua daun besar dan pupus. Dikerjakan tepat waktu/tidak terlambat sesuai keadaan tanaman
Pengguludan kedua dilakukan pada umur 18 – 20 hari. Sekaligus dengan penyiangan II. Tinggi guludan kedua kurang lebih 45 cm. Gulud II harus baik supaya gulud ke III tidak perlu dilakukan. Jika kurang lapisan tanah atas, dapat diambilkan dari tanah got sehingga got-got diantara guudan dapat diperlebar harus ngantong. Pengguludan ke III dilakukan sesudah petik kebersihan pada 31 hari. Sekaligus sambil membuang rumput

B. PEMUPUKAN
Pemupukan merupakan pemberian unsur makan kepada tanaman. Pemberian unsur-unsur makanan kepada tanaman harus dilakukan dengan benar dan tepat sebab pemberian makanan yang kurang atau berlebihan dapat menyebabkan produksi tanaman yang rendah.
Pemupukan pada kegiatan pemeliharaan merupakan pemberian makan yang kedua kalinya. Pemberian makanan yang pertaman adalah pemupukan dasar yang diberikan pada saat pengolahan tanah. Pemupukan pada kegiatan pemeliharaan ini disebut pemupukan susulan.
Pemupukan sesulan umumnya dilakukan dua kali sehingga dikenal pemupukan susulan satu dan pemupukan susulan kedua. Jenis pupuk yang digunakan untuk pemupukan adalah pupuk kimia (pupuk anorganik), misalnya pupuk nitrogen (N), pupuk fosfat (P), pupuk kalium (K). Peranan pupuk NPK adalah untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil, pupuk NPK ini hanya tersedia sedikit di dalam tanah ataupun di dalam pupuk kandang, padahal kebutuhan tanaman akan pupuk NPK sangat besar. Oleh karena itu, kekurangan tersebut harus ditambahkan dari luar dalam bentuk pupuk buatan pabrik yang siap diserap oleh tanaman
a. Nitrogen
Hara nitrogen berperan meningkatkan pertumbuhan vegetatif, seperti batang, daun, perakaran, dan pembentukan sel-sel baru. Selain itu, zat hara nitrogen digunakan untuk pembentukan klorofil atau zat hijau daun dan meningkatkan kemampuan tanaman menyerap hara laian (fasfor, Kalium, dan laian-lain). Jenis pupuk nitrogen dapat diperoleh dalam bentuk ammonium, yaitu ZA atau urea, atau dalam bentuk nitrat, patosium nitrat (PN), atau Chilean Patosium Nitrat (CPN). Menurut Sastrosupadi (198) yang dikutip oleh Djajadi (1992), tanaman stadis muda lebih banyak menyerap N dalam bentuk ammonium. Sebaliknya, tanaman pada stadia tua lebih banyak menyerap N dalam bentuk nitrat. Oleh karena itu, pemberian pupuk nitrogen dalam bentuk ammonium sebaiknya dilakukan pada awal pertumbuhan dan pemberian pupuk nitrogen dalam bentuk nitrat sebaiknya dilakukan pada stadia pembentukan hasil.
Tanaman tembakau yang kekurangan atau kelebihan nitrogen akan mengalami penurunan produksi dan kualitas daun. Misalnya pada tembakau cerutu akan diperoleh krosok warna-warna yang tua, pucat, dan berminyak pada tembakau Virginia akan diperoleh krosok yang kropos dan pengolahannya sukar. Kelebihan nitrogen pada tanaman yang masih di kebun menyebabkan pertumbuhan cepat dan daun-daunnya terlambat masak. Sebaliknya, apabila kekurangan nitrogen, tanaman akan tumbuh lambat dan krosok yang diperoleh bermutu rendah. Ciri-ciri tanaman yang kekurangan nitrogen adalah warna daun pucat kekuning-kuningan
b. Fosfat (P)
Peranan zat hara fosfat pada tanaman adalah untuk pertumbuhan akar. Pembentukan bunga, pembentukan buah dan biji, meningkatkan daya tahan terhadap penyakit daun, meningkatkan hasil dan mutu. Apabila tanaman kekurangan unsure P menyebabkan system perakaran tidak berkembang baik sehingga tanaman tidak mampu menyerap unsur hara. Akibatnya, tanaman tumbuh kredil, daun berwarna hijau tua hingga kebiru-biruan, dan daun masak terlambat. Tanaman yang amat kekurangan unsur P, daunnya akan berukuran kecil dan panjang. Sebaliknya, tanaman yang kelebihan unsure P, mutu daun setelah pengolahan menurun karena krosoknya berwarna cokelat tua hingga merah, tipis, dan kurang elastis.
c.Kalium (K)
Unsur kalium berperan dalam pembentukan bunga dan klorofil, meningkatkan daya tahan terhadap penyakit, mencegah kalayuan karena dapat meningkatkan daya serap air, meningkatkan hasil dan mutu daun tembakau, meningkatkan daya pijar (bakar) daun tembakau yang dihasilkan, pembentukan zat gula, dan dapat mengatur keseimbangan pupuk nitrogen dan fosfat. Tanaman yang kekurangan unsure kalium menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, daun berkerut dan kasar, timbul gejala klorosisi (belang-belang) pada permukaan daun, dan timbulnya bercak-bercak melingkar karena jarring-jarinan daun mati. Kelebuhan unsure kalium menyebabkan daun-baun tembakau menjadi tipis dan rapuh
Jenis-jenis pupuk kimia (anorganik) yang biasa digunakan untuk pemupukan susulan adalah pupuk urea dan ZA yang mengandung unsure N dalam bentuk ammonium, potasum nitrat (PN), Chilean Potasium Nitrat (CPN), Kalium Nitrat yang mengandung unsure N dalam bentuk nitrat, Pupul TSP, DSP (Double Super Phosphat), yang mengandung unsure fosfat, pupuk ZK, KCL yang mengandung unsure kalium
Karena tembakau merupakan quality product, maka pemupukan harus dilakukan dengan cermat. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah pH tanah, jenis tembakau, macam pupuk, waktu pemupukan, dan cara pemupukan.

1. Waktu Pemupukan
Waktu pemupukan yang tepat adalah menurut fase pertumbuhan tanaman dan jenis pupuk yang digunakan. Untuk pupuk kandang, waktu pemupukan yang baik adalah bersamaan dengan pengolahan tanah (pada saat pembentukan bedeng). Pupuk fosfat diberikan sekali, yaitu pada saat tanam. Pemupukan dengan pupuk nitrogen dan upuk kalium dilakukan tujuh hari setelah tanam dan 28 hari setelah tanam. Dosis yang diberikan masing-masing setengahnya. Dosis pupuk sangat tergantung pada varietas tanaman dan kondisi tanah

2. Cara Pemupukan
Pupuk kandang dapat diberikan dengan cara ditabur merata pada permukaan tanah, kemudian dicangkul tipis-tipis agar bercampur dengan tanah. Pupuk fosfat (TSP) dapat diberikan pada saat tanam dengan cara ditaburkan pada permukaan tanah hingga merata, kemudian tanah diberi air agar pupuk larut dan bercampur dengan tanah. Pupuk nitrogen dan pupuk kaliumdapat diberikan secara bertahap. Pemberian pupuk nitrogen dan kalium dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Dibuatkan lubang di dekat tanaman jarak sekitar 10 cm dari batang. Kemudian, pupuk dimasukkan ke dalam lubang tersebut dan ditutup tanah lagi
b. Dibuatkan lubang setengah lingkaran di sekitar tanaman dengan jarak sekitar 10 cm dari batng. Kemudian pupuk dimasukkan ke dalam lubang tersebut dan ditutup tanah kembali
c. Dibuatkan parit kecil (galur) memanjang di antara barisan tanaman. Kemudian, pupuk dimasukkan ke dalam parit- parit tersebut dan ditutup tanah kembali
Pada dasarnya pemupukan adalah dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta untuk mencapai tingkat produktivitas. Sedangkan dalam pelaksanaannya baik dosis dan cara pemupukan bervariatif, tetapi sebagai pedoman secara umum pelaksanaan pemupukan sebagai berikut :
1. Dosis dan jenis pupuk
Pupuk SP.36 : 100 – 200 kg /ha
Pupuk Z.A : 175 – 200 kg/ha
Pupuk Z.K : 125 – 200 kg/ha
2. Saat pemupukan/pemberian pupuk
Pupuk SP.36 : diberikan dalam satu kali pemupukan yaitu 1 s/d 5 hari sebelum tanam
Pupuk Z.A : diberikan dalam dua kali pemupukan yaitu pada umur 7 hari dan 21 hari setelah tanam
Pupuk Z.K : diberikan dalam satu kali pemupukan yaitu pada umur 7 hari setelah tanam
3. Cara pemupukan dapat dilaksanakan dengan ditugal atau dengan cara melingkar.
Khususnya untuk dosis pupuk dapat disesuaikan dengan keadaan jenis tanis tanah dan tingkat kesuburannya.


C. PENGAIRAN
Pengairan dilakukan 7 hari setelah tanam dengan jumlah air sedikitnya 1 – 2 liter/tanaman. Kemudian, saat tanaman berumur 7 – 25 hari setelah tanam, frekuensi penyiraman adalah 3 – 5 hari sekali dengan jumlah air sekitar 3- 4 liter/tanaman. Pada umur 25 – 30 hari setelah tanam, frekuensi pemberian air dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah sekitar 4 liter/ tanaman. Pada umur 45 hari setelah tanam, pertumbuhan tanaman akan sangat cepat. Oleh karena itu, kebutuhan air pada fase ini meningkat, maka frekuensi pemberian air 3 – 5 hari sekali dengan jumlah sekitar 5 liter/tanaman. Selanjutnya, pada umur 65 hari setelah tanam (periode panen), tanaman sudah tidak memerlukan penyiraman lagi, kecuali bila keadaan cuaca sangat kering
Cara pemberian air di daerah yang beririgasi teknis dapat dilakukan dengan cara leb beberapa waktu hingga bedeng-bedeng tempat tabaman cukup basah. Kemudian air dikeringkan kembali dengan membuangnya melalui saluran drainase. Adapun pada daerah yang tidak beririgasi teknis, penyiraman dapat dilakukan dengan gembor. Di perkebunan-perkebunan besar yang tidak beririgasi teknis, penyiraman tanaman dapat dilakukan dengan metode sprinkle irrigation yaitu system pengairan yang menggunakan penyemprotan bertekanan tinggi. Sumber air dapat diperoleh dari pengeboran sumur-sumur lading dan artetis
Air dapat memberikan manfaat yang besar terhadap usaha pertanian, tetapi juga dapat membawa resiko yang merugikan jika penggunaan sumbernya salah. Oleh karena itu, sumber air harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
a. Sumber air bukan berasal dari sungai yang tercemar limbah industri. Karena limbah industri mengandung zat-zat beracun yang dapat mematikan tanaman.
b. Sumber air harus sehat. Artinya tidak mengadung garam-garam, asam-asam, kuman-kuman penyakit, dan laian-laian. Oleh karena itu, sumber air yang akan digunakan harus teliti terlebih dahulu, terutama air yang bersumber dari sungai.
c. Air yang digunakan tidak berasal dari rawa, danau, atau comberan. Karena air rawa memiliki derajat keasaman rendah dan mengandung asam organic tinggi yang dapat meracuni tanaman. Adapun air comberan umumnya mengandung banyak kuman penyakit yang membahayakan tanaman.

D. PENDANGIRAN DAN PENYIANGAN
Pendangiran merupakan kegiatan pengolahan tanah secara ringan disekitar tanaman. Tujuan pendangiran adalah menggemburkan tanah yang telah diolah sehingga sirkulasi udara didalam tanah berjalan lancar. Dengan demikian, kebutuhan oksigen untuk pernafasan akar dan aktivitas organisme di dalam tanah tercukupi. Pendangiran dapat dilakukan dua kali atau lebih, tergantung pada kondisi tanah. Pendangiran yang pertama dapat dilakukan pada waktu tanaman berumur 2 –3 minggu dan pendangiran selanjutnya dilakukan selang 2 minggu. Selain pendangiran, hendaknya dilakukan pembumbunan, yaitu meninggikan tanah sekitar tanaman. Waktu pembumbunan dilakukan bersamaan dengan pendangiran.
Penyiangan adalah kegiatan pembersihan tanaman penganggu (gulma) yang tumbuh di sekitar tanaman. Kegiatan penyiangan ini dilakukan bersamaan dengan pendangiran dan pembumbunan. Jenis- jenis tanaman yang tumbuh disekitar tanaman umumnya adalah jenis- rumput-rumputan. Rumput-rumputan ini jika tidak dibersihkan dapat menjadi pesaing bagi tanaman tembakau sehingga dapat menurunkan produksi. Karena sebagian zat makanan, air oksigen, karbondioaksda diserap oleh rumput-rumput tersebut sehingga kebutuhan makanan (nutrisi) bagi tembakau tidak mencukupi. Akibatnya, pertumbuhan tanaman tidak optimal yang menyebabkan produksi menurun.
Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan cara dicabut atau secara kimia dengan menggunakan bahan kimia (herbisida) yang disemprotkan pada rumput-rumput yang tumbuh di sekitar tanaman dan selokan.

E. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Sebagaimana diketahui komoditi tembakau Voor- Oogst adalah tergolong Fancy product yaitu komoditi cantik yang berkualitas baik antara lain harus merupakan daun/krosok yang utuh tanpa lubang/ robek antara lain disebabkan serangan hama penyakit. Beberapa hama dan penyakit yang dapat menyerang tembakau baik dipersemaian, di tanaman maupun di tembakau yang sedang disimpan atau diangkut adalah :
1. Berbagai jenis cacing yang merusak akar. Dapat diberantas dengan obat, missal VAPAM. Oleh karena itu tidak dibenarkan menanam tembakau beberapa tahun berturut- turut di tanah yang sama
2. Berbagai jenis ulat dan orong-orong yang merusak akar. Pemberantasannya sama dengan memberantas cacing di dalam tanah
3. Ulat-ulat pemakan daun, merusak batang diberantas dengan Thiodan atau arkotin
4. Serangga yang banyak mengakibatkan kerugian krosok yang disimpan yaitu kumbang lasioderma dengan uretnya. Pemberantasannya dengan racun yang berupa cairan atau pil maka perlu dijaga kebersihan di dalam gudang
Hama dan penyakit merupakan organisme pengganggu yang dapat menginfeksi dan merusak tanaman tembakau. Tanaman tembakau yangtelah terinfeksi hama dan penyakit tidak akan dapat membentuk hasil yang baik karena pertumbuhannya terganggu. Walaupun factor-faktor teknis budidaya telah dilakukan dengan baik. Kerugian akan dapat bertambah besar apabia usaha perlindungannya kurang diperhatikan.
Perlindungan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit dapat berhasil baik apabila dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengetahui gejala yang ditimbulkan oleh penyebabnya. Setiap jenis hama dan penyakit menimbulkan gejala yang spesifik. Pengawasan terhadap serangan hama hingga menjelang panen. Pengamatan yang teliti terhadap gejala serangangan organisme pengganggu bertujuan menemukan kerusakan tanaman dan penyebabnya secara dini. Dengan demikian, penularan hama atau penyakit ke tanaman lain dapat segera diatasi. Pengawasan hama dan penyakit ini sangat penting dalam arti merialisir azas pencegahan adalah lebih penting dari pada pemberantasan serta perlunya mengembangkan system pengendalian sedini mungkin karena serangan hama dan penyakit terhadap tanaman tembakau seringkali terjadi secara mendadak dan cepat sekali meluas ketanaman lain.
Untuk kegiatan perlindungan tanaman yaitu dengan menerapkan pengendalian hama terpadu dilakukan secara menyeluruh yaitu sejak dimulai dari persemaian, pembibitan, tanaman muda sampai dengan tanaman siap dipanen. Sedangkan penggunaan pestisida adalah merupakan alternative yang terakhir dan diupayakan seminimal mungkin, dan sebaiknya jenis pestisida yang sistemik. Upaya pencegahan meliputi :
1. Terhadap gulma mulai dari pengolahan tanah sampai di pertanaman dilakukan pembersihan dan penyiangan
2. Terhadap hama mulai dari pembibitan sampai dipertanaman dilakukan dengan upaya preventif
3. Terhadap penyakit mulai dari pengolahan tanah sampai dipertanaman dilakukan sanitasi lingkungan
Maka dalam hal ini termasuk pula mewujudkan sanitasi yang baik dan upaya pencegahan/ penanggulangan penyakit virus termasuk berupa :
a. Pemakaian larutan pencuci tangan TNP + sabun hijau untuk penanggulangan penyakit mosaik tembakau
b. Pemberantasan tanaman sumber penyakit dan inang serangga vaktor penyebab virus
c. Mewujudkan dan meningkatkan sanitasi lahan pertanaman
Pengobatan (peracunan)yang dilakukan sistem terjadwal adalah upaya untuk menjaga / melindungi tanaman agar tidak diganggu/diserang oleh hama dan penyakit yang merugikan. Upaya ini lebih dititik beratkan pada :
a. Cara preventif, yaitu tindakan pencegahan yang dilakukan sebelum tanaman terserang hama dan penyakit. Tindakan yang dapat dilakukan adalah pengolahan tanah secara intensif., menanam sesuai dengan musim tanam, jarak tanam yang sesuai dan teratur, pengairan yang teratur dengan air yang sehat, dan pergiliran tanaman. Tindakan pencegahan sangat baik dilakukan karena tidak menimbulkan pencemaran lingkungan hidup.
b. Cara kuratif, yaitu tindakan pengobatan karena tanaman telah terserang hama atau penyakit dan sekaligus mengendalikan hama atau penyakit yang menjadi penyebabnya.
Untuk ini disiplin waktu dan tindakan aplikasi sangat penting dalam pengendalian system berjadwal disamping fleksible dalam bertindak mengingat harus tanggap terhadap perubahan cuaca yang memerlukan penyesuaian tindakan berupa ekstra peracunan. Penyakit tanaman yang sering timbul disebabkan oleh cendawan/jamur dicegah/diberantas dengan dithane, juga dengan obat yang sama terhadap penyakit yang kadang-kadang timbul yaitu penyakit rebah semai disebabkan pythium sp, dan kolot kering disebabkan Rhizoctonia sp. Hama tanaman dicegah/ diberantas dengan insektisida thiodan 35 EC
Usaha peracunan dikatakan betul, bila keadaan tanaman utuh tidak ada serangan hama dan penyakit, sehingga % bahan pembalut dan pembungkus bisa lebih banyak. Tugas ini mencakup pengertian pengendalian perlu dilaksanakan sejak dari pembukaan lahan, persiapan pembibitan, pemeliharaan pembibitan, persiapan tanam, pemeliharaan tanaman, bahkan perlu secara mekanis (pencarian ulat + telur) dan jika terpaksa kimiawi sampai daun tembakau siap panen. Kalau dari pembibitan sudah terserang hama dan penyakit karena peracunan yang tidak betul, maka hasil akhir dari panen tembakau tidak sesuai dengan harapan, dan bahkan akan berakibat fatal
Peracunan biasa. Setelah tanaman berumur 35 hari atau mungkin pada umur lebih muda tergantung tingkat pertumbuhan tanaman, tindakan pengendalian dilanjutkan dengan cara mekanis yakni dengan melakukan pebcarian hama utama yaitu ulat daun dan sarang telurnya yang diletakkan di helai daun sebelah bawah serta ulat pupus.
Jika tidak dalam keadaan terpaksa selebihnya umur 35 hari pencegahan tidak lagi secara kimiawi, pengobatan tanaman tembakau dengan pestisida memang sangat efektif, tetapi dapat mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan. Pestisida dapat membunuh musuh-musuh alami hama dan orgamisme yang bermanfaat lain seperti serangga yang membantu penyerbukan tanaman meracuni hewan piaraan di sekitarnya, dan dapat meracuni konsumen.Dalam menggunakan pestisida harus mengingat kemungkinan akan terjadi obat tersisa sebagai residu dalam krosok yang dikonsumsikan diluar negeri yang kemungkinan dapat menimbulkan masalah dalam pemasarannya sehingga dalam keadaan normal 15 – 20 hari sebelum panen tidak lagi dilakukan peracunan.
Untuk menekan damak negatif penggunaan pestisida, penggunaan pestisida harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Pestisida hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu (keadaan terpaksa) saja, yakni bila pengendalian dengan cara lain sudah tidak mungkin dilakukan lagi
b. Pestisida harus digunakan dengan dosis yang tepat sesuai dengan stadia hama atau penyakit yang akan dikendalikan
c. Penggunaan pestisida harus selektif, yaitu hanya menggunakan pestisida yang mematikan hama dan penyakit yang ingin dikendalikan atau diberantas.
Peracunan tanaman dibedakan menjadi peracunan biasa (peracunan dengan sikon normal) dan peracunan luar biasa (peracunan dengan sikon tidak normal). Peracunan biasa meliputi :
a. Pengendalian kimiawi yaitu pengedalian /pencegahan/ pemberantasan sampai 35 hari dengan pemakaian pestisida cara kimiawi seperti bagan sebagai berikut :








Tabel 5.1 Pengendalian Secara Kimiawi
Apli
kasi Umur setelah
Tanam (hari) Dosis pestisida /knapsack sprayer (isi 14 liter) Rata-rata kapasitas
knapsack sprayer (pohon)
Merk Saval Hobra Merk Swan
1



2
3
4
5
6
7 5



10
15
20
25
30
35 Thiodan 35 EC : 56 cc.
Dithane M-45/
Manzate 200:28gr
- sda-
- sda-
- sda-
-sda-
-sda-
-sda- 2.150



2.150
1.900
1.900
1.900
1.900
1.900 1.260



1.240
1.120
1.050
900
860
850

b. Pengendalian dengan cara mekanis (pencarian ulat dan telur)
Setelah umur 35 hari bahkan kemungkinan sering bergantung keadaan pertumbuhan tanaman pengendalian dilakukan dengan cara mencari ulat dan sarang telur seperti diuraikan dimuka
Peracunan luar biasa (peracunan dengan sikon tidak normal) dilakukan jika ada kecenderungan peningkatan popilasi hama utama ulat daun di atas umur 35 hari, jika tajuk tanaman masih kecil tetap memakai sprayer biasa, kalau tajuk sudah saling menutup dengan mist blower suaya cepat dan tidak merusak daun. Jika sudah dapat teratasi pengedalian selanjutnya dengan cari ulat dan sarang telur. Adapun bagan peracunan sebagai berikut :


Tabel 5.2 Pengendalian Secara Mekanis
Apli
kasi Umur
setelah
Tanam
(hari) Dosis pestisida /knapsack sprayer (isi 14 liter) mist blower isi : 10 liter (cc/gr) Rata-rata kapasitas
knapsack sprayer dan mist blower (pohon)
Merk Saval Hobra Merk Swan
Knapsack Sprayer
1 5 Thiodan 35 EC:56cc 2.150 2.260
Dithane M-45/
Manzata 200 :28gr
2 10 -sda- 2.150 1.240
3 15 -sda- 1.900 1.120
4 20 -sda- 1.900 1.105
5 25 -sda- 1.900 900
6 30 -sda- 1.900 860
7 35 -sda- 1.900 850

Misi Blower Merk Kwh Merk Meruyama
8 40 -sda- 860 1.040
9 45 -sda- 810 970
10 55 -sda- 795 890
11 55-57 -sda- 725 770
12 64-65 -sda- 680 690

F. PEMANGKASAN(TOPPING)
Topping atau tokokkan dilakukan setelah petikan daun koseran, dan setelah topping sebaiknya diikuti dengan wiwilan pengaruh pemangkasan atau topping jelas meningkatkan ketebalan daun dan kadar nikotin dalam tembakau. Pemangkasan pada tanaman tembakau menimbulkan akibat tumbuhnya tunas atau sivilan. Tunas-tunas ini harus dibuang karena merusak produksi dan kualitas daun. Pembuangan tunas ini dilakukan bilamana ukurannya sudah 4 cm panjangnya dilakukan dengan cara dipetik dengan tangan.
Kadang-kadang pemangkasan dilakukan begitu kuncup bunga mulai keluar. Pemangkasan terbaik dilakukan bila ditunggu dahulu sampai bunga pertama mulai mekar.
Pertanaman yang tumbuh jelek di tanah yang subur sebaiknya dipangkas dalam, walaupun jumlah daunnya tinggal sedikit akan tetapi ukurannya cukup besar. Bila tanaman tumbuhnya subur pemangkasan dalam merugikan, karena disatu pihak hasilnya berkurang dan dilain pihak daunnya terlalu sebal dan pembuangan tunas dilakukan terlalu sering yang merupakan pekerjaan ekstra.
.
















BABVII
PANEN DAN PASCA PANEN

A. PANEN
Penanganan panen tembakau yang tidak tepat dan tidak benar dapat menyebabkan daun tembakau bermutu rendah. Oleh karena itu, penanganan panen dan penanganan pasca panen harus dilakukan dengan baik dan benar. Penanganan panen tembakau Voor-Oogst terpusat pada bagian daunnya

1. Umur Panen.
Panen atau pemetikan daun tembakau yang dilakukan pada tanaman yang belum cukup umur akan menghasilkan daun berkualitas rendah. Daun tembakau berkualitas rendah jika diolah akan menghasilkan krosok yang berkualitas rendah, yakni berwarna hijau mati, kurang beraroma, warnanya coklat tua, dan kisut sehingga harga dipasaran rendah. Adapun daun tembakau yang dipetik telah lewat umur, daunnya sudah terlalu tua yang dicirikan dengan warna kuning tua hingga kecoklatan akan menghasilkan krosok yang bermutu rendah. Krosok yang bermutu rendah memiliki elastisitas rendah, bila dipegang mudah rapuh, aromanya berkurang, setelah pengeringan warna daun tidak menarik ( berwarna merah tua), dan seringkali daun mudah mengalami kebusukan sebelum kering.
Pemetikan daun tembakau yang terbaik adalah jika tanaman sudah cukup umur dan daun-daunnya telah masak petik yang dicirikan dengan warna hijau kekuning-kuningan. Daun-daun yang demikian akan menghasilkan krosok yang bermutu tinggi dan aromanya tajam. Krosok tembakau yang bermutu tinggi mempunyai nilai jual yang tinggi.
Untuk golongan tembakau Voor- Oogst, pemungutan daun yang baik adalah pada tingkat kemasakan tepat masak atau hampir masak. Ciri-ciri daun masak duduk daun sudah sejajar atau duduknya pangkal daun sudah melintang pada batang, warna sudah berubah dari hijau mengarah kekuning-kuningan. Pemetikan pada tingkatan ini akan menghasilkan krosok yang berwarna merah kecoklatan dan elastis. Pemungutan daun muda ataupun daun yang terlalu tua akan menghasilkan krosok yang rapuh dan warna yang tidak menarik.

2. Cara Pemetikan
Pemetikan daun dengan cara memegang daun pada pangkal tangkainya dan mematahkan dengan dua kali gerak kekiri dan kekanan. Jangan sekali-kali mematahkan ke bawah yang dapat menyebabkan terkelupasnya (luka) berikutnya kulit batang yang berakibat mengganggu pertumbuhan daun-daun di atasnya. Pemetikan daun kaos kalau terjadi hujan lebat tidak dikehendaki, sebab percikan tanah kepermukaan daun menyebabkan daun tidak kuat setelah proses pengeringan yang mengakibatkan kualitas turun.. Dalam satu hari hanya dipetik satu jenis daun. Jika tidak mungkin dihindari didahulukan daun yang paling bawah. Pemetikan pada pagi hari paling lambat jam 10.00. Panen atau pemetikan daun dilaksanakan dengan interval waktu pemetikan antara 5 – 7 hari.
Pemetikan dimulai saat tanaman berumur 60 – 70 hari setelah tanam, pada waktu dimulai kutipan pertama. Setelah dikutip daun diangkut, dilakukan pemeraman selama 2 hari diatasnya ditutup dengan plastik atau dedaunan sehingga daun akan berubah warna menjadi kuning kemudian dilakukan pennyujenan. Hasil penyujenan diglantang, dikeringkan (dijemur). Sebelum pemetikan yang sebenarnya dimulai, pada tanaman berumur sekitar 60 hari dilakukan pemetikan cuci kaki yaitu memetik 1 – 3 daun bawah yang menyentuh tanah.Disamping untuk membuat sirkulasi udara menjadi lebih baik dapat mempunyai arti dalam mencegah menjalarnya penyakit bopang atau Cercospora Nicotiane. Dari hasil pemetikan ini bila ada daun yang baik bias diambil sebagai produksi.
Daun hasil panenan jangan ditaruh ditanah melainkan segera dimasukkan keranjang panen dan ditutup untuk menghindari terkena sinar matahari langsung. Jika terjadi serangan ulat daun, maka harus dilakukan pencegahan sejak dipertanaman.

3. Pengangkutan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan adalah tembakau hasil petikan dalam keranjang jangan diisi terlalu penuh dan tidak boleh kena sinar matahari langsung serta perlu ada tutupnya. Diangkut dengan hati-hati. Keranjang kutip yang akan dibagikan kepada penanam yang sudah diberi alas tikar/lembaran anyaman plastik agar diperiksa sebelum panen dan bagian yang dianggap tajam dibungkus supaya dalam pemakaian tidak merusak daun. Daun yang diangkut ke pelataran segera diturnkan dan diletakkan di atas yang tersedia dengan cara diberdirikan. Peletakan demikian jangan sampai terkena sinar matahari langsung.

4. Klasifikasi Daun
Kualitas daun tembakau selain ditentukan oleh tingkat kemasakannya juga ditentukan oleh letak daun pada batang. Setiap lembar daun tembakau dari bawah ke atas memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda. Dengan adanya perbedaan sifat ini, maka daun-daun tembakau dikelompokkan menjadi beberapa kelas menurut letaknya pada batang. Pengelompokan daun tembakau disebut klasifikasi daun. Dalam pengelompokan ini jumlah lembar daun pada posisinya tidak sama untuk setiap jenis tembakau tergantung pada besar kecilnya perbedaan sifat. Tembakau ini dikelompokkan menjadi empat kelas mulai dari bawah ke atas yaitu :
1. Daun Pasir (zandblad)
2. Daun kaki (voetblad)
3. Daun Tengah/Madya (middenblad)
a. Daun madya pertama (DMP)
b. Daun madya atas (DMA)
4. Daun Pucuk (Topblad)
Menurut klasifikasi tersebut di atas, untuk varietas tembakau Voor-Oogst lembaran daun tengah merupakan lembaran daun yang berkualitas baik, daun pucuk merupakan lembar daun yang terbaik, sedangkan yang lain berkualitas rendah adalah daun kaki (koseran).
5. Penanganan Hasil
Kerusakan daun secara fisik dapat terjadi pada saat pemetikan atau setelah pemetikan. Kerusakan yang sering terjadi adalah daun robek, terlipat, dan daun tinggal sebagian karena terpotong. Keadaan daun yang cacat dapat menurunkan kualitas, baikdalam bentuk basah, ataupun kering. Terutama untuk jenis tembakau Voor- Oogst.
Kerusakan daun dapat pula terjadi secara kimiawi, misalnya adanya proses fermentasi yang berkelebihan, daun-daun menjadi menguning tidak merata. Mutu daun yang menguning tidak merata menjadi rendah dan menyulitkan proses pengolahannya karena kondisinya tidak sama dengan daun-daun yang lainnya. Untuk menghindari kerusakan karena fermentasi, daun-daun yang telah dipetik tidak di tumpuk dalam waktu lama. Daun-daun disusun dalam keranjang secar berdiri, yakni pangkal daun berada di bawah dan ujung daun di atas.

B. PASCA PANEN
Daun-daun tembakau yang telah dipanen masih mengalami proses pengolahan sebelum sampai kepada konsumen akhir. Proses yang berlangsung sejak dini daun basah menjadi daun kering hingga menjadi bahan untuk produk akhir merupakan kegiatan pasca panen
Penanganan pasca panen merupakan faktor yang sangat menentukann hasil akhir. Mutu daun akan merosot apabila penangananya kurang baik, walaupun hasil panene berkualitas baik. Oleh sebab itu, petani yang hendak menjual tembakau dalam bentuk krosok proses pengolahan harus diperhatikan dengan baik agar hasil akhir memenuhi standar mutu. Bila diinginkan hasil tembakau dalam bentuk basah, petani harus memperhatikan teknis budidaya dan penanganna panen
Saat panen atau pemetikan daun terdapat hubungan positif dengan kualitas atau mutu, oleh karena itu perlu kiranya diperhatikan dalam melakukan pemetikan terhadap tingkat/derajat kemasakan daun.

1.Sortasi Pendahuluan
Daun-daun tembakau yang telah dipetik dan terkumpul di tempat teduh disortasi terlebih dahulu tahap pengolahan daun. Tujuannya adalah :
a. Memudahkan proses pengolahan, terutama penempatan dalam ruang pengolahan
b. Memudahkan pengelompokan ke dalam kelas-kelas menurut mutu setelah pengolahan
c. Memudahkan menentukan harga jual menurut mutu
d. Memperoleh keseragaman jenis dan mutu sehingga memudahkan pemasaran
Sortasi merupakan kegiatan memisah-misahkan daun tembakau menurut kemasakan daun, ukuran daun, kecacatan daun, dan posisi daun. Berdasarkan kriteria di atas, daun-daun dipisahkan. Demikian pula, daun-daun yang telah dipisahkan menurut letaknya pada saat memetik. Selanjutnya, daun-daun tembakau dipisahkan menurut tingkat kemasakannya karena daun yang masih muda atau yang telah tua ikut dipetik sehingga apabila tidak dipisahkan dapat mempengaruhi mutu akhir tembakau setelah pengolahan. Ukuran juga merupakan kriteria penilaian mutu tembakau

2. Penyujenan
Sebelum pelaksanaan penyujenan daun tembakau ini masih melalui beberapa proses antara lain pelayuan dengan cara daun tembakau ditutup dengan plastik atau daun untuk mendapatkan daun yang berwarna kekuningan, kecoklatan dan fixasi warna. Penyujenan adalah kegiatan penataan daun tembakau dengan cara menusuk bagian pangkal gagang daun/ibu tulang daun atau pada ruas batang diantara dua daun. Tujuan penyujenan adalah :
a. Memudahkan penataan dalam ruang pengeringan/ pengolahan
b. Mencegah daun saling melekat atau berhimpit pada saat keadaan kelembaban tinggi sehingga daun dapat mengering secara merata.
Cara penyujenan daun tembakau dan bahan untuk tusuk tergantung pada cara panen. Dengan menyesuaiakan menurut cara panen, penyujenan dapat memberikan hasil yang baik.
Daun tembakau yang dipanen secara pungut daun yang ditusuk adalah punggung daun dengan punggung daun dan perut daun sehingga menyerupai jahitan. Jarak antara satu daun dan daun lain sekitar satu ibu jari orang dewasa agar tidak saling melekat. Untuk tembakau yang dipanen secara pungut batang, daun dilepaskan satu persatu dari batng, kemudian ditusuk dengan sujen. Untuk daun tembakau yang dipotong menurut ruas batang, cara menusuk dilakukan dengan menyunduk bagian ruas. Panjang tusuk bervariasi antara 30 cm sampai 40 cm. Dengan demikian, satu sujen dapat berisi antara 4 lembar daun sampai 5 lembar daun. Daun-daun tembakau yang telah disusun diikatkan pada bambu yang berpasangan (gelantang).

3. Pengeringan
Pelaksanaan pengeringan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
a. Dengan cara sirkulasi udara yaitu dengan memanfaatkan angin
Pengeringan dengan cara ini pada dasarnya membiarkan daun tembakau mongering
secara alamiah dengan bantuan sirkulasi udara.
Caranya yaitu setelah daun tembakau disujeni digantung pada glantang dan ditempatkan di tempat yang teduh atau di bawah atap dan dibiarkan sampai kering.
Pengeringan dengan cara ini memerlukan waktu lebih lama antara 20 s/d 30 hari dan hasil krosoknya cederung berwarna gelap. Oleh karena itu cara ini jarang dilakukan oleh petani
b.Dengan cara dijemur yaitu memanfaatka panas sinar matahari dengan tahap pekerjaan sebagai berikut :




Tabel 6.1 Proses Pengeringan
No Tahap Perubahan Warna Daun Intensitas Penjemuran
1


2

3


4



5.


6.




7.


8. Daun segar


Daun menguning

Daun telah berubah kuning


Daun warna kuning semburat merah


Daun telah berwarna merah coklat

Daun berwarna coklat setengah kering



Daun yang telah berwarna coklat setengah kering dengan aroma dan body telah terbentuk
Krosok telah jadi Daun-daun tembakau disujen digantung dibawah atap untuk proses pelayuan

Mulai dilakukan penjemuran sebentar

Dijemur lebih lama sampai daun mulai berubah kewarna coklat

Penjemuran sedikit dikurangi samapi warna daun menjadi merah merata dengan merah coklat

Penjemuran ditingkatkan lagi sampai daum berwarna coklat setengah kering

Penjemuran diselingi dengan masa istirahat untuk fermentasi agar terbentuk aroma dan warna menjadi merata

Penjemuran penuh sampai gagang daun menjadi kering

Penjemuran selesai, krosok ditumpuk selanjutnya siap untuk dijual atau dipasarkan
c. Pengeringan secara kombinasi
Pengeringan secara kombinasi ini adalah merupakan gabungan antara pengeringan dengan angina dan dengan matahari.
Pada tahap awal proses pengeringan daun dilaksanakan dengan angina yaitu daun-daun telah disujeni digantung di bawah atap atau tempat yang teduh, sampai daun segar/hijau berubah menjadi kuning kemarahan atau coklat kemerahan, selanjutnya untuk pengeringannya dilakukan penjemuran seperti pada cara-cara pengeringan dengan matahari.
Pengeringan secara kombinasi lebih baik untuk proses pengeringan daun-daun tengah dan tengah atas untuk menghasilkan krosok kualitas atau mutu lokal.
Selanjutnya setelah selesai proses pengeringan diadakan sortasi kualitas atau mutu yang disesuaikan dengan permintaan pembeli atau pabrik rokok.

















DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Bina Produksi Perkebunan,1996. Perkembangan Pertembakauan Voor-Oogst . Direktorat Jendral Perkebunan ,Departemen Pertanian

Departemen Pertanian .1984. Budidaya Tembakau. Direktorat Jendral Perkebunan Jakarta

Darjanto Koesoemopranoto. 1979. Tembakau Ekspor Indonesia dan Masa Depannya. Naskah Karya Sidang Komisi Teknis Perkebunan Budidaya Tembakau. Sala

Hartana. 1975. Budidaya Tembakau. Balai Penelitian Perkebunan Bogor. Sub Balai Penelitian Budidaya Jember.

Koperasi Daya Guna. 1990. Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Penerbit Komisi Pestisida Departemen Pertanian

Murdijati, A. S. dan M. Shaleh. 1993. Peningkatan Produksi dan Mutu Tembakau Voor – Oogst Melalui Pemupukan Berimbang. Pertemuan Teknis Tembakau Voor Oogst Musim Tanam 1994.

Pinus Lingga. 1991. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penerbit Swadaya

Slamet Djojosoediro. 1990. Petunjuk Praktis Menanam Tembakau. Penerbit Usaha Nasional Surabaya

Subiyakto Sudarmo. 1992. Tembakau Pengendalian Hama dan Penyakit. Penerbit Kanisius

Soeripno. 2000. Petunjuk Pelaksanaan Pembibitan. Penerbit PT Restu Sumi Persada Putra






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar