Selasa, 01 Juni 2010

Efektivitas Trichoderma harzianum Sebagai Pengendali Hayati Penyakit Lanas pada Bibit Tembakau Cerutu

PROPOSAL
TOPIK PERORANGAN
(TP)




Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan
di Politeknik Negeri Jember Jurusan Pertanian Program Studi
Produksi Tanaman Perkebunan

DEPARTEMEN PENDIDKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2009

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian andalan yang dapat memberikan kesempatan kerja dan memberikan penghasilan bagi masyarakat. Peranan tembakau dan industri hasil tembakau cukup strategis dalam perekonomian nasional. Dari segi sosial, peranan hasil industri tembakau juga cukup strategis karena mampu menyediakan lapangan kerja cukup besar, sistem dan usaha agribisnis tembakau mulai dari hulu sampai hilir yang banyak menyerap tenaga kerja serta banyak petani yang menggantungkan sumber pendapatannya dari usaha budidaya tembakau tersebut. Selain itu, tembakau menunjang pembangunan nasional berupa pajak dan devisa Negara. Sebagai bahan cerutu, tembakau besuki Na-Oogst telah mempunyai pasaran produksi 8.385,26 ton dengan luas areal 7.686,11 ha dan produktifitasnya mencapai 1,091 ton/ha (Dalmadiyo, 2001).
Tembakau cerutu besuki memilki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Di samping sebagai penghasil devisa dan penggerak perekonomian daerah, juga sebagai penyerap tenaga kerja. Usaha tani tembakau cerutu besuki sangat banyak menyerap tenaga kerja mulai dari penanaman sampai prosesing siap dieksport (Dalmadiyo, 2001). Tembakau ini digunakan sebagai bahan pembungkus dan pengisi cerutu. Pada saat ini juga digunakan sebagai pembalut yang harganya jauh lebih mahal terutama dari tembakau bawah naungan. Tembakau dimanfaatkan daunnya sebagai bahan pembuatan rokok.
Untuk menghasilkan tembakau yang berkualitas diperlukan bibit tembakau yang berkualitas juga. Pembibitan merupakan awal dari keberhasilan dalam budidaya tanaman tembakau. Oleh karena itu perlakuan-perlakuan selama pembibitan sangatlah perlu mendapatkan perhatian khusus, karena apabila pembibitan mengalami kegagalan maka tahap pekerjaan selanjutnya akan sulit tercapai. Untuk penanaman tembakau diperlukan bibit yang baik yaitu bibit yang sudah cukup umur, seragam tingginya yaitu sekitar 15 cm(siap dipindah dilapang), diameter ± 0,5 cm serta bebas dari serangan hama dan penyakit. Bibit sudah dapat dipindah tanam ke kebun apabila telah berumur 35-55 hari setelah benih ditanam (Cahyono, 1998).
Penyakit yang sering menyerang bibit tembakau adalah penyakit lanas. Penyakit lanas pada tembakau disebabkan oleh cendawan Phytophthora nicotianae vBdh var. nicotianae Waterhouse (Semangun, 2000). Menurut Soeripno (2001), P. nicotianae merupakan penyakit yang mematikan mulai pembibitan sampai tanaman dewasa di lapangan. Penyakit lanas mulai terjadi pada tanaman tembakau berumur 35 hst sampai 105 hst hingga mencapai rata-rata 4,88 % - 63,96 % (Roeswitawati dkk, 2004). Jamur P. nicotianae yang sering disebut busuk batang maupun penyakit black shank tidak hanya menyerang di Indonesia melainkan menyerang daerah penanaman tembakau di Afrika, USA, Uni Eropa dan wilayah Asia (Erwin dkk, 2004). Di Jember, Jawa Timur penyakit ini menimbulkan kerugian hasil hingga 45,22 % ± 25,29 % (Dalmadiyo, 2001).
Untuk menanggulangi penyakit lanas yang disebabkan oleh P. nicotianae maka perlu dilakukan suatu cara pengendalian yang tepat. Menurut Semangun (2000), salah satu cara pengendalian P. nicotianae dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman, pemakaian fungisida baik di pembibitan maupun di pertanamann, membersihkan sisa-sisa tembakau serta penanaman varietas tahan. Alternatif cara pengendalian lainnya adalah menggunakan suppressive soil (Roeswitawati dkk, 2004). Menurut Edwin dkk (2004), tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan sanitasi, pengaturan kondisi lingkungan, penggunaan varietas tahan, penggunaan bubur Bordeaux, penggunaan fungisida berbahan aktif metlaxyl dan propamocarb, serta penggunaan mikroorganisme antagonis. Penggunaan agen antagonis untuk pengendalian hayati patogen-patogen yang bersifat tular tanah akan sangat menguntungkan, karena selain tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan lingkungan hidup, pengendalian hayati tersebut dapat efektif untuk periode yang cukup lama. Salah satu mikroorganisme antagonis yang berpotensi dalam pengendalian hayati adalah cendawan Trichoderma spp. Cendawan ini diketahui dapat digunakan untuk mengendalikan pathogen tanaman terutama pathogen tanah dan beberapa pathogen udara (Papavizas, 1985, dalam Sukamto dkk, 1999). Pengendalian penyakit dengan antagonis selain dapat menekan jumlah inokulum juga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pencemaran lingkungan dan mikroorganisme non target (Semangun, 2000).
Penelitian tentang pengaruh Trichoderma sp. Untuk menekan populasi patogen telah banyak dilakukan. Antara lain penelitian Misni dkk (2004), menunjukkan bahwa Trichoderma harzianum dapat menekan perkembangan penyakit layu Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (Sacc.) pada tanaman tomat sebesar 80 % dan dapat mempertahankan presentase bunga menjadi buah 71,47 % serta meningkatkan produksi tanaman. Hasil penelitian Sukamto dkk (1999) menunjukkan Trichoderma koningii dapat menekan presentase kematian bibit kakao yang disebabkan Phytophthora palmivora sebesar 41,19 %. Selain itu, T. koningii juga dapat menekan perkembangan Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii (Sulistyowati dkk, 1997), Pythium spp., Phytophthora spp. dan Armillaria mellea (Cook and Baker, 1996). Hasil penelitian Nesmith (2001), bahwa T.koningii efektif mengendalikan Rhizoctonia solani sebesar 70,24 % dan Sclerotinia sclerotiorum sebesar 90 % yang merupakan penyebab penyakit damping off dalam pembibitan tembakau serta mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman

1.2 Rumusan Masalah

Dalam setiap kegiatan budidaya tembakau, tak lepas dari serangan penyakit terutama di pembibitannya karena tanaman masih rentan. Salah satu penyakit yang sering menyerang pembibitan tembakau adalah penyakit lannas yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora parasitica var nicotianae. Hal ini sangat perlu diperhatikan karena penyakit ini dapat menurunkan kualitas dan kuantitas bibit tembakau atau bahkan bisa mematikan.
Semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat serta kesadaran konsumen akan pentingnya kesehatan, maka permintaan akan produk pertanian yang bebas dari bahan kimia juga terus meningkat. Dalam hal ini pertanian yang ditawarkan adalah pertanian berkelanjutan. Salah satu agroekosistem dari pertanian berkelanjutan adalah mikroorganisme yang sudah ada di alam dan dapat dimanfaatkan sebagai agen hayati, yang dapat berperan dalam pengendalian patogen tumbuhan maupun dekomposer. Mikroorganisme yang mempunyai kedua peran tersebut serta pemanfaatannya telah banyak dilaporkan adalah cendawan Trichoderma spp.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah aplikasi pengendali mana yang lebih efektif dalam mengendalikan penyakit lanas pada bibit tembakau cerutu.

1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Trichoderma harzianum. yang paling efektif dalam mengendalikan penyakit lanas pada bibit tembakau cerutu.
1.3.2 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Mengembangkan teknik pembibitan tembakau yang lebih bersifat ramah lingkungan terutama dalam hal pengendalian penyakit lanas.
2. Sebagai sumber informasi bagi pembaca tentang penggunaan dan efektifitas Trichoderma harzianum.






II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tembakau Cerutu
2.1.1 Klasifikasi
Menurut Steenis (1994), tanaman tembakau diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Spermatophyta
Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Solanales
Suku : Solanaceae
Marga : Nicotiana
Jenis : Nicotiana tabacum
Nicotiana rustica

2.1.2 Ciri Morfologi
Menurut Cahyono (1998), figure tanaman tembakau adalah berwarna hijau, berbulu halus, batang dan daun diliputi oleh zat perekat. Tanaman tembakau berbentuk silindris atau pyramidal, tergantung pada jenis atau varietasnya. Tinggi tanaman tembakau rata-rata hanya mencapai 2,5 m. Akan tetapi, bila syarat tumbuhnya cocok, tinggi tanaman tembakau dapat mencapai 4 m. Tanaman tembakau tidak berrcabang dan umurnya kurang dari satu tahun.
Bagian terpenting tembakau adalah daun dengan ciri-ciri antara lain daun berwarna hijau, berbentuk oval, ujung meruncing, tepi licin dan bertulang sirip. Dalam satu tanaman, jumlah daun yang dapat dimanfaatkan sekitar 32 helai. Ukuran daun tergantung dari jenis daun, varietas yang ditanam, kesuburan tanah dan pengelolaan. Daun bertangkai pendek, memanjang dengan pangkal yang menyempit dan ujung runcing (Steenis, 1997). Bunga termasuk bunga majemuk. Bunga berbentuk seperti terompet dengan panjang ≤ 5 cm, berwarna kemerah-merahan atau putih. Buah mencapai kemasakan sekitar 20 hari setelah terjadinya pembuahan. Satu tanaman tembakau dapat menghasilkan sekitar 300 buah. Dalam satu buah terdapat sekitar 2.500 butir biji. Biji tembakau berwarna coklat muda kehitam-hitaman.

2.1.3 Tembakau Cerutu
Pusat penanaman tembakau cerutu adalah Deli (Sumatra Utara ), Klaten (Jawa Tengah), Besuki dan Jember. Tembakau ini dikenal sebagai Tembakau Deli, Tembakau Vorstenland, dan Tembakau Besuki (NO, na oogst). Pada awalnya tembakau cerutu besuki ditanam pada akhir musim kemarau (Agustus - September) dan dipanen awal musim penghujan (Oktober – November) terutama untuk menhasilkan bahan pengisi (filler = vulsel) dan sedikit bahan pembungkus (binder = omblad). Akan tetapi pada saat ini terjadi perkembangan waktu tanam lebih maju yaitu mulai bulan Mei sehingga dipanen pada musim kemarau yang dikenal dengan nama Besuki Na Oogst tanam awal/Besnota (Dalmadiyo, 2001). Akhir-akhir ini di Jember dan Klaten ditanam “Tembakau Bawah Naungan” (TBN) yang ditanam pada musim kemarau di bawah naungan jala-jala plastik dengan disertai pengairan dan hujan buatan (Semangun, 2000)

2.2 Trichoderma spp.
2.2.1 Sistematika Trichoderma spp.
Trichoderma spp. termasuk dalam kelas Euascomycetes dan famili Hypocreaceae. Konidiofor hyaline, bercabang dan pyramidal. Konidia dengan diameter rata-rata 3µm berbentuk sel tunggal dan bulat, permukaannya halus dan kasar (Smith, et al, 1990).
Klasifikasi cendawan ini adalah sebagai berikut.
Kingdom : Fungi
Divisi : Ascomycota
Subdivisi : Pezizomycetes
Kelas : Sordariomycetes
Ordo : Hypocreales
Famili : Hypocreaceae
Genus : Trichoderma
Spesies : Trichoderma harzianum Rifai.
Trichoderma viride Pers. Ex S. F. Gray.
Trichoderma koningii Oud.
Trichoderma spp. adalah salah satu cendawan antagonis yang saat ini banyak dikembangkan untuk pengendali hayati. Cendawan ini digunakan sebagai salah satu agen pengendali hayati karena mempunyai sifat mudah ditemukan di banyk lokasi, dapat tumbuh dengan cepat pada berbagai substrat atau media tumbuh dan tidak bersifat patogenik terhadap tanaman
Cendawan marga Trichoderma ini terdapat lima jenis yang mempunyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen yaitu Trichoderma harzianum, Trichoderma koningii, Trichoderma viride, Trichoderma hamatum dan Trichoderma polysporum. Namun jenis yang banyak dikembangkan Trichoderma harzianum, Trichoderma koningii, Trichoderma viride. Beberapa jenis sudah ada yang dijual secara komersil dalam bentuk kemasan yang diproduksi oleh pabrik.

2.2.2 Ciri Trichoderma spp.
Jamur mempunyai konidiofor yang tegak, sendiri-sendiri atau berkelompok menjadi satu berkas, hialin, bersekat, percabangan teratur dengan saling berlawanan, phialid bentuknya lonjong atau seperti botol, satu-satu atau mengelompok, konidia hialin atau hijau muda, tidak bersekat (satu sel), pada umumnya berbentuk lonjong, bergerombol pada ujung phialid (Dalmadiyo, 2001).

2.2.3 Mekanisme Antagonis Cendawan Trichoderma spp.
Mekanisme pengendalian secara hayati oleh Trichoderma spp. bersifat mikoparasit dan kompetitor yang aktif pada patogen. Pertumbuhan miselia cendawan membelit sepanjang hifa cendawan inangnya. Penetrasi pada miselia inang belum tentu bisa terjadi, akan tetapi hifa yang peka akan terjadi vakuolasi, rusak dan akhirnya hancur. Trichoderma hamatum juga menghasilkan enzim selulase dan Trichoderma viride menghasilkan enzim - (1-3)-glutanase (Cook dan baker, 174 dalam Sukamto dkk, 1994).
Trichoderma spp. umumnya penghuni tanah, khususnya tanah organik. Cendawan ini dapat hidup sebagai saprofit atau parasitik terhadap cendawan lain, bersifat antagonistik dan banyak digunakan sebagai pengendali biologi (Sundheim dan Tromsno, 1988).
Trichoderma spp. telah banyak dikembangkan untuk pengendali penyakit cendawan akar. Spora jamur ini sangat berkembang pada suhu 22 - 23º C. Kumpulan spora mula-mula berwarna putih jernih, kemudian berwarna kehijauan dan akhirnya berwarna hijau gelap. Trichoderma spp. tidak mematikan secara langsung spora cendawan penyebab penyakit tetapi mengusir dari tanah sekitarnya. Hal ini terjadi karena spora Trichoderma lebih cepat berkembang dibandingkan pertumbuhan spora cendawan penyebab penyakit. Penggunaan Trichoderma spp. sebagai agen hayati telah banyak dilaporkan, antara lain untuk pengendalian busuk akar Phytophthora spp. pada tanaman apel, pengendalian Rhizoctonia solani pada tanaman kentang dan masih banyak lagi (Sudheim dan Tromsno, 1988).
Trichoderma spp. dapat bersifat antagonis terhadap banyak cendawan karena mempunyai banyak cara untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan cendawan lain. Ada tiga mekanisme antagonis cendawan Trichoderma harzianum terhadap patogen tular tanah yaitu sebagai kompetitor baik ruang maupun nutrisi, antibiosis yaitu mengeluarkan ethanol yang berfungsi racun bagi patogen dan sebagai mikoparasit (Sudantha, 1995, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).
Dosis aplikasi Trichoderma harzianum berpengaruh terhadap populasi Rhizocthonia solani dalam tanah dan intensitas serangannya pada tanaman padi gogo. Semakin tinggi dosis aplikasi semakin rendah populasi dan intensitas Rhizocthonia solani. Antagonisme antar Trichoderma koningii dan Rhizocthonia micropors dapat terjadi dengan nyata karena Trichoderma koningii menghasilkan antibiotik yang menguap dan tidak menguap, yang bersifat menghambat dan mematikan Rhizocthonia microporus. Disamping itu juga terjadi interferensi hifa, yaitu suatu bentuk antagonisme yang berlangsung bila dua buah hifa yang bersifat antagonistis secara kontak atau berdekatan. Akibat utama interferensi hifa ini adalah terjadi penambahan permeabilitas sel yang berakhir dengan kematian hifa Rhizocthonia micropus (Basuki, 1985, dalam Sukamto, 1994).
Trichoderma koningii dan Trichoderma viride dapat menghambat secara nyata terhadap cendawan Fusarium annosus dan Rhizocthonia solani dengan antibiotika menguap yang dihasilkannya. Disamping itu Trichoderma koningii dan Trichoderma viride juga dapat menggulung Fusarium annosus dan Rhizocthonia solani. Trichoderma koningii dapat mempengaruhi Phytophthora palmivora, cendawan penyebab penyakit busuk buah kakao dengan perubahan warna menjadi kuning. Diduga hal ini karena adanya antibiotika yang dikeluarkan oleh Trichoderma koningii tersebut. Cendawan antagonis yang lain seperti Trichoderma pseudokoningi dan Trichoderma aureoviride berdasarkan pengamatan menandakan kontak langsung secara fisik dengan Phytophthora palmivora (Dennis dan Webster, 1971 dalam Sukamto dkk, 1994).
In vitro uap Trichoderma akan mengurangi pertumbuhan Phytophthora, diikuti dengan vakuolasi sel dsan terjadinya lisis pada hifa. Reaksi kecil terjadi ketika Phytophthora dan Trichoderma keduanya ditumbuhkan pada agar, Trichoderma sering tumbuh cepat pada biakan Phytophthora dan memarasit hifa (Malajczuk, 1983 dalam Sukamto dkk, 1994). Pada T. koningii pengaruh antagonisme menyebabkan koloni P. palmivora berubah warnanya menjadi kuning. Sedangkan pengaruh antagonisme pada jamur yang lain tidak terjadi demikian (Sukamto, 1994).




2.3 Penyakit Lanas
2.3.1 Gejala Penyakit Lanas
Penyakit lanas merupakan penyakit tembakau yang penting di kebnyakan pusat tembakau di Indonesia, misalnya di Klaten, Besuki, Bojonegoro, dan Lumajang (Semangun, 2000).
Penyakit lanas merupakan penyakit ganas dengan gejala-gejala antara lain terjadi pembusukan pada leher akar, dimana bagian yang busuk tersebut berwarna coklat kehitaman dan agak berlekuk pada tanaman tembakau terutama pada tembakau Deli, TBN maupun Besuki Na-Oogst. Bila hal ini dibiarkan dalam waktu yang tidak lama dan didukung oleh kondisi yang sesuai untuk perkembangan jamur, maka perkembangan penyakit tersebut menjadi sangat pesat yang pada akhirnya tanaman akan mengalami kematian.
Pada bibit yang daunnya bergaris tengah 2-3 cm, penyakit mula-mula diketahui dari wana daun yang hijau kelabu kotor. Jika kelembapan udara sangat tinggi, penyakit akan berkembang secara cepat dan tumbuhan segera menjadi busuk. Di pembibitan penyakit ini dapat meluas dengan cepat, sehingga pembibitan tampak seperti disiram air panas (Semangun, 2000).
Pada tanaman yang lebih tua biasanya gejala pembusukan hanya terbatas pada leher akar. Disini bagian yang busuk berwarna coklat kehitaman dan agak berlekuk. Semua daun dari tanaman yang bersangkutan layu mendadak. Kalau pangkal batang dibelah, empulur tampak mongering dan “mengamar”. Kalau daun tidak segera dipetik lanas bercak akan menjalar ke batang dan terjadilah lanas batang yang mematikan tanaman. Dengan demikian sering terdapat pembusukan pada batang yang letaknya agak jauh dari tanah (Semangun, 2000).

1.3.2 Penyebab Penyakit Lanas
Untuk pertama kali jamur lanas diteliti oleh van Breda de Haan di Deli pada tahun 1896 dan dideterminasi sebagai Phytophthora nicotianae van Breda de Haan. Karena morfologinya mirip sekali dengan P. parasitica Dastur, oleh Tucker (1931) P. nicotianae dimasukkan ke dalam P. parasitica dengan nama P. parasitica Dast. Var. nicotianae (vBdH) Tucker. Namun menurut Waterhouse (1963), karena nama P. nicotianae lebih tua daripada nama P. parasitica, justru P. parasitica yang harus dimasukkan ke dalam P. nicotianae. Dengan demikian nama P. nicotianae diubah menjadi P. nicotianae vBdH var. nicotianae Waterhouse (Semangun, 2000). Jamur ini hidup di dalam tanah dan dapat berpindah ke tanaman tembakau. Penyakit ini tersebar di seluruh kebun tembakau Deli, dan pada umumnya serangan berat terjadi pada musim hujan yang relatif cukup tinggi.
Jamur Phytophthora nicotianae atau yang sering disebut busuk batang/penyakit lanas maupun penyakit Black Shank ini tidak hanya menyerang di wilayah Indonesia saja melainkan menyerang daerah penanaman tembakau di Afrika seperti Uganda, Afrika Barat, Mauritus dan Nysaaland. Dan saat ini penyakit tersebut telah tersebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Serangan jamur Phytophthora nicotianae akan menyebabkan kerusakan akar dan batang pada semua jenis tanaman tembakau yang ditanam pada berbagai tingkat pertumbuhan semenjak bibit sampai dengan tanaman dewasa (Erwin dkk, 2004).
Hujan dan kelembaban udara yang tinggi merupakan faktor terpenting yang turut mempengaruhi perkembangannya. Perlu diketahui pula bahwa air merupakan media ataupun sarana yang sangat membantu penularan penyakit tersebut. Selain itu faktor tanah terutama tekstur tanah juga mempengaruhi perkembangan Phytophthora nicotianae. Meskipun demikian, pengaruhnya akan lebih kecil pada tanah yang memiliki kandungan bahan organik yang sedikit. Faktor lain yang juga mempengaruhi perkembangan penyakit ini adalah drainase. Kondisi lahan yang memiliki sistem drainase yang tidak baik akan membuat air tergenang. Air yang tergenang tersebut dapat menciptakan kondisi yang baik untuk kehidupan jamur. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat keasaman tanah dimana bila pada kondisi tanah pH 6 – 7 perkembangan jamur ini akan sangat pesat. Adapun temperatur yang dikehendaki agar dapat berkembang dengan baik adalah diatas 20ºC, walaupun infeksi juga dapat terjadi pada suhu 16ºC (Erwin dkk, 2004).
1.3.3 Daur Hidup Phytophthora nicotiniae
Jamur Phytophthora nicotianae dapat bertahan di dalam tanah dan hidup sebagai safrofit dari bahan organik yang ada di dalam tanah. Pada tanah tegalan (kering) patogen dapat bertahan lebih lama, sehingga tanah merupakan sumber penularan. Pupuk kandang yang kurang matang juga dapat menjadi salah satu infeksi (Erwin dkk, 2004).
Penyakit lanas merupakan penyakit polyciclik dimana sporangia (struktur penghasil spora berbentuk kantong berongga) yang baru beserta chlamydiospora-nya ( spora tahanan berdinding tebal aseksual yang dihasilkan dari suatu sel hypha jamur) akan berkembang pada akar secara in-vivo dalam waktu tidak kurang dari 48 jam. Bila proses jatuhnya cairan yang mengandung mikroba/partikel jamur telah terjadi, maka patogen tersebut akan menyerang akar dalam waktu 24 jam. Zoospora yang dihasilkan selama periode kejenuhan tanah akan mengawali infeksi baru pada tanaman yang telah terserang sehingga akan meningkatkan laju perkembangan penyakit ataupun menyebar di sekitar tanaman. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, air hujan dan drainase yang kurang baik dapat membantu penyebaran patogen. Hal ini disebabkan air dapat menjadi media pembawa spora jamur dari lahan yang terserang ke tempat yang belum terserang. Penyebaran melalui tanah akan meningkat apabila tanah cukup basah, tanah tersebut menjadi mudah lengket pada kaki manusia, ternak maupun alat pengolahan tanah dan alat pertanian lainnya sehingga menjadi tempat bagi menempelnya spora jamur. Adanya luka pada tanaman khususnya pada bagian akar akan mempermudah masuknya patogen ke dalam jaringan tanaman (Erwin dkk, 2004).

2.4 Hipotesis
Berdasarkan tujuan penelitian Efektivitas Trichoderma harzianum. Sebagai Pengendali hayati Penyakit Lanas pada Bibit Tembakau Cerutu, maka hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat aplikasi pengendali yang paling efektif dalam mengendalikan penyakit lanas pada bibit tembakau cerutu.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan Topik Perorangan (TP) ini dilaksanakan pada bulan Januari – Februari 2010 di lahan percobaan Politeknik Negeri Jember.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan adalah cangkul, timba, gembor, handsprayer, alat sterilan tanah, karung, nampan pesemaian dan penggaris
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah bibit tembakau cerutu, pupuk daun, plastik sosis, pupuk kandang, top soil, pasir, Trichoderma harzianum dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember dan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Mojoagung, Jombang , Phytophthora nicotianae dan fungisida.

3.3 Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah pengujian efektifitas jamur Trichoderma harzianum Untuk mengendalikan penyakit lanas pada bibit tembakau cerutu.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 1 faktor dan 6 ulangan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis
Faktor tunggal perlakuan adalah aplikasi Trichoderma harzianum yang terdiri atas 4 level yaitu:
T0 = Tanpa aplikasi Trichoderma harzianum
T1 = Aplikasi fungisida
T2 = Aplikasi Trichoderma harzianum dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember
T3 = Aplikasi Trichoderma harzianum dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perekebunan Mojoagung, Jombang
3.4 Persiapan penelitian
3.4.1 Pembibitan
Media yang digunakan adalah campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Kemudian media dimasukkan ke dalam karung dan dimasak selama 24 jam dengan suhu 100ºC. Setelah itu media dimasukkan ke dalam kantong sosis dan dipotong-potong sepanjang ± 6 cm.
Benih tembakau varietas H-382 sebanyak ±2 gr ditaburkan dalam bedeng semaian yang telah terisi media tanam steril secara konvensional. Selama pembenihan, perawatan dan pemeliharaan dilakukan secara intensif agar bibit tumbuh dengan baik. Kemudian bibit dipindahkan ke dalam polibag sosis dan disortasi terlebih dahulu agar diperoleh bibit yang baik dan seragam.
3.4.2 Jamur Trichoderma harzianum
Spesies Trichoderma yang akan didgunakan adalah Trichoderma harzianum. Jamur ini diperoleh dari Pusat Penelitian Kopi Kakao Jember yang dalam bentuk formulasi dalam media beras jagung. Sedangkan yang diperoleh dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perekebunan Mojoagung, Jombang ini dalam bentuk formulasi dalam media sekam dan dedak (perbandingan 1:1)..
3.4.3 Jamur penyebab penyakit lanas (Pythophtora nicotianae)
Jamur Pythophtora nicotianae ini diperoleh dari Laboratorium HPT Universitas Jember yang berupa isolate aslinya yang masih virulen.
3.5 Pelaksanaan Penelitian
3.5.1 Pelaksanaan Pemberian Jamur Trichoderma harzianum
Pemberian Trichoderma harzianum dilakukan 4 hari sebelum transplanting bibit tembakau ke dalam polibag sosis dengan cara dibenamkan ke dalam tanah pada masing-masing polibag dengan dosis sesuai dengan baku teknis yang sudah dianjurkan ( 5 gr/ polibag sosis)


3.5.2 Pelaksanaan Pemberian P. nicotianae
Suspensi P.nicotianae pada bibit tembakau dengan inokulasi langsung ke permukaan tanah. Konsentrasinya 1 gram / 100 ml. Untuk setiap polibag sosis diberikan 3 ml P. nicotianae. Pemberian P. nicotianae ini dilakukan 6 hari sebelum transplanting (tanam) bibit tembakau ke dalam polibag sosis.

3.6 Parameter Pengamatan
Parameter yang diamati meliputi:
1. Intensitas serangan P. nicotianae
Presentase Bibit Tembakau Terserang P. nicotianae ini dihitung dari jumlah bibit yang terserang pada 7 hari setelah tanam (hst), 14 hst, 21 hst, 28 hst dan 35 hst.
Rumus yang digunakan yaitu :
n
I = __________ x 100 %
N
Keterangan :

I : Intensitas serangan
n : Jumlah bibit yang terserang
N : Jumlah seluruh bibit yang diamati.

( Muthahanas dkk, 2007)

2. Kecepatan Infeksi
Penghitungan hari keberapa terjadi infeksi P. nicotianae terhadap bibit tembakau.
3. Jumlah Daun
Penghitungan jumlah daun dilakukan pada keseluruhan bibit pada tanaman umur 7 hari setelah tanam (hst), 14 hst, 21 hst, 28 hst dan 35 hst.
4. Tinggi Bibit
Pengukuran tinggi bibit dilakukan pada keseluruhan batang bibit pada tanaman umur 7 hari setelah tanam (hst), 14 hst, 21 hst, 28 hst dan 35 hst.


4. Diameter Batang
Pengukuran diameter batang dilakukan pada keseluruhan batang bibit pada tanaman umur 7 hari setelah tanam (hst), 14 hst, 21 hst, 28 hst dan 35 hst.

3.7 Analisis Data
Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F (Ftest), dan dilanjutkan dengan uji BNT 5 %























LAY OUT PENELITIAN
U


T1 T3 T2 T1 T1 T2

T2 T0 T0 T0 T3 T3

T3 T2 T1 T2 T0 T0

T0 T1 T3 T3 T2 T1

Ul 1 Ul 2 Ul 3 Ul 4 Ul 5 Ul 6


Keterangan

T0 = Kontrol (Tanpa aplikasi)
T1 = Aplikasi fungisida
T2 = Aplikasi Trichoderma harzianum dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember
T3 = Aplikasi Trichoderma harzianum dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perekebunan Mojoagung, Jombang










DAFTAR PUSTAKA


Cook, R.J. and Baker, K.F. 1996. The Nature Practice of Biological Control of Plant Pathogens. The American Phytopathological Society. St Paul, Minnesota. USA. 538 pp.

Cahyono,B. 1998. Tembakau, Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Yogyakarta: Kanisius.

Dalmadiyo, G. 2001. Peranaan dan Tantangan Tembakau Cerutu Besuki. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Ballittas). Malang. 1-26 hal.

Erwin, R. Sitepu dan S. H. Hastuty. 2004. Memerangi Penyakit Lanas pada Tembakau. Balai Penelitian Tembakau Deli-PTP Nusantara II (Persero). Medan. Available at http://www.tanido.co.id/abdi 10/hal070.htm. (Verified 25 Februari 2009).

Misni, M. Martosudiro dan T. Hadiastono. 2004. T.harzianum (Rifai) sebagai Antagonis Fusarium Oxysporum (Schlecht) f.sp. lycopersici (Sacc.0 Penyebab Penyakit layu pada tanaman Tomat. Dalam Prosiding Sidang Fipatologi. Malang. 23-24 hal.

Muthahanas, I. dan M. Sarjan. 2007. Pemanfaatan Limbah Batang Tembakau Sebagai Pestisida Nabati dan Kompos Dalam Budidaya Beb€rapa Tanaman Sayuran. Proyek Peningkatan dan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) BPTP NTB. Available at http://www.deptan.go.id/inisiatif/one/13/file. (Verified 30 November 2009).

Nesmith, W.,2001. Black Shank Alert. Lab. Of Plant Pathology, School of Agriculture, Aristotle University of Thessaloniki. Available at http://www.minagric.gr/greek/data/files2251/TZAVEL1.Doc. (Verified 22 November 2004).

Papavizas, G. C. 1985. Trichoderma and Gliocladium. Biology, Ecology and Potential for Biocontrol. Annual. Revision. Phytopathologi. 23-54 p.

Roeswitawati, D., I. R. Sastrahidayat, Suwarsi dan A. L. Abadi. 2004. Pengaruh Tanah Suppresive terhadap Patogen P.parasitica var nocotianae Penyebab Penyakit Lanas pada Tanaman Tembakau. Dalam Prosiding Sidang Fitopatologi. Malang. 59-77 hal.

Rifai, M. A. 1969. A Revision of the Genus Trichoderma sp. Mycological Papers no 116. Commonwealth. Mycologycal Institute. Kew, Surrey. England. 56

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. UGM Press. Yogyakarta. 825 hal.
Soeripno. 2001. Masalah Penyakit Tembakau Besuki NO. Koperasi Agrobisnis Taruma Nusantara. Jember. 1-6 hal.

Steenis, C. G. G. J. 1997. Flora. PT. Pradnya Paramita. Jakarta. 485 hal.

Stern, V. M., R.f. Smith, R. Van den Bosch and K.S Hagen. 1959. The intregation of chemical and biological control of spotted alfalfa aphid. Hilgardia. 29 (2): 81 – 101.

Sukamto, S., Qithfirul, A. dan supandi. 1994. Teknik Perbanyakan dan Aplikasi Jamur Trichoderma spp. Pusat Penelitian Kopi dan kakau Indonesia. Jember. P. 7

Sulistyowati, L., Estiejarini, dan A. Cholil. 1997. Teknik Aplikasi Isolat Trichoderma spp. sebagai agen Pengendali Hayati. Jurnal Penelitian Ilmu Teknik (Engineering). 9(2) : 1-9.

Sundheium, L dan A. Tromsmo. 1988. Hyperparasities in Biological Control, In KG. Mukerji and K.L Garg (eds). Biolocontrol of plant Diseases. CRC Press, Inc, Boca Raton, Florida. Pp. 53-70

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar