Selasa, 01 Juni 2010

lada

SYARAT – SYARAT TUMBUH
TANAMAN LADA


Lada merupakan tanaman memanjat dari famili Piperaceae (sirih-sirihan) yang pada umumnya tumbuh dalam keadaan terlindung oleh berbagai pohon.
Klasifikasi dan Bagian – Bagian Tanaman Lada 1.
Menurut Waar dan Zeven (1969), lada termasuk :
Klas : Angiospermae.
Sub Klas : Dicotyledone
Genus : Piper
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Spesies : Piper nigrum L.
Pada tanaman lada terdapat 4 macam sulur yaitu :
1. Sulur panjat (orthotropic climbing shoot), memiliki akar lekat yang berfungsi untuk menempelkan batang pada tiang panjat.
2. Sulur buah (axillary plagotropic fructing branches), tidak memiliki akar lekat.
3. Sulur gantung, tumbuh menggantung dipermukaan tajuk.
4. Sulur tanah (sulur cacing), tumbuh menjalar dipermukaan tanah.
Sifat dari pada sulur panjat negatip fototrop (tumbuh lebih baik dalam keadaan kurang cahaya), sedangkan sulur buah positip fototrop (tumbuh lebih baik dalam keadaan cukup cahaya).
Akar tanaman lada adalah akar serabut. Akar yang tumbuh di dalam tanah berfungsi untuk mengambil makanan dari dalam tanah, sedang akar yang keluar dari buku-buku diatas tanah digunakan untuk melekat (akar lekat).
Syarat Tumbuh Tanaman Lada 2.

Tanaman lada tumbuh baik di daerah dengan ketinggian 0 – 500 meter diatas permukaan laut. Curah hujan yang dikehendaki antara 2000 – 3000 mm / tahun dengan rata-rata 2300 mm / tahun. Hari hujan antara 150 – 210 hari atau rata-rata 177 hari dalam setahun. Tidak terdapat adanya bulan-bulan kering dengan curah hujan kurang dari 60 mm / bulan. Di Lampung, menunjukkan bahwa pertumbuhan lada mulai tertekan bila curah hujan kurang dari 90 mm / bulan. Atas dasar ini diperkirakan bahwa batas bulan kering untuk tanaman lada adalah 90 mm.
Derajat suhu yang dikehendaki berkisar antar 20OC (minimum) dan 34OC (maksimum). Kisaran suhu terbaik adalah 23 – 32OC dengan suhu rata-rata siang hari 29OC. Kisaran tersebut sebaiknya 21 – 27OC pagi hari, 26 – 32OC siang hari dan 24 – 30OC sore hari. Sedangkan suhu tanah yang baik berkisar antara 25 – 30OC pada kedalaman 10 cm. Suhu tanah optimal untuk pertumbuhan akar adalah 26 – 28OC.
Kisaran derajat lembab antara 50 – 100 % lengas nisbi dengan kisaran optimal 60 – 80 %. Angin sebaiknya, tidak ada angin kencang. Angin yang kencang apabila disertai udara panas, sangat mengganggu karena dapat merusak keseimbangan antara laju penguapan, penyerapan dan penyediaan air.
Tentang tanah, dapat dikatakan bahwa tanaman lada tidak terlalu memilih akan tanah. Tanaman lada dapat tumbuh pada ragam tanah yang cukup luas seperti Andisol, Vertisol, Alfisol, Oxisol dan Entisol asal memiliki tingkat kesuburan dan drainase yang baik. Kelihatannya tanah terbaik adalah yang bertekstur ringan dengan keadaan fisik dan kimia tanah yang subur. Tanah liat berpasir (Sandy clay) sampai saat ini merupakan tanah dimana tanaman lada dapat tumbuh sangat baik.

Bahan Tanaman.

Dalam spesies tanaman lada sendiri terdapat banyak varietasn antara lain : varietas Jambi, Bulok Belantung, Lampung Daun Lebar, Kerinci, Bengkayang di Kalimantan (Wahid dan Chaniago, 1997). Juga terdapat beberapa varietas impor, antara lain : Kalluvally, Cheriyakaniakadan dari India


PERBANYAKAN TANAMAN LADA


Perbanyakan tanaman lada dapat secara generatif atau vegetatif. Perbanyakan generatif dengan biji tidak baik sebab sulur lada yang tumbuh memakan waktu panjang untuk berbuah dan tidak menjamin hasil yang baik. Perbanyakan vegetatif dengan menggunakan cara penyetekan bisa diambil dari sulur panjat, sulur gantung, sulur tanah bahkan sulur buah. Bahan yang terbaik berasal dari sulur panjat yang umur tanamannya tidak boleh lebih dari 2 tahun, sedang umur physiologis cabang yang digunakan sebagai bahan stek sekitar 6 bulan. Cara penyetekan ini dapat dilakukan dengan mudah dan memungkinkan dipertahankan sifat sifat keturunannya (Meyling, 1993 ; Direktorat Jenderal Perkebunan dan Institut Pertanian Bogor, 1993).

Kebun Bibit, Kebun Produksi dan Stek 1 Ruas Berdaun Tunggal 1
Perbanyakan dengan cara penyetekan dapat diperoleh dari kebun bibit (kebun perbanyakan) dan kebun produksi. Bila bahan stek berasal dari kebun bibit, maka harus memenuhi syarat sebagai berikut :
- Terawat baik sehingga pohon induk bebas dari serangan hama dan penyakit.
- Tanaman tumbuh sehat dan kuat.
- Keadaan kebun tidak terlalu gelap/teduh sehingga sulur panjat yang dimiliki tumbuh sehat dengan akar lekat yang lebat dan sehat.
- Dari varietas yang dikehendaki, seperti tampak pada gambar dibawah ini :
Cara pengambilan bahan stek yang berasal dari kebun bibit yaitu terlebih dahulu diadakan pemotongan (topping) pada kuncup atau pucuk tanaman dan didiamkan selama satu bulan, hal ini bertujuan untuk penimbunan karbohidrat pada persiapan bahan stek sebagai energi untuk pembentukan akar dan menciptakan keseragaman bahan stek. Bila pemotongan pucuk tanaman (topping) tidak dilakukan maka ruas pertama, kedua dan ketiga dihilangkan karena bahan stek masih terlalu muda.
Bahan stek yang diambil dari pemangkasan pohon induk dengan ditinggalkan 3 ruas diatas media tanah, dapat dipangkas secara terus menerus dengan selang waktu 6 sampai 8 bulan. Pemangkasan dilakukan 1 sampai 3 ruas diatas bidang pangkas sebelumnya dan setelah tanaman berumur 3 sampai 4 tahun, tanaman dapat dipermuda dengan pemangkasan dalam setinggi kira kira 30 cm diatas tanah. Berdasarkan hal tersebut, maka kebun bibit dapat dipanen terus menerus.
Untuk bahan stek yang diambil dari kebun produksi selain persyaratan kebun bibit terpenuhi, ruas pertama, kedua dan ketiga dari pucuk tanaman tidak dipakai karena pada ruas tersebut belum banyak terdapat karbohidrat. Ruas keempat, kelima dan seterusnya dapat dipergunakan sebagai bahan stek.
Umur kebun produksi relatif muda antara 6 bulan sampai 3 tahun sehingga bahan stek yang diperoleh betul betul mempunyai kemamapuan tumbuh yang baik dan tidak mengganggu produksi dari kebun tersebut, seperti tampak pada gambar dibawah ini :







Pada kebun produksi yang menggunakan tiang panjat mati bahan stek sebaiknya tidak diambil pada tanaman yang berumur lebih dari 2 tahun, sebab sulur panjat sudah berkurang karena terbatasnya tinggi tiang panjat. Bila menggunakan tiang panjat hidup stek dapat diambil sampai tanaman berumur 3 tahun.
Bahan stek yang diambil dari sulur panjat, sebaiknya dari tanaman yang sehat dan kuat, sulur cukup besar dan setengah mengayuh, daun berwarna hijau tua dan tidak menunjukkan gejala gejala abnormal (becak / kerinting), akar lekat pada buku ruas cukup banyak dan aktif.
Bila bahan stek terlalu muda maka proses transpirasi akan berlangsung cepat sehingga stek menjadi lemah dan akhirnya mati, sedang bila terlalu tua maka akan diperlukan waktu yang lama untuk keluar akar.
Pada penanaman langsung di kebun digunakan bahan stek yang relatif panjang dan terdiri dari 7 ruas. Cara pengambilan stek 7 ruas dari pohon induk adalah sebagai berikut :
- Memotong ujung sulur yang terlalu muda dan diambil stek 7 ruas. Cara pengambilan stek 7 ruas (sulur panjang 7 ruas ).
- Semua sulur buah dipotong dekat pangkalnya.
- Saat tanaman, 4 ruas bagian bawah dari sulur panjat dibenamkan dalam tanah dengan daun penumpu yang telah dibuang pada pangkalnya.
- 3 ruas bagian atas tetap dipelihara.
Untuk perluasan areal dan peremajaan, perbanyakan tanaman lada dengan menggunakan stek panjang 7 ruas dianggap kurang ekonomis dan menimbulkan kesulitan karena jumlah kebutuhan yang besar, sedang untuk tujuan penelitian dapat mengakibatkan meningkatnya ragam karena besarnya pemakaian bahan tanaman. Salah satu jalan keluar dari masalah tersebut adalah menggunakan stek 1 ruas berdaun tunggal, seperti tampak pada gambar dibawah ini :

Cara perbanyakan tanaman dengan stek l ruas berdaun tunggal adalah sebagai berikut :
- Mengambil bahan stek dari pohon induk yang telah diseleksi.
- Semua sulur buah dipotong dekat pangkalnya.
- Memotong ujung ruas sulur panjat 0,5 cm diatas akar panjat dan berdaun tunggal.
- Memotong dibawah akar panjat dengan arah miring 5 cm searah daun penumpu. Pemotongan arah miring supaya karbohidrat hasil fotosintesa dari daun bersama auxin dapat bergerak lebih cepat kebawah sehingga memepercepat pertumbuhan akar dan memperluas bidang perakaran bagi akar adventif.
- Memotong daun penumpu sepertiga sampai setengah bagian sesuai dengan besarnya daun (dikupir). Pemotongan daun untuk mencegah kehilangan air yang banyak karena proses transpirasi.
Penggunaan zat tumbuh dapat merangsang pembentukan akar sehingga diperoleh perakaran yang baik. Pemakaian Rhizopon AA pada stek 1 ruas berdaun tunggal yang diberikan pada akar lekatnya dan bekas potongan stek dapat memperbaiki kemampuan pembentukkan akar dan pertumbuhan stek (Zaubin, 2001).
Bahan dan alat yang dipergunakan untuk perbanyakan tanaman dengan cara penyetekan yaitu:
1. Sulur tanaman lada yang telah diseleksi.
2. Hormon pertumbuhan, seperti : Rhizopon dan lain lain.
3. Gunting stek.
4. Embrat ( gembor ) dan lap bersih.
5. Tangga, untuk pengambilan bahan tanaman dari kebun produksi.





Seleksi bahan tanaman untuk penyetekan dilakukan berdasarkan pada:
1. Pengujian karbohidrat pada bekas potongan stek dengan Kalium Iodidat (KIO 3).
2. Ada tidaknya mata tidur pada ketiak daun.
3. Banyaknya / rimbunnya akar lekat.
4. Apakah sulur tanaman menunjukkan gejala penyakit atau tidak.
Saat pemotongan sulur panjat untuk bahan stek hanya dilakukan pada waktu pagi hari (jam 06.00 – 10.00) atau sore hari (jam 15.00 – 18.00). Ini dilakukan untuk mancegah kerusakan bahan tanaman ( bahan stek ) agar tidak layu karena kepanasan.
Diperhatikan pula, waktu pengambilan bahan tanaman untuk penyetekan dengan waktu tanam dan cara tanam yang akan dilakukan. Cara tanam yang dimaksud adalah apakah penanaman langsung dilakukan dengan memakai stek 7 ruas atau stek 1 ruas berdaun tunggal yang telah ditumbuhkan dan dipelihara sebelumnya. Bila penanaman memakai 7 ruas maka pengambilan bahan stek dilakukan menjelang waktu tanam dengan memperhitungkan kebutuhan waktu untuk pengiriman bahan stek ke kebun. Bila penanaman dilakukan dari stek 1 ruas berdaun tunggal yang telah dipelihara maka pengambilan bahan tanaman dilakukan ± 6 bulan sebelum waktu tanam. Hal ini karena tahapan pesemaian dan pembibitan diperlukan sampai bibit siap tanam.









2. Cara pengambilan bahan stek lada asal kebun bibit yaitu : lakukan pemotongan (topping) pada kuncup atau pucuk tanaman dan didiamkan selama satu bulan, Bila topping tidak dilakukan maka ruas pertama, kedua dan ketiga dihilangkan karena bahan stek masih terlalu muda.
Cara pengambilan bahan stek lada asal kebun produksi : ruas pertama, kedua dan ketiga dari pucuk tanaman tidak dipakai karena pada ruas tersebut belum banyak terdapat karbohidrat. Ruas keempat, kelima dan seterusnya dapat dipergunakan sebagai bahan stek.

3. Kondisi sulur panjat yang dapat digunakan untuk bahan stek lada yaitu dari tanaman yang sehat dan kuat, sulur cukup besar dan setengah mengayuh, daun berwarna hijau tua dan tidak menunjukkan gejala gejala abnormal (becak / kerinting), akar lekat pada buku ruas cukup banyak dan aktif.

4. Perbanyakan tanaman lada dengan menggunakan stek panjang 7 ruas dianggap kurang ekonomis karena jumlah kebutuhan stek yang besar, sedang untuk tujuan penelitian dapat mengakibatkan meningkatnya ragam karena besarnya pemakaian bahan tanaman.

5. Cara perbanyakan tanaman lada dengan stek l ruas berdaun tunggal
- Mengambil bahan stek dari pohon induk yang telah diseleksi.
- Semua sulur buah dipotong dekat pangkalnya.
- Memotong ujung ruas sulur panjat 0,5 cm diatas akar panjat dan berdaun tunggal.
- Memotong dibawah akar panjat dengan arah miring 5 cm searah daun penumpu.
- Memotong daun penumpu sepertiga sampai setengah bagian sesuai dengan besarnya daun (dikupir).

Cara perbanyakan tanaman lada dengan stek l ruas berdaun tunggal :
- Mengambil bahan stek dari pohon induk yang telah diseleksi.
- Semua sulur buah dipotong dekat pangkalnya.
- Memotong ujung ruas sulur panjat 0,5 cm diatas akar panjat dan berdaun tunggal.
- Memotong dibawah akar panjat dengan arah miring 5 cm searah daun penumpu.
- Memotong daun penumpu sepertiga sampai setengah bagian sesuai dengan besarnya daun (dikupir).


Tes Formatif 1

Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan cara dilingkari.
1. Perbanyakan generatif dengan biji tidak baik karena :
A. Sulur lada tumbuh butuh waktu panjang untuk berbuah dan tidak menjamin hasil yang baik.
B. Sulur lada tumbuh butuh waktu cepat untuk berbuah dan tidak menjamin hasil yang baik.
C. Sulur lada tumbuh butuh waktu cepat untuk berbuah dan dijamin hasil yang baik.
D. Sulur lada tumbuh butuh waktu panjang untuk berbuah dan dijamin hasil yang baik.





2. Cara pengambilan bahan stek dari kebun bibit lebih dulu dilakukan “topping” pada pucuk tanaman bertujuan untuk :
A. Penimbunan karbohidrat sebagai energi pembentukan sulur dan meningkatkan persentase tumbuh stek lada.
B. Penimbunan karbohidrat sebagai energi pembentukan akar dan menciptakan keseragaman bahan stek.
C. menciptakan keseragaman bahan stek dan pembentukan sulur lada
D. Menjamin pertumbuhan tanaman induk selanjutnya karena pengambilan bahan stek.

1. Bahan stek dari kebun. produksi berasal dari :
A. Ruas pertama, kedua dan ketiga dari pucuk tanaman
B. Sulur panjat yang telah mengayu
C. Ruas keempat, kelima dan seterusnya dari pucuk tanaman.
D. Sulur tanah untuk memperbanyak perakaran.

2. Pemotongan arah miring bahan stek terpilih 5 cm dibawah searah daun penumpu agar :
A. Zat pengatur tumbuh hasil fotosintesa bersama auxin bergerak lebih cepat kebawah sehingga mempercepat pertumbuhan akar.
B. Memperluas bidang perakaran bagi akar adventif.
C. mempercepat pertumbuhan akar.
D. Karbohidrat hasil fotosintesa dari daun bersama auxin bergerak lebih cepat kebawah sehingga mempercepat pertumbuhan akar dan memperluas bidang perakaran bagi akar adventif.



Pesemaian Tanaman Lada 2.


Pesemaian tanaman lada bertujuan untuk merubah fungsi akar lekat menjadi akar adventif. Media pesemaian (media perakaran) sangat mempengaruhi perkembangan akar dan menentukan persentase akar-akar stek yang dibentuk. Media pesemaian sebaiknya terdiri dari bahan-bahan yang longgar, tetapi harus dapat menahan kelembaban serta memberikan aerasi dan drainase yang baik.
Perakaran dapat berlangsung baik bila pesemaian dilakukan di bak pasir. Pada media ini akar akan menembus dan berkembang dengan mudah bila keadaan suhu dan kelembaban optimal.
Sebelum pesemaian dilakukan, terlebih dahulu media pesemaian disterilkan, dengan maksud mencegah serangan hama dan penyakit serta menekan pertumbuhan gulma. Di petani Lampung, sterilisasi dilakukan dengan menggunakan Cobox, Vapam, Shel DD dan Deathene M45. Sterilisasi media ini dilakukan 2 minggu sebelum tanaman disemai.
Di petani Lampung, bak-bak untuk media pesemaian disusun dari bawah kelapisan atas sebagai berikut :
- Lapisan bawah : batu koral setebal 5 – 10 cm.
- Lapisan tengah : ijuk setebal 10 cm.
- Lapisan atas : pasir setebal 20 – 25 cm.
Batu koral dan ijuk dibutuhkan untuk mencegah terciptanya drainase yang jelek saat penyiraman, seperti tampak pada gambar dibawah ini :
Pesemaian dapat dilakukan di bak-bak pasir di dalam rumah kaca dan di lapangan. Bila dalam rumah kaca (green house), pesemaian dapat dilakukan terus menerus sepanjang tahun. Hal ini dapat dimengerti karena jika pesemaian dilakukan dalam rumah kaca, disamping dilakukan dalam skala kecil, beberapa faktor pembatas seperti suhu (temperatur) dan kelembaban dapat diatur. Bila pesemaian dilakukan di lapangan dengan skala besar, sebaiknya dilakukan di musim hujan agar persentase kematian serendah mungkin. Disamping itu pesemaian yang dilakukan di musim hujan dapat menekan intensitas dan kebutuhan biaya penyiraman.
Untuk pesemaian di lapangan hanya digunakan lapisan pasir setebal 20 cm. karena air yang diberikan saat penyiraman ke pesemaian dapat langsung lolos diserap oleh tanah.
Bak-bak untuk media pesemaian dibuat dengan ukuran lebar 1 – 1.20 m, sedang panjangnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap bak pesemaian dibatasi dengan selokan-selokan pembuang air yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untukmempermudah pekerjaan menanam, menyiram dan memindahkan stek. Ukuran selokan dibuat dengan dalam 20 cm dan lebar 30 cm. Untuk mencegah runtuhnya atau hanyutnya air, sisi sisi bak diperkuat dengan sekat-sekat penahan dari papan kayu yang panjangnya disesuaikan dengan ukuran petakan pesemaian.
Karena bahan stek yang disemai tidak tahan panas terik matahari maka pesemaian perlu dibuatkan bedengan. Atap bedengan (atap pesemaian) dapat dibuat dari rumbia, anyaman bambu, alang-alang dan sebagainya. Di petani Lampung, atap bedengan dibuat dari rumbia untuk beberapa media pesemaian. Atap dibuat sedikit miring kea rah Timur agar cahaya matahari pagi dapat masuk lebih banyak dibandingkan dengan cahaya matahari sore. Menurut Wahid (1981) intensitas naungan dari atap yang digunakan sebaiknya berkisar antara 50 – 60 %.
Pemeliharaan selama stek di pesemaian yang terpenting yaitu penyiraman. Disamping penyiraman, penyiangan dan pemberantasan hama dan penyakit juga diperlukan. Penyiraman menggunakan sprayer dilakukan pada 2 minggu pertama setiap 3 kali sehari pada pukul 07.00; 12.00 dan 17.00. Bila penyiraman menggunakan embrat (gembor) dapat mengakibatkan bahan stek menjadi busuk karena pemakaian air terlalu banyak. Setelah minggu ketiga penyiraman dilakukan 2 kali sehari setiap pukul 07.00 dan 13.00. Saat minggu keempat penyiraman hanya dilakukan satu kali sehari yaitu pagi hari.
Setelah bahan stek di pesemaian berumur ± 6 minggu, stek dicongkel (diungkit) dengan belahan kayu atau bambu yang agak runcing untuk dipindahkan ke pembibitan. Dalam pencabutan harus dicegah kerusakan putusnya akar dan pasir dibiarkan melekat dipermukaan akar, seperti tampak pada gambar dibawah ini :


















3. Bahan stek dari kebun produksi berasal dari :
A. Ruas pertama, kedua dan ketiga dari pucuk tanaman
B. Sulur panjat yang telah mengayu
C. Ruas keempat, kelima dan seterusnya dari pucuk tanaman.
D. Sulur tanah untuk memperbanyak perakaran

4. Pemotongan arah miring bahan stek terpilih 5 cm dibawah searah daun penumpu agar :
A. Zat pengatur tumbuh hasil fotosintesa bersama auxin bergerak lebih cepat kebawah sehingga mempercepat pertumbuhan akar.
B. Memperluas bidang perakaran bagi akar adventif.
C. mempercepat pertumbuhan akar.
D. Karbohidrat hasil fotosintesa dari daun bersama auxin bergerak lebih cepat kebawah sehingga mempercepat pertumbuhan akar
Pembibitan Tanaman Lada 3.


Perbedaaan tujuan pesemaian dengan pembibitan adalah pesemaian untuk perakaran yang sangat menentukan keberhasilan usaha penyetekan, sedangkan pembibitan untuk menumbuhkan semaian yang sudah jadi sehingga dapat diperoleh bibit yang baik pertumbuhannya. Oleh sebab itu, pada fase pembibitan kesuburan media bibit sangat menentukan baik buruknya pertumbuhan bibit.
Media pembibitan lada yang digunakan terdiri dari 7 bagian tanah, 3 bagian pupuk kandang dan 0.5 gram dolokal tiap kilogram tanah. Pupuk kandang yang diberikan bukan hanya sebagai sumber nutrisi, tetapi juga untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah. Pemberian dolokal untuk menyediakan pupuk Kalsium dan Magnesium.
Sebelum media pembibitan lada digunakan, terlebih dahulu disterilkan dengan jalan penyiraman larutan Vapam konsentrasi 1 – 2 % sebanyak 2 – 3 liter tiap meter kubik atau digunakan Shell DD yang diberikan dengan jalan injeksi memakai pom[pa fumigasi. Agar sterilisasi dapat efektif setelah penyiraman Vapam atau fumigasi dengan Shell DD, tumpukan media ditutup rapat dengan lembaran plastic. Sepuluh hari kemudian tutup plastic dibuka. Setelah 5 hari terbuka media pembibitan siap digunakan.
Di petani Lampung, pembibitan dilakukan di dalam pot dan kantong polibag. Keuntungan pemakaian kantong polibag yaitu :
1. Pemindahan bibit ( pencabutan ) tidak diperlukan saat penyaluran dan penanaman dikebun.
2. Tidak terjadi transplanting shock waktu penanaman.
3. Tidak memerlukan penyiangan.
4. Lebih murah karena bibit dari media pembibitan tidak dipindahkan dalam bentuk cabutan.
5. Bibit dapat langsung disalurkan dan dikirim bila telah cukup umur.

Diperhatikan pula saat media bibit dimasukkan pada polybag, polybag dilipat kearah luar sekitar 3 cm untuk memudahkan pengangkutan saat pemindahan polybag. Selain itu pembibitan dengan menggunakan pot pot tanah mempunyai keuntungan yaitu pot sebagai media bibit dapat dipergunakan kembali.
Cara pelaksanaan pembibitan adalah dengan menanam semaian secara vertikal ( menugal ) di tengah tengah polybag yang bergaris tengah 10 cm dan tinggi 15 cm dengan 10 buah lubang tiap polybag. Stek lada menghendaki media tumbuh dengan suhu 23OC -25O C dan kadar air pada kapasitas lapang. Akar hasil semaian seluruhnya dibenamkan arah kebawah agar transportasi penyerapan unsur hara tidak terhambat. Agar kedudukan bibit tidak berubah, pada saat menanam tanah disekitar bibit sedikit dipadatkan dengan cara menekannya.
Setelah media bibit ditaruh dilokasi, lokasi pembibitan segera ditentukan. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan dan Institut Pertanian Bogor (1983), hal yang perlu diperhatikan untuk lokasi pembibitan adalah sebagai berikut :
1. Dekat jalan.
2. Dekat sumber air
3. Terletak dekat daerah penanaman untuk memudahkan pengangkutan.
4. Lokasi pembibitan tanahnya subur dan jauh dari sumber hama dan penyakit.

Karena pembibitan merupakan tindak lanjut dari kegiatan pesemaian, maka pembuatan bedengan untuk tempat pembibitan, selain dekat pesemaian, kemiringan naungan dan intensitas penyinaran (cahaya matahari) sama dengan tempat pesemaian.
Untuk mendapatkann pertumbuhan yang maksimum selama pemeliharaan bibit yang ditanam di dalam polibag, pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk makro dan mikro yaitu :
a. Nutrifol, sebagai sumber N, P dan K dilarutkan 2 gram tiap liter, diberikan 30 cc tiap pohon, dengan selang aplikasi 1 minggu untuk 1 kali.
b. Fe-chelate, dalam bentuk cairan sebagai sumber unsure Fe, stock solution diencerkan 12 kali diberikan 30 cc tiap pohon langsung pada polibag, larutan Fe 0.17 %, dengan selang aplikasi 4 minggu sekali.
c. MnSO4 dalam bentuk cairan sebagai sumber unsure Mn, stock solution diencerkan 20 kali diberikan 30 cc tiap pohon, larutan Mn 0.25 % dengan selang aplikasi 4 minggu sekali.
d. MgSO4, dalam bentuk cairan sebagai sumber unsure Mg, stock solution diencerkan 20 kali, diberikan 30 cc tiap pohon, larutan Mg 0. 25 % dengan selang aplikasi 2 minggu sekali.

Cara pemupukan yang lain, dapatlah dilakukan yaitu pemupukan melalui daun. Penggunaan pupuk daun seperti Wuxal, Bayfolan, Gandasil dan sebagainya berpengaruh baik terhadap pertumbuhan bibit. Cara ini dianggap menguntungkan karena faktor-faktor tanah yang dapat menghambat tersedianya unsure hara, seperti pencucian, fiksasi, pH dan sebagainya dapat dihindari. Selain itu manfaatnya telah tampak dalam waktu yang relative singkat. Zaubin (1982) membuktikan bahwa Gandasil D dan Complesal Fluid dengan konsentrasi 0.2 % yang diberikan sekali seminggu memberikan respon pertumbuhan yang sangat baik. Penyiraman merupakan tindakan pembibitan yang terpenting. Penyiraman dilakukan secukupnya setiap hari terutama pada waktu tidak ada hujan.


Kerjakanlah latihan dibawah ini !
1. Jelaskan mengapa media pesemaian untuk penyetekan lada dilakukan sterilisasi terlebih dahulu.
2. Jelaskan susunan media semai yang baik untuk penyetekantanaman lada.
3. Jelaskan penanaman stek lada di media semai.

Petunjuk Jawaban Latihan
1. Sebelum pesemaian dilakukan, terlebih dahulu media pesemaian disterilkan, dengan maksud mencegah serangan hama dan penyakit serta menekan pertumbuhan gulma.

2. Susunan media semai untuk stek lada dari bawah kelapisan atas yaitu :
- Lapisan bawah : batu koral setebal 5 – 10 cm.
- Lapisan tengah : ijuk setebal 10 cm.
- Lapisan atas : pasir setebal 20 – 25 cm.

Batu koral dan ijuk dibutuhkan untuk mencegah terciptanya drainase yang jelek saat penyiraman

3. Penanaman stek dilakukan lada secara vertikal dan bagian sulur dibawah daun, ditanam seluruhnya ke dalam media pesemaian. Bagian sulur sebelah atas tangkai daun serta tangkai dan helai daun berada diatas permukaan media. Bagian akar lekat dan mata tidur diusahakan merata terbenam dekat permukaan media semai, lalu media sekitar bahan stek sedikit dipadatkan.


Rangkuman

Pesemaian tanaman lada bertujuan untuk merubah fungsi akar lekat menjadi akar adventif. Media pesemaian sebaiknya terdiri dari bahan-bahan yang longgar, tetapi harus dapat menahan kelembaban serta memberikan aerasi dan drainase yang baik. Perakaran dapat berlangsung baik bila pesemaian dilakukan di bak pasir. Untuk pesemaian di lapangan digunakan lapisan pasir setebal 20 cm. karena air yang diberikan saat penyiraman ke pesemaian dapat langsung lolos diserap oleh tanah.
Bak-bak untuk media pesemaian dibuat dengan ukuran lebar 1 – 1.20 m, sedang panjangnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap bak pesemaian dibatasi dengan selokan-selokan pembuang air yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untukmempermudah pekerjaan menanam, menyiram dan memindahkan stek. Ukuran selokan dibuat dengan dalam 20 cm dan lebar 30 cm. Untuk mencegah runtuhnya atau hanyutnya air, sisi sisi bak diperkuat dengan sekat-sekat penahan dari papan kayu yang panjangnya disesuaikan dengan ukuran petakan pesemaian.
Karena bahan stek yang disemai tidak tahan panas terik matahari maka pesemaian perlu dibuatkan bedengan. Atap bedengan (atap pesemaian) dapat dibuat dari rumbia, anyaman bambu, alang-alang dan sebagainya. Di petani Lampung, atap bedengan dibuat dari rumbia untuk beberapa media pesemaian. Atap dibuat sedikit miring kea rah Timur agar cahaya matahari pagi dapat masuk lebih banyak dibandingkan dengan cahaya matahari sore.
Penanaman stek dilakukan secara vertikal dan bagian sulur dibawah daun yang panjangnya ± 5 cm, ditanam seluruhnya ke dalam media pesemaian. Bagian sulur sebelah atas tangkai daun serta tangkai dan helai daun berada diatas permukaan media. Bagian akar lekat dan mata tidur diusahakan merata terbenam dekat permukaan media semai, lalu media sekitar bahan stek sedikit dipadatkan. Untuk mencegah daun mencercah media pesemaian yang dapat mengakibatkan terjadinya pembusukan, daun ditopang dengan tali raffia yang kedua ujungnya dikuatkan dengan patok-patok bambu.



Tes Formatif 2

Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan cara dilingkari.

1. Stek di pesemaian tanaman lada bertujuan :
A. Merubah fungsi akar lekat menjadi akar tunggang
B. Merubah fungsi akar lekat menjadi akar adventif.
C. Merubah stek menjadi akar lekat
D. Merubah sulur panjat menjadi akar serabut

2. Cara pengambilan bahan stek dari kebun bibit lebih dulu dilakukan “topping” pada pucuk tanaman bertujuan untuk :
A. Penimbunan karbohidrat sebagai energi pembentukan sulur dan
meningkatkan persentase tumbuh stek lada.
B. Penimbunan karbohidrat sebagai energi pembentukan akar dan menciptakan keseragaman bahan stek.
C. Menciptakan keseragaman bahan stek dan pembentukan sulur lada
D. Menjamin pertumbuhan tanaman induk selanjutnya karena pengambilan bahan stek.

Di bedengan, bibit disusun rapat dan untuk setiap 10 X 10 barisan bibit di dalam barisan diberi jarak 10 cm sedang jarak antar barisannya 30 – 40 cm, pengaturan penempatan ini memudahkan berbagai pekerjaan dan penghitungan bibit, sepserti tampak pada gambar dibawah ini :
























Gambar. Pembibitan Pemeliharaan di Bedengan Dari Stek 1 Ruas Berdaun Tunggal.

Lama pembibitan berkisar antara 3 – 5 bulan sejak waktu pesemaian dengan pertumbuhan mencapai 6 – 7 ruas. Ukuran ini sangat ideal untuk ditanam di kebun, seperti tampak pada gambar dibawah ini :
Seleksi bibit sebelum ditanam di lapangan penting untuk memperoleh tanaman yang sehat dan dapat memberikan jaminan kepastian mendapat hasil. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan dan Institut Pertanian Bogor (1983), penetapan bibit yang baik yaitu :
1. Dari varietas yang dianjurkan.
2. Bahan tanam berasal dari pohon induk terpilih yang tumbuh sehat dan bebas dari penyakit.
3. Tinggi tanamannya mencapai 7 ruas, daun berwarna hijau, ruas sulurnya sehat dan akar lekat setiap buku ruas rimbun.
4. Pertumbuhannya seragam, agar di lapangan tanaman tumbuh seragam.
Perlakuan pemindahan bibit ke pertanaman yang penting yaitu penyiraman terlebih dahulu, hal ini untuk mencegah kekeringan. Juga bibit dicegah dari terik matahari agar bibit terhindar dari kelayuan. Pemindahan bibit lada ke pertanaman ini disesuaikan dengan jenis sarana angkutan yang tersedia.
Rangkuman

Tujuan pesemaian adalah menumbuhkan perakaran yang sangat menentukan keberhasilan usaha penyetekan, sedangkan pembibitan untuk menumbuhkan semaian yang sudah jadi sehingga dapat diperoleh bibit yang baik pertumbuhannya. Oleh sebab itu, pada fase pembibitan kesuburan media bibit sangat menentukan baik buruknya pertumbuhan bibit.
Pembibitan dilakukan di dalam pot dan kantong polibag. Keuntungan pemakaian kantong polibag yaitu :
a. Pemindahan bibit ( pencabutan ) tidak diperlukan saat penyaluran dan penanaman dikebun.
b. Tidak terjadi transplanting shock waktu penanaman.
c. Tidak memerlukan penyiangan.
d. Lebih murah karena bibit dari media pembibitan tidak dipindahkan dalam bentuk cabutan.
e. Bibit dapat langsung disalurkan dan dikirim bila telah cukup umur.
Cara pelaksanaan pembibitan adalah dengan menanam semaian secara vertikal ( menugal ) di tengah tengah polybag yang bergaris tengah 10 cm dan tinggi 15 cm dengan 10 buah lubang tiap polybag. Stek lada menghendaki media tumbuh dengan suhu 23OC -25O C dan kadar air pada kapasitas lapang. Akar hasil semaian seluruhnya dibenamkan arah kebawah agar transportasi penyerapan unsur hara tidak terhambat. Agar kedudukan bibit tidak berubah, pada saat menanam tanah disekitar bibit sedikit dipadatkan dengan cara menekannya.
Lama pembibitan berkisar antara 3 – 5 bulan sejak waktu pesemaian dengan pertumbuhan mencapai 6 – 7 ruas.
Seleksi bibit sebelum ditanam di lapangan penting untuk memperoleh tanaman yang sehat dan dapat memberikan jaminan kepastian mendapat hasil.
Kriteria bibit yang baik bagi tanaman lada yaitu :
a. Dari varietas yang dianjurkan.
b. Bahan tanam berasal dari pohon induk terpilih yang tumbuh sehat dan bebas dari penyakit.
c. Tinggi tanamannya mencapai 7 ruas, daun berwarna hijau, ruas sulurnya sehat dan akar lekat setiap buku ruas rimbun.
d. Pertumbuhannya seragam, agar di lapangan tanaman tumbuh seragam.
PERTANAMAN LADA



Pengajiran / Pembuatan Jarak Tanam, Pembuatan Lubang Tanam 1.

Pengajiran / pembuatan Jarak Tanam
Untuk menentukan letak tanaman sehingga lurus dalam barisan maupun antar barisan diadakan pengajiran. Pengajiran dimulai dari pinggir lahan berdasarkan dalil Phytagoras. Cara pengajiran adalah sebagai berikut :
1. Menentukan arah Barat – Timur atau Utara – Selatan.
2. Ditancapkan patokan dan menarik gatris lurus dengan tali sejajar arah Barat – Timur atau Utara – Selatan.
3. Dengan tali patokan dibuat 90O berdasarkan dalil Phytagoras. (Misalnya dengan perbandingan 3 : 4 : 5) menjadi sisi A dan B.
4. Dipasang ajir pada kedua sisi sudut 90O sesuai dengan jarak tanam (misalkan : 2.5 meter).
5. Pada ajir terjauh dari sisi dipasang tali patokan sejajar dan sama panjang dengan sisi B, sehingga diperoleh sisi B1. Pada ajir terjauh dari sisi B dipasang tali patokan sejajar dan sama panjang dengan sisi A sehingga diperoleh sisi A1.
6. Dipasang ajir-ajir dengan jarak 2.5 meter pada sisi A1 dan B1.
7. Memasang tali dari ajir sisi A menuju ajir sisi A1 sehingga sejajar dengan sisi B dan sisi B1, kemudian memasang ajir berjarak 2.5 meter pada garis tersebut.
8. Hal ini dilakukan beberapa kali sesuai dengan jumlah ajir pada sisi A yang menuju ke ajir sisi A1. Demikian seterusnya sehingga diperoleh jarak tanam 2.5 X 2.5 meter.

Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat disebelah Timur ajir (tiang panjat) berjarak 10 cm dari ajir. Lubang tanam berukuran 50 X 50 X 50 cm. Tanah digali dan dipisahkan menjadi 2 bagian yaitu tanah bagian atas (top soil) dan tanah bagian bawah (sub soil), seperti tampak pada gambar dibawah ini :























Gambar. Pembuatan Lubang Tanam Untuk Tanaman Lada

Lubang tanam dibiarkan terbuka selama 1 bulan atau lebih untuk menetralkan sifat asam tanah. Lubang yang akan ditutup diisi dengan tanah atas (top soil) yang telah dicampur dengan pupuk kandang ± 5 kg dan dibentuklah guludan. Pembuatan lubang tanam ± 2 – 3 bulan sebelum penanaman lada yang menggunakan tiang panjat mati.
Rangkuman

Untuk menentukan letak tanaman sehingga lurus dalam barisan maupun antar barisan diadakan pengajiran. Pengajiran dimulai dari pinggir lahan berdasarkan dalil Phytagoras pada daerah datar. Bila pertanaman lada di daerah miring, sebaiknya menggunakan teras bangku.
Lubang tanam dibuat disebelah Timur ajir (tiang panjat) berjarak 10 cm dari ajir. Lubang tanam berukuran 50 X 50 X 50 cm. Tanah digali dan dipisahkan menjadi 2 bagian yaitu tanah bagian atas (top soil) dan tanah bagian bawah (sub soil).
Pembuatan lubang tanam ± 2 – 3 bulan sebelum penanaman lada yang menggunakan tiang panjat mati.
Tiang Panjat Lada dan Penanaman Lada 2.

Tiang Panjat lada
Tiang panjat hidup untuk lada ditanam setelah pengajiran, tepat pada ajir yang ada. Tiang panjat hiduip harus ditanam ± 1 tahun sebelum penanaman lada, sedang tiang panjat mati ditanam sebelum atau bersamaan dengan penanaman lada.
Tiang panjat mati yang digunakan yaitu dari kayu mendaru, melangir, yu gelam dan kayu besi, mempunyai panjang 3 – 4 meter dengan diameter 10 – 15 cm. Tiang panjat mati tersebut ditanam pada kedalaman 50 cm.
Tiang panjat hidup untuk tanaman lada yang banyak digunakan diantaranya adalah dadap duri (Erythrina indica), dadap licin (Erythrina lithosprema), kapuk (Ceiba pelandra) dan gamal (Glyricidia maculate).

Penanaman Bibit Lada
Penanaman bibit lada dilapangan dilakukan dengan stek panjang 7 ruas yang dapat berasal dari pembibitan atau tanpa pembibitan. Penanaman dilakukan seminggu setelah lubang tanam ditutup, dengan terlebih dahulu lubang tanam diisi campuran tanah atas dan pupuk organik. Bibit lada yang akan ditanam, ditempatkan disebelah timur tiang panjat agar proses fotosintesa dapat berlangsung baik selama pertumbuhan.
Cara penanaman bibit lada mirng dengan sudut 30 – 40O ke arah tiang panjat. Empat ruas bagian bawah dibenamkan dalam tanah, dengan terlebih dahulu cabang-cabang dan daun penumpu dihilangkan. Tiga ruas bagian atas yang muncul diatas permukaan tanah sedikit ditegakkan dan disandarkan pada tiang panjat. Akar lekat dari tiga ruas bagian atas itu diletakkan berhadapan dengan tiang panjat, seperti tampak pada gambar diatas.
Untuk tanaman yang berasal dari pembibitan, polibag disobek bagian bawah terlebih dahulu, kemudian bagian sisi polibag disobek dan plastik dibuang. Tanah disekeliling tanaman dipadatkan dengan bagian atas dibuat bumbunan (guludan), seperti tampat pada gambar dibawah ini :
Rangkuman

Tiang panjat hidup untuk lada ditanam setelah pengajiran, tepat pada ajir yang ada. Tiang panjat hiduip harus ditanam ± 1 tahun sebelum penanaman lada, sedang tiang panjat mati ditanam sebelum atau bersamaan dengan penanaman lada.
Tiang panjat mati yang digunakan yaitu dari kayu mendaru, melangir, kayu gelam dan kayu besi, mempunyai panjang 3 – 4 meter dengan diameter 10 – 15 cm. Tiang panjat mati tersebut ditanam pada kedalaman 50 cm.
Tiang panjat hidup untuk tanaman lada yang banyak digunakan diantaranya adalah dadap duri (Erythrina indica), dadap licin (Erythrina lithosprema), kapuk (Ceiba pelandra) dan gamal (Glyricidia maculate).
Cara penanaman bibit lada mirng dengan sudut 30 – 40O ke arah tiang panjat. Empat ruas bagian bawah dibenamkan dalam tanah, dengan terlebih dahulu cabang-cabang dan daun penumpu dihilangkan. Tiga ruas bagian atas yang muncul diatas permukaan tanah sedikit ditegakkan dan disandarkan pada tiang panjat. Akar lekat dari tiga ruas bagian atas itu diletakkan berhadapan dengan tiang panjat, seperti tampak pada gambar diatas.
Untuk tanaman yang berasal dari pembibitan, polibag disobek bagian bawah terlebih dahulu, kemudian bagian sisi polibag disobek dan plastik dibuang. Tanah disekeliling tanaman dipadatkan dengan bagian atas dibuat bumbunan (guludan).
Pemeliharaan Tanaman Lada


Tanaman lada terpilih yang baru ditanam di lapangan perlu dirawat sebaik-baiknya agar benar-benar dapat menjelmakan potensi genetik yang dimilikinya. Pemeliharaan yang dimaksud berupa : penyiraman, penggunaan naungan sementara, pengikatan, penyulaman, pengendalian gulma dan penggemburan tanah, pemberian mulsa, pemangkasan, pembuatan guludan dan saluran drainase, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Penyiraman, Penggunaan Naungan Sementara dan Pengikatan Tanaman Lada 1.

Penyiraman Untuk Tanaman Lada
Tanaman lada yang baru ditanam dilapangan belum mempunyai perakaran yang luas dan dalam, maka penyiraman mutlak dilakukan. Frekwensi penyiraman dilakukan sebagai berikut :
1. Minggu pertama, disiram 2 kali sehari (pagi dan sore).
2. Minggu kedua, disiram 1 kali sehari (sore).
3. Minggu ketiga, disiram 1 kali setiap 3 hari (sore).
Penyiraman dihentikan setelah tunas-tunas baru keluar, biasanya tanaman sudah berumur 4 minggu.
Penggunaan Naungan Sementara Untuk Tanaman Lada.
Yang dimaksud dengan penaungan sementara adalah penaungan yang diberikan terhadap tanaman muda yang baru ditanam. Naungan ini diperlukan untuk mengurangi terik panas matahari, karena tanaman lada muda yang baru ditanam tidak tahan terpaan terik sinar matahari.
Tanaman lada muda yang baru ditanam akan mati kekeringan terkena terpaan sinar matahari yang terlalu terik. Bahan naungan yang dapat digunakan yaitu : alang-alang atau dedaunan yang tidak mudah rontok kepanasan, seperti tampak pada gambar diatas :
Dalam keadaan normal dan baik ± 10 hari setelah tanam, tanaman muda sudah bertunas dan tumbuh. Pada umur ± 1 bulan sesudah tanam, naungan sudah dapat berangsur-angsur dikurangi. Lama naungan yang diperlukan 3 – 5 bulan. Setelah waktu itu, tanaman sudah cukup kuat untuk menerima sinar matahari penuh.

Pengikatan Untuk Tanaman Lada
Setelah bibit di lapangan sudah berumur 5 – 6 bulan tunasnya sudah panjang dan mulai memanjat karena mempunyai akar lekat, tetapi sering karena letaknya terlalu jauh dari tiang panjat atau karena sebab lain, tanaman lada tidak dapat memanjat atau melekat pada tiang panjat sehingga menjadi terkulai.
Hal ini dapat dicegah dengan cara pengikatan pada tiang panjat, seperti tampak pada gambar dibawah ini :

Bahan pengilkat yang baik adalah yang tidak terlalu kuat, sehingga tidak mencekik dan mengganggu pertumbuhan sulur, seperti kulit rami dan gedebok pisang. Bila bahan pengikat dari benang atau tali raffia maka cukup dipilin dan dilipat sehingga mudah dilepas bila sulur tumbuh membesar sedang akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat.
Pekerjaan pengikatan ini perlu dikerjakan secara teratur sekitar 4 minggu sekali. Jika sulur panjat tidak melekat dan tidak dibantu dilekatkan, akan terlepas kemudian tumbuh menggantung. Secara fisiologik sulur tersebut berubah sifat, ia tidak akan menghasilkan cabang buah sehingga menjadi bagian tanaman yang tidak produktif, bahkan menjadi bagian yang bersifat parasitis karena hanya menyerap hasil fotosintesa dari bagian lainnya.
Pada tanaman yang telah dewasa dimana sulur panjat telah mengayu, acapkali akar lekat tidak mampu menahan kerimbunan tajuk sehingga sering terjadi lepasnya sulur panjat yang rimbun dengan cabang buah. Untuk menghindari hal ini perlu dilakukan pengikatan sulur panjat tanaman dewasa baik pada pangkal, tengah maupun tajuk pohon. Berbeda dengan pengikatan pada tanaman lada muda, disini tali pengikat yang digunakan harus cukup kuat.
Rangkuman

Tanaman lada yang baru ditanam dilapangan belum mempunyai perakaran yang luas dan dalam, maka penyiraman mutlak dilakukan.
Frekwensi penyiraman dilakukan sebagai berikut :
1. Minggu pertama, disiram 2 kali sehari (pagi dan sore).
2. Minggu kedua, disiram 1 kali sehari (sore).
3. Minggu ketiga, disiram 1 kali setiap 3 hari (sore).
Penyiraman dihentikan setelah tunas-tunas baru keluar, biasanya tanaman sudah berumur 4 minggu.
Naungan sementara mutlak dibutuhkan bagi tanaman muda yang baru ditanam. Naungan ini diperlukan untuk mengurangi terik panas matahari, karena tanaman lada muda yang baru ditanam tidak tahan terpaan terik sinar matahari.
Bahan naungan yang dapat digunakan yaitu : alang-alang atau dedaunan yang tidak mudah rontok kepanasan
Pada umur ± 1 bulan sesudah tanam, naungan sudah dapat berangsur-angsur dikurangi. Lama naungan yang diperlukan 3 – 5 bulan. Setelah waktu itu, tanaman sudah cukup kuat untuk menerima sinar matahari penuh.
Tujuan pengikatan pada tanaman lada adalah : bila tanaman sudah berumur 5 – 6 bulan tunasnya sudah panjang dan mulai memanjat karena mempunyai akar lekat, tetapi sering karena letaknya terlalu jauh dari tiang panjat atau karena sebab lain, tanaman lada tidak dapat memanjat atau melekat pada tiang panjat sehingga menjadi terkulai. Hal ini dapat dicegah dengan cara pengikatan pada tiang panjat.



Bahan pengilkat yang baik adalah yang tidak terlalu kuat, sehingga tidak mencekik dan mengganggu pertumbuhan sulur, seperti kulit rami dan gedebok pisang. Bila bahan pengikat dari benang atau tali raffia maka cukup dipilin dan dilipat sehingga mudah dilepas bila sulur tumbuh membesar sedang akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat.


Penyulaman, Pengendalian Gulma dan
Penggemburan Tanah 2.

Penyulaman Untuk Tanaman Lada
Penyulaman dilakukan bila terjadi kekosongan tanaman pada lubang tanam. Untuk mendapatkan pertanaman yang seragam, maka bahan sulaman diambil dari bibit yang sama.

Pengendalian Gulma dan Penggemburan Tanah.
Tanaman pengganggu yang tumbuh disekitar tanaman pokok (gulma) dapat menjadi saingan dalam kebutuhan unsure hara, air, cahaya maupun CO2, bahkan dapat merupakan inang bagi hama dan penyakit. Pembersihan gulma dari kebun tanaman lada dengan penyiangan perlu dilakukan secara terus menerus. Jarak waktu penyiangan tergantung pada keadaan iklim dan kecepatan pertumbuhan gulma.





Pada saat tanaman lada masih muda penyiangan harus sering dilakukan karena kebun masih terbuka dan belum bersih dari biji-biji gulma. Pekerjaan penyiangan menjadi jarang dilakukan di musim kemarau pada tanaman lada yang sudah besar dengan tiang panjat hidup, karena pertumbuhan gulma sudah agak tertekan.
Penggunaan pacul untuk penyiangan sedapat mungkin dihindari pada daerah perakaran lada, karena dapat mengakibatkan terputusnya akar lada yang dapat mengganggu pertumbuhannya. Karena prinsip penyiangan tanaman lada adalah siang bersih (clean weeding), maka pembersihan gulma pada daerah perakaran dilakukan dengan pencabutan oleh tangan.
Bersamaan dengan penyiangan dilakukan penggemburan tanah yang disertai perbaikkan guludan / bumbunan. Cangkul dan hand traktor dapat digunakan untuk penggemburan tanah agar aerasi di dalam tanah dapat seimbang sehingga pernafasan akar berkangsung normal.
Karena curah hujan dan akibat lain-lainnya, maka guludan tanaman lada menjadi rata dengan permukaan tanah, tindakan perbaikkan guludan sangatlah diperlukan.
Selang waktu penggemburan tanah dapat disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan yang terutama ditentukan oleh berat ringannya struktur tanah. Bila struktur tanah cukup ringan, tindakan penggemburan tanah tidak diperlukan.
Rangkuman

Penyulaman dilakukan bila terjadi kekosongan tanaman pada lubang tanam. Untuk mendapatkan pertanaman yang seragam, maka bahan sulaman diambil dari bibit yang sama.
Pembersihan gulma dari kebun tanaman lada dengan penyiangan perlu dilakukan secara terus menerus. Jarak waktu penyiangan tergantung pada keadaan iklim dan kecepatan pertumbuhan gulma.
Penggunaan pacul untuk penyiangan sedapat mungkin dihindari pada daerah perakaran lada, karena dapat mengakibatkan terputusnya akar lada yang dapat mengganggu pertumbuhannya. Karena prinsip penyiangan tanaman lada adalah siang bersih (clean weeding), maka pembersihan gulma pada daerah perakaran dilakukan dengan pencabutan oleh tangan.
Penggemburan tanah di kebun lada disertai dengan perbaikkan guludan / bumbunan. Cangkul dan hand traktor dapat digunakan untuk penggemburan tanah agar aerasi di dalam tanah dapat seimbang sehingga pernafasan akar berkangsung normal.
Karena curah hujan dan akibat lain-lainnya, maka guludan tanaman lada menjadi rata dengan permukaan tanah, tindakan perbaikkan guludan sangatlah diperlukan.
Selang waktu penggemburan tanah dapat disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan yang terutama ditentukan oleh berat ringannya struktur tanah. Bila struktur tanah cukup ringan, tindakan penggemburan tanah tidak diperlukan.
Pemberian Mulsa dan Pemangkasan
Tanaman Lada 3.

Pemberian Mulsa Untuk Tanaman Lada
Pemberian mulsa berguna sebagai tambahan bahan organik yang dapat meningkatkan jumlah pori-pori makro tanah sebagai akibat kegiatan jasad hidup dalam tanah. Peningkatan pori-pori makro dapat meningkatkan tersedianya air bagi akar tanaman dan dapar menekan fluktuasi suhu dan kadar air permukaan tanah. Hal ini penting karena tanaman lada memiliki akar yang relatif dangkal.
Cara pemberian mulsa untuk tanaman lada adalah dengan menghamparkan mulsa setebal ± 10 cm disekitar tanaman dengan jarak kurang lebih 20 cm dari batang pokok. Bahan mulsa dapat berupa alang-alang, rumput hasil penyiangan yang dikumpulkan. Tergantung pada panjang pendeknya musim kemarau, pemberian mulsa dapat dilakukan satu atau dua kali pada awal dan pertengah musim kemarau, seperti tampak pada gambar dibawah ini :

Keuntungan pemberian mulsa selain sebagai konsenvasi air, penggunaannya menjadi lebih penting bila tiang panjat lada yang digunakan terbuat dari tiang panjat mati, sedang tanah pertanaman lada memiliki kemampuan menahan air (water holding capacity) yang rendah.



Pemangkasan Tanaman Lada dan Tiang Panjat Lada

A. Pemangkasan Tanaman Lada.
Pemangkasan tanaman lada bertujuan untuk :
1. Memperoleh cabang buah yang banyak.
2. Membentuk mahkota tanaman lada yang baik.
3. Dapat menghasilkan bahan tanaman (stek) untuk bibit dari kebun produksi.
4. Membuang sulur tanah agar pertukrana udara lebih sempurna dan sinar matahari dapat langsung kepokok batang lada.
5. Membuang sulur gantung.
6. Membuang sulur atau cabang yang terserang hama dan penyakit untuk mencegah penularan.
Yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan lada yaitu : (1) faktor iklim dan (2) faktor waktu dan cara pemangkasan.

1. Faktor Iklim.
Untuk melaksanakan pemangkasan lada, faktor iklim (curah hujan) harus diperhatikan. Saat yang tepat untuk melakukan pemangkasan adalah awal musim hujan atau satu sampai dua bulan menjelang berakhirnya musim hujan. Pemangkasan berat dapat dilakukan pada musim hujan, tetapi pada musim kemarau dilakukan pemangkasan ringan saja.
Dengan dilakukannya pemangkasan-pemangkasan ini kita akan memperoleh cabang buah yang banyak dengan bentuk mahkota daun yang rimbun dan baik serta setiap melakukan pangkasan diperoleh bahan tanaman (stek) yang dapat dijadikan bibit.
Biasanya pemangkasan dilakukan 3 – 4 kali saja dan umur tanaman telah mencapai 18 – 24 bulan. Untuk pemangkasan sulur gantung (pemangkasan bentuk) dan sulur tanah dilakukan secara kontinyu sesuai kebutuhan
B. Pemangkasan Tiang Panjat Hidup.
Pemangkasan tiang panjat hidup bertujuan untuk :
1. Mengurangi persaingan intensitas matahari terhadap tanaman lada.
2. Supaya kebun tidak terlalu lembab.
3. Pertukaran udara di dalam kebun menjadi baik.
4. Daun hasil pemangkasan dapat dibuat seresah atau kompos.
Tiang panjat hidup ditanam lebih dahulu 1 tahun sebelum tanaman lada ditanam. Diusahakan tiang panjat tidak mempunyai cabang sebelum mencapai tinggi 3.5 meter. Menjelang penanaman lada, tiang panjat dipangkas dalam. Selanjutnya pemangkasan dilakukan setiap 4 bulan sekali. Pada musim hujan tiang panjat hidup dipangkas berat dan pada musim kemarau dipangkas ringan.
3. Tujuan dari pemangkasan lada adalah :
a. Memperoleh cabang buah yang banyak.
b. Membentuk mahkota tanaman lada yang baik.
c. Dapat menghasilkan bahan tanaman (stek) untuk bibit dari kebun produksi.
d. Membuang sulur tanah agar pertukaran udara lebih sempurna dan sinar matahari dapat langsung ke pokok batang lada.
7. Membuang sulur gantung.
f. Membuang sulur atau cabang yang terserang hama dan penyakit untuk mencegah penularan.

4. Cara pemangkasan lada yaitu :
a. Pemangkasan pertama, dilakukan pada ketinggian 25 – 30 cm dari permukaan tanah. Sesudah pemangkasan akan tumbuh sulur panjat baru. Sulur-sulur ini harus diikatkan kembali pada tiang panjat.
b. Pemangkasan kedua, dilakukan terhadap sulur hasil pangkasan pertama. Saat perlakuan pemangkasan kedua bila sulur panjat hasil pangkasan pertama tadi telah mencapai 10 ruas. Pemangkasan kedua ini dilakukan dengan meninggalkan 3 – 4 ruas dari pangkasan pertama. Sulur panjat yang tumbuh dari hasil pangkasan kedua diikatkan kembali pada tiang panjat.
c. Pemangkasan ketiga dan keempat pada prinsipnya tidak berbeda dengan cara pemangkasan pertama dan kedua.

5. Tujuan pemangkasan tiang panjat hidup bagi tanaman lada
a. Mengurangi persaingan intensitas matahari terhadap tanaman lada.
b. Supaya kebun tidak terlalu lembab.
c. Pertukaran udara di dalam kebun menjadi baik.
d. Daun hasil pemangkasan dapat dibuat seresah atau kompos.

6. Cara pemangkasan tiang panjat hidup bagi tanaman lada yaitu diusahakan tiang panjat tidak mempunyai cabang sebelum mencapai tinggi 3.5 meter. Menjelang penanaman lada, tiang panjat dipangkas dalam. Selanjutnya pemangkasan dilakukan setiap 4 bulan sekali. Pada musim hujan tiang panjat hidup dipangkas berat dan pada musim kemarau dipangkas ringan.



Rangkuman

Pemberian mulsa berguna sebagai tambahan bahan organik yang dapat meningkatkan jumlah pori-pori makro tanah sebagai akibat kegiatan jasad hidup dalam tanah. Peningkatan pori-pori makro dapat meningkatkan tersedianya air bagi akar tanaman dan dapar menekan fluktuasi suhu dan kadar air permukaan tanah. Hal ini penting karena tanaman lada memiliki akar yang relative dangkal.
Cara pemberian mulsa untuk tanaman lada adalah dengan menghamparkan mulsa setebal ± 10 cm disekitar tanaman dengan jarak kurang lebih 20 cm dari batang pokok. Bahan mulsa dapat berupa alang-alang, rumput hasil penyiangan yang dikumpulkan. Tergantung pada panjang pendeknya musim kemarau, pemberian mulsa dapat dilakukan satu atau dua kali pada awal dan pertengah musim kemarau







Pemangkasan tanaman lada bertujuan untuk :
a. Memperoleh cabang buah yang banyak.
b. Membentuk mahkota tanaman lada yang baik.
c. Dapat menghasilkan bahan tanaman (stek) untuk bibit dari kebun produksi.
d. Membuang sulur tanah agar pertukrana udara lebih sempurna dan sinar matahari dapat langsung kepokok batang lada.
e. Membuang sulur gantung.
f. Membuang sulur atau cabang yang terserang hama dan penyakit untuk mencegah penularan.

Yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan lada yaitu : (1) faktor iklim dan (2) faktor waktu dan cara pemangkasan.
1. Faktor Iklim.
Untuk melaksanakan pemangkasan lada, faktor iklim (curah hujan) harus diperhatikan. Saat yang tepat untuk melakukan pemangkasan adalah awal musim hujan atau satu sampai dua bulan menjelang berakhirnya musim hujan. Pemangkasan berat dapat dilakukan pada musim hujan, tetapi pada musim kemarau dilakukan pemangkasan ringan saja.

2. Waktu Pemangkasan
Pemangkasan berat berhubungan dengan pelaksanaan pemupukan tanaman. Guna mendorong pertumbuhan cabang-cabang produktif lebih banyak, tanaman setelah dipangkas dapat segera dilakukan pemupukan. Pemangkasan pertama untuk lada yang berasal dari kebun tanpa melalui penyetekan dilakukan 3 bulan setelah bibit ditanam, sedang bila tanaman lada berasal dari penyetekan dapat dilakukan 6 – 8 bulan setelah ditanam atau telah mempunyai 8 – 10 ruas.

Pemupukan, Pembuatan Guludan dan Saluran
Drainase 4.


a. Pemupukan Untuk Tanaman Lada
Pemupukan adalah setiap usaha pemberian pupuk yang bertujuan menambah persediaan unsure-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil tanaman.
Untuk mencapai tingkat efisiensi pemupukan yang tinggi, diperlukan :
1. Ketepatan jumlah pupuk yang diberikan.
2. Ketepatan jenis pupuk yang diberikan.
3. Ketepatan cara pemberian pupuk.
4. Ketepatan waktu pemberian pupuk.
5. Ketepatan tempat pemberian pupuk.
Ketepatan mana dipengaruhi oleh jenis tanah, keadaan iklim (curah hujan), penyinaran serta tanaman sendiri.
Petunjuk pelaksanaan pemupukan yaitu :

A. Pemupukan untuk tanaman lada muda
Umur tanaman 3 – 12 bulan
Total dosis : 100 – 200 gram N.P.K.Mg tiap tanaman tiap tahun.
Frekwensi : 4 kali setahun pada umur 4, 6, 8, 10 dan 12 bulan selama hujan masih mencukupi.
Perbandingan dosis untuk pemupukan pertama, kedua, ketiga dan keempat masing-masing berkisar antara 25 – 50 gram N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2 tiap tanaman atau campuran dari :
- 15 – 30 gram Urea; - 15 – 30 gram SP36
- 16 – 33 gram KCl; - 4 – 8 gram Kieserit


Umur tanaman 1 – 2 tahun.
Total dosis : 200 – 400 gram N. P. K. Mg tiap tanaman, tiap tahun.
Frekwensi : 4 kali setahun dengan selang waktu 3 bulan selama hujan masih mencukupi.
Perbandingan dosis untuk pemupukan pertama, kedua, ketiga dan keempat masing-masing berkisar antara 50 – 100 gram N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2. tiap tanaman atau campuran dari :
- 30 – 60 gram Urea; - 30 – 60 SP36.
- 33 – 60 gram KCl; 8 – 16 gram Kieserit.
-
B. Pemupukan untuk tanaman lada produktif.
Sesudah tanaman berumur 3 – 4 tahun
Total dosis : 800 – 1600 gram N, P, K, Mg tiap tanaman tiap tahun.
Frekwensi : 3 kali setahun, yaitu awal musim hujan dengan selang waktu 2 bulan sekali (September/ Oktober, Nopember/Desember, Januari/Pebruari).
Perbandingan dosis untuk :
Pemupukan pertama, ± 710 gran N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2. tiap tanaman atau campuran dari :
- ± 426 gram Urea; ± 426 gram SP36.
- ± 468.5 gram KCl; ± 113.5 gram Kieserit.
Pemupukan kedua, ± 530 gram N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2. tiap tanaman atau campuran dari :
- 318 gram Urea; ± 316 gram SP36
- 350 gram KCl; ± 85 gram Kieserit
Pemupukan ketiga, ± 360 gram N. P. K. Mg 12. 12. 12. 17. 2. tiap tanaman atau campuran dari :
- ± 216 gram Urea; ± 216 gram SP36
- 238 gram KCl; ± 58 gram Kieserit.



Pemberian pupuk dilakukan pada batas tajuk (kanopi) tanaman dengan cara pemberian arah Utara – Selatan untuk tanaman berumur 3 – 12 bulan, sedang untuk tanaman berumur diatas 12 bulan pemberian pupuknya setengah lingkaran. Alur dutup kembali setelah pupuk diberikan, seperti tampak pada gambar dibawah ini :
Dosis pemupukan diatas terutama ditujukan untuk jenis tanah Alfisol dengan tipe iklim B menurut Schmidt dan Ferguson. Untuk jenis tanah dan tipe iklim yang berlainan kemungkinan dosis pemupukan berbeda.

b. Pembuatan Guludan Dan Saluran Drainase
Pembuatan guludan dapat memberikan kenaikkan hasil dan pertumbuhan yang lebih baik karena aliran air hujan mengalir dipermukaan tanah menjauhi pangkal batang tanaman lada. Keadaan yang lembab pada daerah perakaran lada dapat menyebabkan penyakit busuk pangkal batang berkembang.
Karena tercuci oleh air hujan dan sebab sebab lain, guludan menjadi turun dan perlu dinaikkan dengan jalan membumbun kembali. Perbaikkan guludan bersamaan dengan penyiangan yaitu setiap 2 – 3 bulan sekali dengan mencampurkan hasil siangan dan diangkat disekitar tanaman lada. Selain dapat menambah bahan organic juga dapat menggemburkan tanah.
Pada tanah datar atau cekung perlu dibuat saluran drainase (saluran pembuang) dan saluran sekeliling kebun untuk mencegah terjadinya penggenangan air di kebun. Tanaman lada tidak tahan tergenang air. Saluran dibuat melintang dan memanjang lereng dengan jarak 50 m dengan ukuran lebar 30 cm dan dalam 50 cm. Sedang saluran keliling kebun dibuat dengan ukuran lebar 40 cm dan dalam 60 cm, seperti tampak pada gambar dibawah ini :





Perbaikkan saluran drainase dan saluran keliling kebun dilakukan 6 bulan sekali, setiap awal dan akhir musim hujan. Saluran dapat berfungsi dengan baik karena pendangkalan saluran akibat penghanyutan tanah dinaikkan kembali keatas bagian saluran.
Rangkuman

Pemupukan untuk tanaman lada muda
Umur tanaman 3 – 12 bulan
Total dosis : 100 – 200 gram N.P.K.Mg tiap tanaman tiap tahun.
Perbandingan dosis untuk pemupukan pertama, kedua, ketiga dan keempat masing-masing berkisar antara 25 – 50 gram N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2 tiap tanaman
Frekwensi : 4 kali setahun pada umur 4, 6, 8, 10 dan 12 bulan selama hujan masih mencukupi atau campuran dari :
- 15 – 30 gram Urea; - 15 – 30 gram SP36
- 16 – 33 gram KCl; - 4 – 8 gram Kieserit
Umur tanaman 1 – 2 tahun.
Total dosis : 200 – 400 gram N. P. K. Mg tiap tanaman, tiap tahun.
Perbandingan dosis untuk pemupukan pertama, kedua, ketiga dan keempat masing-masing berkisar antara 50 – 100 gram N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2. tiap tanaman.
Frekwensi : 4 kali setahun dengan selang waktu 3 bulan selama hujan masih mencukupi


atau campuran dari :
- 30 – 60 gram Urea; - 30 – 60 SP36.
- 33 – 60 gram KCl; 8 – 16 gram Kieserit.
Pemupukan untuk tanaman lada produktif.
Sesudah tanaman berumur 3 – 4 tahun
Total dosis : 800 – 1600 gram N, P, K, Mg tiap tanaman tiap tahun.
Perbandingan dosis untuk :
Pemupukan pertama, ± 710 gran N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2. tiap tanaman atau campuran dari :
- ± 426 gram Urea; ± 426 gram SP36.
- ± 468.5 gram KCl; ± 113.5 gram Kieserit.
Pemupukan kedua, ± 530 gram N. P. K. Mg 12. 12. 17. 2. tiap tanaman atau campuran dari :
- 318 gram Urea; ± 316 gram SP36
- 350 gram KCl; ± 85 gram Kieserit
Pemupupukan ketiga, ± 360 gram N. P. K. Mg 12. 12. 12. 17. 2. tiap tanaman atau campuran dari :
- ± 216 gram Urea; ± 216 gram SP36
- 238 gram KCl; ± 58 gram Kieserit.
Frekwensi : 3 kali setahun, yaitu awal musim hujan dengan selang waktu 2 bulan sekali (September/ Oktober, Nopember/Desember, Januari/Pebruari).

Pembuatan guludan dapat memberikan kenaikkan hasil dan pertumbuhan yang lebih baik karena aliran air hujan mengalir dipermukaan tanah menjauhi pangkal batang tanaman lada. Keadaan yang lembab pada daerah perakaran lada dapat menyebabkan penyakit busuk pangkal batang berkembang.



Karena tercuci oleh air hujan dan sebab sebab lain, guludan menjadi turun dan perlu dinaikkan dengan jalan membumbun kembali. Perbaikkan guludan bersamaan dengan penyiangan yaitu setiap 2 – 3 bulan sekali dengan mencampurkan hasil siangan dan diangkat disekitar tanaman lada. Selain dapat menambah bahan organic juga dapat menggemburkan tanah.
Pada tanah datar atau cekung perlu dibuat saluran drainase (saluran pembuang) dan saluran sekeliling kebun untuk mencegah terjadinya penggenangan air di kebun. Tanaman lada tidak tahan tergenang air. Saluran dibuat melintang dan memanjang lereng dengan jarak 50 m dengan ukuran lebar 30 cm dan dalam 50 cm. Sedang saluran keliling kebun dibuat dengan ukuran lebar 40 cm dan dalam 60 cm.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Lada 5.


A. Pengendalian Hama Utama Lada

a. Hama Penggerek Batang Lada (Lophobaris spp)
Hama penggerek batang lada (Lophobaris spp) tersebar diseluruh daerah pertanaman lada di Indonesia, termasuk Bangka, Lampung, Kalimantan dan Bogor.
Menurut Kalshoven (1951), sistimatikan Lophobaris piperis adalah sebagai berikut :


Ordo : Coleoptera
Famili : Curculionidae.
Sub Famili : Barinae
Genus : Lophobaris.
Spesies : Lophobaris piperis Marsh
.
Serangga Lophobaris spp mempunyai stadia telur, larva, pupa dan imago. Tanaman inang serangga Lophobaris spp, disamping beberapa verietas lada, juga pada beberapa spesies lada yang telah diintroduksi seperti Piper betle, Piper arifolium, Piper colubrimum, Piper hirsutum dan Piper methysticum.
Telur Lophobaris spp diletakkan pada lubang kecil, biasanya terdapat pada antara ruas dan luka luka pangkasan tanaman lada. Larva yang baru keluar dari telur menggerek jaringan yang ada disekitarnya sehingga membentuk rongga gerek.
Biasanya larva hidup di dalam rongga gerek pada buku-buku ruas batang / cabang yang dekat dengan tempat telur diletakkan. Larva hidup sampai stadia kepompong di dalam jaringan tanaman yang dirusaknya, mengakibatkan tanaman lada rusak dan mati.
Imago Lophobaris spp makan buah, bunga dan pucuk pucuk tanaman lada, sehingga menurunkan kualitas produksi dan menghambat pertumbuhan tanaman.
Daur hidup dari telur sampai kumbang dewasa meletakkan telurnya yang pertama ± 77 hari, yang diperhitungkan dari umur telur ± 7 hari, umur larva ± 28 hari, umur kepompong ± 21 hari dan kumbang mulai meletakkan telur ± 21 hari.
Kumbang dewasa berlindung di sela-sela sulur panjat, pucuk tanaman, diantara tandan buah lada. Kumbang dewasa dengan menggunakan alat mulutnya dapat melukai jaringan tanaman terutama jaringan yang masih lunak. Pada waktu siang hari kumbang dewasa suka tinggal di tempat yang terlindung dari sinar matahari. Pada pertanaman lada yang telah berproduksi kerusakan tanaman akibat serangan Lophobaris spp lebih berat dari pada tanaman yang masih muda.
Pemberantasan dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbentuk granuler dan bersifat sistemik (Furadan 3 G) yang aplikasinya melalui tanah. Diberikan dengan cara membuat alur setengah lingkaran sejajar dengan tajuk tanaman lada, kemudian Furadan 3G dengan dosis 30 gram ditaburkan pada alur dan ditutup kembali dengan tanah.
Aplikasi insektisida Furadan 3 G melalui tanah dengan maksud agar parasit Lophobaris spp (pupa dari Eulophidae dan Euphelmidae serta larva dari Braconidae) dapat berperan. Hal ini dapat terjadi karena insektisida diabsorbsi pada daerah perakaran lada dan menuju seluruh bagian tanaman, sedang imago dan larva Lophobaris spp mati karena menggerek hamper seluruh bagian tanaman lada.
Pemberantasan insektisida dengan aplikasi cara spraying (Supracide 40 EC dengan konsentrasi 0.2 %, Nutrifol dengan konsentrasi 0.2 %) tidak efektif.


Tabel . Populasi Larva dan Papu Lophobaris spp Serta Parasitnya Pada 3 Lokasi Dengan Aplikasi Cara Spraying (Supracide 40 EC 0,2%) di Kebun Percobaan Sub Balittro Natar.
Lokasi LARVA PUPA PARASIT
Penga mat Jum lah Hidup % Mati Krn Insektisida % Mati krn Braconidae % Jum lah Hi dup % Mati Krn Insektisida % Mati Krn Eupelmidae % Braconidae Hidup Mati % Eupelmidae Hidup Mati %
1.


2.


3.

1 hari setelah aplikasi
1minggu setelah aplikasi
Tanpa aplikasi 160


81


66 38,75


62,96


66,60 1,25


6,17


- 60


30,86


33,33 38


42


4 63,16


83,33


50 5,26


11,9


- 31,58


4,47


50 110 39,09


56 14,29


53 0
12 75


2 50


2 0
Keterangan : 1. Jumlah sampai 300 tanaman lada pada setiap lokasi.
1. Setiap sampel tanaman lada diambil bagian tanaman yang menunjukkan gejala serangan, kemudian diamati dilaboratorium.
3. Pengamatan dilakukan pada tanggal 16 – 17 Nopember, 1985
Dari Tabel diatas tampak pemakaian insektisida dengan cara spraying menyebabkan kematian parasit. Besarnya persentase kematian larva dan pupa akibat insektisida lebih rendah dibandingkan dengan insektisida cara spraying, karena larva dan pupa ada di dalam bagian tanaman terutama bagian cabang.
Bersamaan dengan aplikasi insektisida dilakukan sanitasi dengan cara membuang jaringan tanaman lada yang telah mati. Jaringan tanaman yang mati tersebut kemudian dibakar / dikubur. Bekas luka akibat patahnya bagian tanaman dicat karena Lophobaris spp biasa meletakkan telurnya pada bekas luka bagian tanaman.
Pengamatan di laboratorium dari hasil sanitasi pada cabang dan batang tanaman lada menunjukan besarnya populasi Lophobaris spp, seperti tampak pada tabel dibawah ini :



















Tabel. Populasi Lophobaris spp Pada Berbagai Varietas Tanaman Lada (Piper Nigrum L.) di Kebun Koleksi Sub balittro Natar.
No Varietas Lada Juml ta naman Larva Pupa Imago Jumlah Rata rata
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.

8.

9.

10.
11.
12.

13.
14.
15.

16.
17.
Bulok Belatung.
Jambi.
Kerinci
Kucing.
Pulau Laut A
Bulok Bela tung Bogor
Banjarmasin Daun Lebar.
Jambi Bengkulen.
Jambi Kota Bumi.
Bulok Belatung Lampung.
Serawak Cian.
Banjarmasin Daun Langsing.
Kecil Kota Bumi.
Bangka.
Teluk Bengkulen.
Sedeng Jakarta.
Minyak Aceh. 9
9
12
11
9
9

8

9

6

11

9
7

8
9
10
5
3 19
23
37
19
22
37

21

37

13

43

21
21

29
32
24
16
10 9
8
12
6
9
9

8

11

4

17

4
10

1
0
3
0
1 2
1
5
3
0
2

4

2

1

3

0
3

2
1
2
2
0 30
32
54
28
24
48

33

50

18

63

25
34

32
33
29
18
11 3,33
3,56
4,50
2,54
2,67
5,33

4,12

5,56

5,56

5,73

2,78
4,86

4,00
3,67
2,90
3,60
3,67

Keterangan : 1. Setiap sampai tanaman lada diambil bagian tanaman yang menunjukan gejala serangan, kemudian dibongkar dan diamati larva, pupa dan imago Lophobaris spp.
2. Pengamatan dilakukan pada tanggal 16-17 Nopember.







a. Hama Penghisap Buah Lada (Dasynus piperis China).
Hama penghisap buah lada (Dasynus piperis) mempunyai daerah sebaran di seluruh pertanaman Lada di Indonesia.
Menurut Kalshoven (1951), sistimatika Dasynus piperis adalah sebagai berikut :
Ordo : Hemiptera
Famili : Coreidae
Spesies : Dasynus piperis China

Dasynus piperis mempunyai stadia telur, nympa dan imago. Dasynus piperis dapat bertelur sampai 160 butir selama hidupnya. Telur diletakkan pada tanaman buah lada secara berderet dan berkelompok ± 10 butir. Telur tersebut menetas setelah 7 hari.
Nyimpa menjadi dewasa setelah berumur 25 hari dan pada stadia nympa tersebut terdapat 4 instar (pergantian kulit). Seminggu setelah ganti kulit yang terakhir serangga tersebut kawin. Dalam 1.5 – 2 bulan, serangga tersebut sudah mempunyai generasi baru.
Dasynus piperis dapat hidup 1 – 3 bulan, serangga dewasa suka tinggal pada pertanaman lada yang teduh dan rimbun. Nympa dan serangga dewasa suka menghisap buah lada yang berumur 4.5 – 9 bulan karena pada periode tersebut buah banyak mengandung pati.
Akibat serangan, pada buah lada terdapat bercak-bercak coklat. Apabila serangan cukup berat dapat mengakibatkan buah-bua gugur sebelum masak sehingga kualitasnya kurang baik untuk lada putih dan hanya digunakan sebagai lada hitam. Serangan Dasynus piperis dapat menurunkan produksi sebanyak 1/6 dari produksi normal.
Serangan Dasynus piperis mempunyai musuh alami berupa parasit telur. Jenis parasit tersebut adalah Hydronotus sp, Anastatus sp dan Decrytus malayensis. Dalam musim hujann maupun musim kering musuh alami tersebut mampu memparasit sampai 90 %.
Dasynus piperis peka terhadap insektisida Supracide 0.2 % (2000 liter tiap Ha dalam bentuk cairan). Cara pemberian dengan sistim kalender dengan selang waktu 4 bulan. Dengan kultur teknis misalnya, mengusahakan pertanaman lada tidak terlalu teduh dan rimbun dengan jalan melakukan pemangkasan tiang panjat hidup sehingga sinar matahari cukup menjangkau di sela sela tanaman lada.

a. Hama Penghisap Bunga dan Buah Muda Lada (Diplogomphus hewitti Dist).
Diplogomphus hewitti Dist mempunyai daerah sebaran pada pertanaman lada di Sumatra Utara, Aceh, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Lampung.
Menurut Kalshoven (1951), Sistimatika Diplogomphus hewitti Dist adalah sebagai berikut :
Ordo : Hemiptera.
Famili : Tingidae
Spesies : Diplogomphus hewitti .
Diplogomphus hewitti menghisap bunga dan buah yang masih muda sampai buah lada berumur + 4 bulan. Akibat serangan serangga tersebut butir butir buah lada tidak dapat berkembang dan apabila serangan berat dapat mengakibatkan gugurnya bunga. Kerugian akibat serangan Diplogomphus hewitti dapat mencapai 20 – 50 %. Fluktuasi populasi serangga berkembang sesuai dengan musim pembungaan tanaman lada.
Diplogomphus hewitti mempunyai ukuran panjang + 5,5 mm, berwarna coklat hitam, badannya gepeng dan pada pungungnya menonjol. Diplogomphus hewitti peka terhadap insektisida kontak (Supracide 0,2 %). Pemberantasan dengan insektisida alami dapat dilakukan dengan menggunakan nikotin 1 %.





C. Hama Penggerak tiang panjat lada (Batocera spp)
Batocera spp banyak terdapat didaerah pertanaman lada yang menggunakan tanaman penegak hidup jenis dadap duri (Erytrina Indica), dadap licin (Erytrina lithosperma) dan kapuk (Ceiba petandra)
Menurut Kalhoven (1951), sistematika batocera spp adalah sebagai berikut :
Ordo : Coleoktera
Famili : Jerambisidae
Species : Batocera spp

Batocera spp adalah serangga bersifat polipak, suka merusak tanaman yang masih hidup maupun mati yang berkayu lembek. Adanya serangga batosera spp ditampakkan dengan adanya lubang pada tanaman penegak lada. Bila lubung tersebut terdapat serat serat kayu, menunjukan bahwa seranga tersebut masih aktif menggerek tiang panjat lada.
Batocera spp dewasa makan daun dan kulit batang pohon dan cela antara kulit dan bagian kayu digunakan untuk meletakkan telur. Telur-telur tersebut diselipkan pada bagian kambium. Telur setelah menetas, larvanya menggerek masuk kebagian yang lebih dalam. Pupa berada didalam batang lada lubang gerek yang mengarah keatas. Umur dari telur sampai kumbang dewasa antara 3 – 6,5 bulan.
Penanggulangan serangga batocera spp dapat dilakukan dengan cara tidak menggunakan tiang panjat lada yang menjadi inang serangga tersebut yaitu pohon Gamal (Glirisidia spp).







B. Pengendalian Penyakit Utama Lada

Penyakit Busuk Pangkal Batang (foot rot).

Salah satu penyakit terpenting pada tanaman lada adalah busuk pangkal batang (foot rot). Penyakit tersebut telah menjadi problem pada tanaman lada di Indonesia.
Penyakit busuk pangkal batang disebabkan oleh cendawan Phytopthora palmivora Butler.
Menurut Funder (1968), sistimatika Phytopthora plamivora adalah sebagai berikut :
Phylum : Thallohyta.
Sub Phylum : Fungi
Divisio : Eumycetes
Klas : Phycomycetes.
Ordo : Peronosporales.
Famili : Phytiaceae.
Genus : Phytopthora.
Spesies : Phytopthora palmivora Butler.

Cendawan ini dapat menyerang akar, pangkal batang, daun, cabang, tangkai buah dan buah lada. Erangan paling berbahaya bila terjadi pada pangkal batang maupun akar karena tanaman yang terserang dapat mati dalam tempo relatif singkat. Tambahan lagi bila serangan pada pangkal batang / akar, sukar bagi kita untuk mengetahui saat saat awal serangan. Kebanyakan adanya serangan baru diketahui bila infeksi telah berkembang lebih lanjut dan tanaman tidak mungkin tertolong lagi.
Tiga katagori menurut proses dan terjadinya infeksi tanaman lada oleh penyakit busuk pangkal batang yaitu :
1. Infeksi pada pangkal batang menyebabkan tanaman layu dan mati.
2. Infeksi pada daun dan ranting, tidak menyebabkan tanaman mati seluruhnya.
3. Infeksi pada cabang tanaman, maka kematian hanya pada bagian cabang yang diserang.

Serangan Phytopthora palmivora pada akar dan pangkal batang ditandai dengan layunya daun kemudian menguning dan gugur. Daun gugur disebabkan akar dan pangkal batang telah membusuk, sehingga saluran air dan unsur hara dari akar ke bagiann atas tanaman terhenti. Bila serangan pada daun, terlihat adanya becak-becak berwarna coklat kehitaman dengan pinggiran yang bergerigi. Gejala serangan pada tangkai dan buah ditandai dengan membusuknya bagian tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan penyebaran Phytopthora palmivora yaitu
1. Lingkungan
Lingkungan terdiri dari kelembaban, suhu dan pH tanah. Kelembaban yang tinggi, keadaan mendung dan turunnya suhu karena adanya hujan merangsang zoospore keluar dari sporangia. Pertumbuhan Phytopthora palmivora terbaik pada suhu 25OC – 28OC sedang pada suhu lebih dari 30OC perkembangan Phytopthora palmivora tertekan. Sporulasi terjadi pada pH 6.0 – 7.0 sedang pada pH < 4.0 sporulasi tidak terjadi. Penyebaran Phytopthora palmivora dapat melalui air, angin, tanah maupun hewan (sejenis siput, semut dan sebagainya).

2. Inang
Tanaman lada sangat peka terhadap Phytopthora palmivora. Tanaman lada yang telah terserang Phytopthora palmivora pada suatu pertanaman, tidak dapat dipakai sebagai bahan bibit, karena bibit telah terinfeksi.
3. Patogen
Patogen Phytopthora palmivora, laju reproduksi dan patogenitasnya berhubungan erat dengan reaksi tanaman lada dan pengaruh lingkungan terutama curah hujan, suhu, cahaya, kelembaban dan keadaan tanah. Sisa-sisa tanaman lada yangb terserang pada suatu pertanaman dapat merupakan sumber inokulum Phytopthora palmivora.
Cendawan Phytopthora sp, dapat bertahan lama di dalam tanah dan mempunyai laju reproduksi yang tinggi. Percikan air hujan yang mengandung tanah dan cendawan melekat pada daun, batang dan cabang lada kemudian cendawan itu tumbuh dan menginfeksi tanaman. Pada bagian yang terinfeksi terjadilah sporulasi dari cendawan tersebut. Air dan angina membantu penularan dan penyebaran sporangia yang berisi zoospore.
Berdasarkan cara perkembangan dan penyebaran penyakit busuk pangkal batang lada, strategi pengendalian dapat ditempuh menurut dua kategori keadaan di lapang, yaitu : (a) Sebelum dan (b) Sesudah tanaman lada ada di lapangan.

a. Sebelum Tanaman Lada Ada Di Lapangan
Bila varietas lada yang resisten tidak ada maka yang perlu dilaksanakan adalah menurunkan atau memusnahkan sumber-sumber inokulum Phytopthora palmivora dengan cara sebagai berikut :
1. Menyiram tanah dengan desinfektan atau fungisida misanya Vapam untuk mematikan cencawan.
2. Mempergunakan bahan tanaman (stek) sehat yang bebas cendawan dan bahan tanaman diambil dari ketinggian satu meter diatas permukaan tanah.
3. Pengolahan tanah. Tanah dibalik-balik dengan tujuan memindahkan lapisan bawah ke lapisan atas, sehingga cendawan yang ada di dalam tanah mendapat sinar matahari langsung dan udara kering yang panas, menjadi mati. Phytopthora palmivora penyebab penyakit busuk pangkal batang tidak tahan pada kondisi panas dan kering.
4. Penambahan bahan organik (sisa tanaman jerami, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau). Menurut Kasim (1985), pemberian bahan organic ke tanah dapat menurunkan intensitas serangan penyakit busk pangkal batang antara 20 – 25 %, karena berubahnya kandungan C/N dalam tanah dapat mempengaruhi umur (hidup) jamur, menjadi terhambat atau mati.


b. Tanaman Lada Sudah Ada Di Lapangan.
Strategi untuk menekan populasi awal dari penyakit busuk pangkal batang pada tanaman lada yang telah terserang sebagai berikut :
1. Isolasi tanaman yang baru terserang dengan membuat parit pemisah guna memisahkan dari tanaman disekitarnya. Arit pemisah akan mencegah penularan cendawan dari akar dan tanah ke tanaman lain.
2. Tanaman yang sakit parah segera dicabut, karena dapat menjadi sumber inokulum berpotensi tinggi. Pencabutan dilakukan hati hati agar tidak tercecer di pertanaman, kemudian dikumpulkan dan dibakar disuatu tempat. Tanah bekas tanaman disiram dengan fungisida seperti Vapam, bila mungkin dibakar kemudian dibiarkan terbuka untuk mematikan sisa cendawan dan akar yang tertinggal dalam tanah.
3. Alat pertanian yang telah dipergunakan pada tanaman yang sakit, dibersihkan terlebih dahulu bila akan dipergunakan di tempat lain. Karena alat tersebut dapat memindahkan Phytopthora palmivora.
4. Sulur tanaman sehat yang dekat dengan permukaan tanah dipangkas 30 cm diatas tanah, untuk menghindari serangan cendawan yang terbawa oleh percikan air hujan.
5. Pada awal musim hujan pangkal batang tanaman lada jangan ditimbuni dengan tanah, melainkan dibiarkan terbuka. Pemangkasan tiang panjat hidup sebanyak 3 kali setahun memberikan pertumbuhan dan produksi lada yang baik. Pemangkasan tiang panjat memberi peluang masuknya sinar matahari langsung mencapai pangkal batang tanaman lada. Akibatnya kelembaban berkurang dan menghambat pertumbuhan cendawan.
6. Lakukan penyemprotan fungisida yang efektif pada seluruh daun yang sehat secara teratur. Pada saat terjadi serangan biasanya awal musim hujan / penyemprotan dilakukan selang 7 hari selama 2 bulan pertama. Jenis fungisida yang dapat dipakai yaitu Difolatan 80 WP, Diathene M 45, Antracol 70 WP dan Benlate.
7. Ternak jangan dibiarkan berkeliaran dalam pertanaman karena dapat membawa cendawan dan bahan tanaman ke bagian pertanaman lain yang sehat.
8. Dibuat pagar. Jalan masuk ke dalam pertanaman dibatasi jumlah dan pemakaiannya.
9. Memberantas semut dan siput.
10. Dibuat saluran drainase untuk menghindari genangan air yang mengganggu tanaman lada. Tidak baik membuat rorak-rorak karena menyebabkan tempat selalu lembab dan basah, keadaan ini menguntungkan pertumbuhan cendawan penyebab penyakit busuk pangkal batang.
11. Pemupukan dilakukan menurut rekomendasi. Hindari pemberian nitrogen dengan dosis tinggi, karena dapat memperlemah jaringan tanaman sehingga lebih mudah diserang penyakit busuk pangkal batang.
12. Dilakukan inspeksi yang teratur dalam pertanaman lada yang diserang penyakit busuk pangkal batang dan pengenalan gejala serangan dini dari penyakit busuk pangkal batang.

Penyakit busuk pangkal batang pada tanaman lada sampai saat ini masih belum dapat diatasi secara tuntas.

Menurut Sitepu, Kasim dan Manohara (1986), keberhasilan usaha pengendalian penyakit busuk pangkal batang sebenarnya terletak pada petani lada bekerja sama dengan penyuluh, penelitih, dan unsure-unsur yang ada sangkutpautnya dengan perladaan. Paket teknologi terpadu hasil penelitian disalurkan melalui tenaga penyuluh yang terampil lalu dilaksanakan oleh petani lada serta ditunjang oleh pengadaan sarana dan bahan secukupnya.


C. Penyakit Kuning (Yellow diasease)
Terjadinya penurunan produksi lada Indonesia salah satunya disebabkan oleh serangan penyakit kuning. Penyakit kuning pada tanaman lada disebabkan oleh keadaan yang sangat komplek yaitu adanya serangan Nematoda (Radopho Lussimilis,Meloidogyne inkoconita), adanya jamur parasit (Fusarium Oxy sporum, Fusarium solani) serta rendahnya kesuburan tanah.
Nematoda adalah sejenis cacing halus (ukuran 0,1 -1 mm) dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop . Nematoda parasit mempunyai styled (alat penusuk) pada bagian kepalanya. Dengan stiled ini Nematoda menusuk dan menghisap cairan sel tanaman lada untuk keperluan hidupnya.
Saat menginfeksi tanaman lada, Nematoda mengeluarkan sekresi berupa enzim-enzim. Enzim tersebut (antara lain Hidrogen peroksida) sangat beracun bagi tanaman dan dapat menguraikan pati, Sucroce, Seluloce, Protein dan Glicicida menjadi bahan-bahan lain (Anomim, 1968). Terurainya gula, pati dan protein yang merupakan bahan penting dalam proses metabolisme, akan sangat mempengaruhi keadaan tanaman.
Menurut Mustika dan Dalimi (1986, serangan Nematoda menjadi parah, bila terdapat serangan jamur parasut tertentu. Jamur parasut yaitu Fusarium Oxy Sporium, Fusarium Solani dan Rhi Zoctania Solani lebih mudah mengadakan penetrasi melalui luka yang dibuat Nematoda dan mengeluarkan beberapa jenis toksin (Martein, Asam Fucarik, Asam Dhydrofusarik, Nicomaras min). Toksin ini dapat mempengaruhi permeabilitas sel-sel paremkin khim, terdapat air dan menyebabkan gangguan respirasi.
Serangan Nematoda R. Similis pada lada, menyebabkan luka Necrosis yang parah pada kortex akar, sedang serangan Nematoda N. Imcognita menyebabkan terjadinya bengkak akar (puru akar). Serangan bersama R. Cimilis, M. Incognita dan Fucarium spp menyebabkan mecrosis yang parah sampai pada bagian tempulur dan pembulu kayu ( Xylem) tersumbat. Tersumbatnya Xylem menyebabkan peredaran air adan unsur hara keseluruhan bagian tanaman terganggu sehingga tanaman menunjukan gejala Nicrosis, gugur daun dan akhirnya mati.
Perbedaan kandungan hara yang besar didalam daun antara tanaman sehat dan sakit, yaitu sangat kecilnya Kandungan K, Fe, Mn, dan Zn pada tanaman yang sakit, sedangakan kandungan AL nya sangat tinggi, menunjukan penyakit kuning mempunyai interaksi dengan kandunagn hara dalam tanah. Pada tanah yang miskin hara (P.bangka) dan pemupukan yang cukup dan teratur serangan penyakit kuning tidak terdapat.
Menurut Vecht (1932), dalam Ika Mustika dan Dalimi (1986), gejala penyakit kuning adalah sebagai berikut : mula-mula tanaman yang terserang pertumbuhannya terhambat, kemudian warna daun dan tanaman berubah kekuning kuningan. Perubahan dimulai dari bagian bawah menjalar kebagian atas tanaman, kadang-kadang perubahan tidak dapat dibedakan sehingga tampak proses menguningnya daun dan batang terjadi serentak.
Daun yang telah menguningn tidak menjadi layu, tetapi mudah rapuh dan secara lambat akan gugur. Buah lebih lama bertahan dan melekat pada tangkainya. Dahan-dahan secara lambat gugur sebagian, sehingga tanaman makin lama makin gundul. Sulur panjat perubahan warna menjadi kuning, mengering dan mati. Bila bagian akar digali tammpak sebagian akar rambutnya telah rusak dan pada akar yang masih ada terdapat luka Necrosis dan bengkak akar (puru akar).

D. Penyakit Keriting.
Diduga penyakit keriting pada tanaman lada disebabkan oleh sebangsa virus atau Mycoplasma yang dikenal dengan nama ”Stunted Disease” (derektorat jendral perkebunan dan institut pertanian bogor, 1983).
Berdasarka pengamatan dikebun koleksi sub Balittro Natar dan kebun petani dilampung tengah, penyakit keriting pada tanaman lada ditandai dengan adanya gejala berupa :
1. Perubahan bentuk dan ukuran dari daun. Daun menjadi kecil, bergelombang, kaku dan mengerting.
2. Pucuk-pucuk muda yang terserang tidak dapat berkembang dengan sempurna, seringkali terdapat tunas-tunas yang berlebihan.
3. Bila serangan pada tanaman yang sedang berbunga atau berbuah, maka tanda buah menjadi pendek, buah kecil-kecil dan jarang.

Sampai saat ini belum diketemukan cara penanggulangan yang efektif untuk memberantas penyakit keriting tanaman lada. Disub Balittro Natar, walaupun masih dalam taraf permulaan, usaha penanggulangan dan pemberantasan penyakit keriting adalah dengan cara memangkas bagian tanaman yang terserang dan dibakar. Ternyata cara ini belum memberikan hasil yang memuaskan. Penggunaan pestisida belum pernah dilakukan.


b. Penyakit Cendawan Akar Putih (White Root Disease)
Penyebabnya adalah cendawan yang disebut Fomes Lignosus. Gejala yang dapat dilihat adalah menguning dan gugurnya daun. Penyakit ini dapat dibedakan dengan busuk pangkal batang bila akarnya dibongkar,dimana pada bagian akarn diliputi oleh bagian benang benang yang berwarna putih yang merupakan Rhizomorpha dari cendawan tersebut.. Bagian akar yang diliputi cendawan membusuk (lunak) dan berwarna ke abu abuan. Penyakit cendawan akar putih terutama menyerang kebun kebun bekas tanaman karet atau kebun kebun yang masih mempunyai tunggul tunggul kayu, juga sering terdapat pada kebun kebun yang ditanami dengan ubi kayu sebagai tanaman sela. Beberapa usaha pencegahan yang dapat dianjurkan adalah :
1. Memusnakan tanaman yang telah diserang (dibakar),
2. Kebun pertanaman lada harus dibersihkan dari sisa-sisa tanaman (tunggul-tunggul kayu dsb).
3. Tanaman ubi kayu jangan ditanaman didalam kebun lada.

c. Penyakit Jamur Upas (Pink Disease)
Penyakit ini menyerang bagian batang dan cabang lada. Infeksi pertama terjadi pada bagian kulit dan meluas sampai jaringan dibawahnya. Penyebabnya adalah Corticium Solmoni Colour. Gejalah yang dapat dilihat adalah adanya kerak-kerak yang berwarna jingga pada bagian batang dan cabang lada yang terserang, yang merupakan basidia dengan basidiospora dari cendawan tersebut. Kayu bagian bawah kerak akan membusuk. Bila serangan terjadi pada batang atau cabang diatasnya akan mati. Penyakit ini dapat disebabkan oleh angin dan menyerang hebat pada daerah-daerah yang mempunyai kelembapan tinggi. Beberapa usaha yang dapat dianjurkan adalah :
1. Memusnakan bagian batang yang terserang (dibakar).
2. Secara teratur tanaman perlu disemprot dengan fungisida yaitu Copper Oxych lorida, Parenox dsb.
d. Penyakit Becak Daun (Leaf Spot)
Penyebabnya adalah cendawan Pestalotia spp, menyerang terutama pada daun. Infeksi pertama terjadi pada pinggiran daun. Gejala yang dapat dilihat adalah becak abu abu takteratur bentuk dan ukurannya. Pada bagian tengahnya terdapat bintik-bintik hitam yang merupakan tubuh buah dari cendawan tersebut. Serangan hebat terjadi pada waktu ,musim hujan dan dapat menyebabkan daun busuk dan gugur. Untuk pencegahannya tanaman perlu secara teratur disemprot dengan fungisida. Daun-daun lada yang gugur dan busuk dibakar.

h. Panen / Pemetikan Buah Lada
Tanaman lada pada umur 2 tahun telah ada yang berbuah. Bunga dan buah yang terbentuk harus dibuang, sebab kalu tidak pertumbuhan vegetatif menjadi terhalang sedang produksi yang diperoleh sedikit dan jarang.
Pada umur 3 tahun , pembuahan dibiarkan untuk memulai produksi. Tanaman lada yang dipelihara dengan baik dapat berproduksi hingga umur 15 tahun atau lebih. Lama pembentukan bungah samapai buah masak kurang lebih 8 bulan sehingga pemetikan dilakukan 1 X setahun sebanyak 3 periode yaitu untuk mendapatkan bauh selang, panen besar dan buah lelesan. Buah sejak terbentuk berwarna hijau muda dan akan berubah menjadi hijau tua.
Pemetikan harus dilaksanakan pada saat yang tepat. Pemetikan buah lada apabila pada dongkolan telah terdapat buah yang berwarna kuning kemerah merahan. Pemetikan yang terlalu cepat (masih muda) akan menghasilkan lada yang rendah mutunya, sedang kalau terlambat ada kemungkinan buah akan gugur.
Saat ini produksi lada di Indonesia rata-rata rendah yaitu antara 500 kg tiap ha sampai dengam 2400 kg tiap ha. Apabila pemeliharaan dilaksanakan dengan baik, hasilnya dapat meningkat sampai 4000 kg tiap ha.
Latihan

Kerjakanlah latihan dibawah ini !
1. Sebutkan hama – hama utama tanaman Lada.
2. Jelaskan cara pemberantasan dari hama-hama tersebut
3. Jelaskan penyakit utama tanaman lada dan strategi pengendaliannya sebelum dan sesudah tanaman lada ada di lapangan.

Petunjuk Jawaban Latihan
1. Hama Penggerek Batang Lada (Lophobaris spp) dan Hama Penghisap Buah Lada (Dasynus piperis China).

2. Cara pemberantasan hama Penggerek Batang Lada yaitu : menggunakan insektisida berbentuk granuler dan bersifat sistemik (Furadan 3 G) yang aplikasinya melalui tanah.
Cara pemberantasan hama Penghisap Buah Lada yaitu menggunakan insektisida Supracide 0.2 % (2000 liter tiap Ha dalam bentuk cairan). Cara pemberian dengan sistim kalender dengan selang waktu 4 bulan.

3. Penyakit Busuk Pangkal Batang (foot rot).
Strategi pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang sebelum lada ada di lapangan
a. Menyiram tanah dengan desinfektan atau fungisida.
b. Mempergunakan bahan tanaman (stek) sehat yang bebas cendawan dan bahan tanaman diambil dari ketinggian satu meter diatas permukaan tanah.
c. Tanah dibalik-balik dengan tujuan memindahkan lapisan bawah ke lapisan atas, sehingga cendawan yang ada di dalam tanah mendapat sinar matahari langsung dan udara kering yang panas, menjadi mati. Phytopthora palmivora penyebab penyakit busuk pangkal batang tidak tahan pada kondisi panas dan kering.
d. Penambahan bahan organik (sisa tanaman jerami, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau).

Strategi pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang sesudah lada ada di lapangan
a. Isolasi tanaman yang baru terserang dengan membuat parit pemisah guna memisahkan dari tanaman disekitarnya.
b. Tanaman yang sakit parah segera dicabut dan dibakar.
c. Alat pertanian yang telah dipergunakan pada tanaman yang sakit, dibersihkan terlebih dahulu bila akan dipergunakan di tempat lain.
d. Sulur tanaman sehat yang dekat dengan permukaan tanah dipangkas 30 cm diatas tanah, untuk menghindari serangan cendawan yang terbawa oleh percikan air hujan.
e. Pada awal musim hujan pangkal batang tanaman lada jangan ditimbuni dengan tanah, melainkan dibiarkan terbuka.
f. Lakukan penyemprotan fungisida yang efektif pada seluruh daun yang sehat secara teratur. Pada saat terjadi serangan biasanya awal musim hujan / penyemprotan dilakukan selang 7 hari selama 2 bulan pertama.
g. Ternak jangan dibiarkan berkeliaran dalam pertanaman karena dapat membawa cendawan dan bahan tanaman ke bagian pertanaman lain yang sehat.
h. Dibuat pagar. Jalan masuk ke dalam pertanaman dibatasi jumlah dan pemakaiannya.
i. Memberantas semut dan siput.
j. Dibuat saluran drainase untuk menghindari genangan air yang mengganggu tanaman lada.


k. Pemupukan dilakukan menurut rekomendasi.
l. Dilakukan inspeksi yang teratur dalam pertanaman lada yang diserang penyakit busuk pangkal batang.


Rangkuman

Hama Penggerek Batang Lada (Lophobaris spp)
Pemberantasan dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbentuk granuler dan bersifat sistemik (Furadan 3 G) yang aplikasinya melalui tanah. Diberikan dengan cara membuat alur setengah lingkaran sejajar dengan tajuk tanaman lada, kemudian Furadan 3G dengan dosis 30 gram ditaburkan pada alur dan ditutup kembali dengan tanah.
Hama Penghisap Buah Lada (Dasynus piperis China).
Cara pemberantasan hama Penghisap Buah Lada yaitu menggunakan insektisida Supracide 0.2 % (2000 liter tiap Ha dalam bentuk cairan). Cara pemberian dengan sistim kalender dengan selang waktu 4 bulan.
Penyakit Busuk Pangkal Batang (foot rot).
Strategi pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang sebelum lada ada di lapangan : (i) menyiram tanah dengan desinfektan atau fungisida, (ii) mempergunakan bahan tanaman (stek) sehat yang bebas cendawan dan bahan tanaman diambil dari ketinggian satu meter diatas permukaan tanah, (iii) tanah dibalik-balik dengan tujuan memindahkan lapisan bawah ke lapisan atas, sehingga cendawan yang ada di dalam tanah mendapat sinar matahari langsung dan udara kering yang panas, menjadi mati. Phytopthora palmivora penyebab penyakit busuk pangkal batang tidak tahan pada kondisi panas dan kering, (iv) penambahan bahan organik (sisa tanaman jerami, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau).
Strategi pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang sesudah lada ada di lapangan : (i) isolasi tanaman yang baru terserang dengan membuat parit pemisah guna memisahkan dari tanaman disekitarnya, (ii) tanaman yang sakit parah segera dicabut dan dibakar, (iii) alat pertanian yang telah dipergunakan pada tanaman yang sakit, dibersihkan terlebih dahulu bila akan dipergunakan di tempat lain, (iv) Sulur tanaman sehat yang dekat dengan permukaan tanah dipangkas 30 cm diatas tanah, untuk menghindari serangan cendawan yang terbawa oleh percikan air hujan, (v) pada awal musim hujan pangkal batang tanaman lada jangan ditimbuni dengan tanah, melainkan dibiarkan terbuka, (vi) lakukan penyemprotan fungisida yang efektif pada seluruh daun yang sehat secara teratur. Pada saat terjadi serangan biasanya awal musim hujan / penyemprotan dilakukan selang 7 hari selama 2 bulan pertama, (vii) ternak jangan dibiarkan berkeliaran dalam pertanaman karena dapat membawa cendawan dan bahan tanaman ke bagian pertanaman lain yang sehat, (viii) dibuat pagar. Jalan masuk ke dalam pertanaman dibatasi jumlah dan pemakaiannya, (ix) memberantas semut dan siput, (x) dibuat saluran drainase untuk menghindari genangan air yang mengganggu tanaman lada, (xi) pemupukan dilakukan menurut rekomendasi, (xii) dilakukan inspeksi yang teratur dalam pertanaman lada yang diserang penyakit busuk pangkal batang.




PANEN DAN PENGOLAHAN HASIL


Panen / Pemetikan Buah Lada 1.

Tanaman lada umur 2 tahun telah ada yang berbuah. Bunga dan buah yang terbentuk harus dibuang, sebab kalau tidak pertumbuhan vegetatif menjadi terhalang sedang produksi yang diperoleh sedikit dan jarang.
Pada umur 3 tahun, pembuahan dibiarkan untuk memulai produksi. Tanaman lada yang dipelihara dengan baik dapat berproduksi hingga umur 15 tahun atau lebih. Lama pembentukan bunga sampai buah masak ± 8 bulan sehingga pemetikan dilakukan satu kali setahun sebanyak 3 periode yaitu untuk mendapatkan buah selang, panen besar dan buah lelesan. Buah sejak terbentuk berwarna hijau muda dan akan berubah menjadi hijau tua.
Pemetikan harus dilaksanakan pada saat yang tepat. Pemetikan buah lada apabila pada dompolan telah terdapat buah yang berwarna kuning kemerah-merahan. Pemetikan yang terlalu cepat (masih muda) akan menghasilkan lada yang rendah mutunya, sedang kalau terlambat ada kemungkinan buah akan gugur.

Ada 2 macam pemetikan buah lada menurut tujuannya :
a. Pemetikan Untuk Lada Hitam.
Pemetikan buah lada harus sudah tua, untuk mengetahui ini buah lada dipijit atau dipecahkan dengan kuku. Bila terlihat cairan putih maka buah lada tersebut belum bisa dipetik. Pemetikan dapat dimulai bila dalam suatu dompolan sudah ada buah yang berwarna hijau tua dan padat serta beberapa butir buah berwarna kemerah-merahan.
Waktu pemetikan berkisar bulan Mei sampai September, tergantung iklim dari masingt-masing daerah pertanaman lada.
Bagi tanaman yang tinggi, cara pemetikan dengan memakai tangga. Dompolan lada dipetik lalu dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan.

b. Pemetikan Untuk Lada Putih.
Buah dipetik bila sudah masak yaitu jika sebagian besar buah lada pada tiap tandan berwarna kuning kemerah-merahan dan kulit tempurungnya sudah keras. Waktu dan cara pemetikan untuk lada putih sama dengan untuk lada hitam.

Rangkuman

Tanaman lada umur 2 tahun telah ada yang berbuah. Bunga dan buah yang terbentuk harus dibuang, sebab kalau tidak pertumbuhan vegetatif menjadi terhalang sedang produksi yang diperoleh sedikit dan jarang.
Pada umur 3 tahun, pembuahan dibiarkan untuk memulai produksi. Tanaman lada yang dipelihara dengan baik dapat berproduksi hingga umur 15 tahun atau lebih. Lama pembentukan bunga sampai buah masak ± 8 bulan sehingga pemetikan dilakukan satu kali setahun sebanyak 3 periode yaitu untuk mendapatkan buah selang, panen besar dan buah lelesan. Buah sejak terbentuk berwarna hijau muda dan akan berubah menjadi hijau tua.
Pemetikan harus dilaksanakan pada saat yang tepat. Pemetikan buah lada apabila pada dompolan telah terdapat buah yang berwarna kuning kemerah-merahan. Pemetikan yang terlalu cepat (masih muda) akan menghasilkan lada yang rendah mutunya, sedang kalau terlambat ada kemungkinan buah akan gugur.
Pemetikan Untuk Lada Hitam.
Pemetikan buah lada harus sudah tua, untuk mengetahui ini buah lada dipijit atau dipecahkan dengan kuku. Bila terlihat cairan putih maka buah lada tersebut belum bisa dipetik. Pemetikan dapat dimulai bila dalam suatu dompolan sudah ada buah yang berwarna hijau tua dan padat serta beberapa butir buah berwarna kemerah-merahan.
Waktu pemetikan berkisar bulan Mei sampai September, tergantung iklim dari masingt-masing daerah pertanaman lada.
Bagi tanaman yang tinggi, cara pemetikan dengan memakai tangga. Dompolan lada dipetik lalu dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan.

Pemetikan Untuk Lada Putih.
Buah dipetik bila sudah masak yaitu jika sebagian besar buah lada pada tiap tandan berwarna kuning kemerah-merahan dan kulit tempurungnya sudah keras. Waktu dan cara pemetikan untuk lada putih sama dengan untuk lada hitam.



Test Formatif 1

1. Tanaman lada yang dipelihara dengan baik dapat berproduksi hingga :
A. Umur 15 tahun atau lebih.
B. Umur 30 tahun atau lebih
C. Umur 10 tahun atau lebih
D. Umur 10 tahun atau lebih

2. Pemetikan buah lada dilakukan bila :
A. dompolan telah terdapat buah yang berwarna kuning kemerah-merahan.
B. dompolan telah terdapat buah yang berwarna kuning kehijau-hijauan.
C. dompolan telah terdapat buah yang berwarna kuning.
D. dompolan telah terdapat buah yang berwarna kehijau-hijauan..






Pengolahan Hasil Lada 2.

A. Pengolahan Lada Hitam
Buah lada hasil pemetikan dihamparkan pada tikar atau lantai jemur. Lama penjemuran selama 3 hari bila cuaca baik dan sampai 7 hari bila hari mendung. Untuk melepaskan buah lada dari dompolan, dompolan diinjak-injak sampai butir-butir lada terlepas.
Untuk menguji apakah lada sudah kering dapat dilakukan dengan cara menggigit buah lada. Bila buah lada pecah dua, tandanya belum cukup kering perlu penjemuran diteruskan. Apabila pecahnya menjadi hancur tandanya buah lada cukup kering. Cara lain adalah mengambil segenggam lada lalu dijatuhkan kebawah. Bila lada bercerai berai berarti telah kering.

B. Pengolahan Lada Putih.
Buah lada yang telah dipetik dimasukkan ke dalam karung goni lalu direndam pada air yang mengalir selama 7 – 10 hari. Setelah direndam buah lada dikeluarkan dari karung goni lalu dimasukkan ke dalam tempeh atau ember dan dinjak-injak untuk melepaskan kulit bijinya. Setelah itu dicuci untuk dibersihkan buah lada dari kulit dan tangkai buah serta kotoran lainnya.
Setelah bersih, buah lada direndam lagi pada air mengalir selama 1 hari. Setelah perendaman ini buah lada dijemur selama 3 sampai 7 hari. Lama penjemuran tergantung cuaca. Untuk mengetahui apakah lada sudah kering, pengujiannya sama denga lada hitam.
Setelah kering buah lada dimasukkan ke dalam karung dan disimpan di tempat kering atau siap dijual.




Standardisasi Mutu Lada
Lada Indonesia sesuai ketentuan Direktorat Standardisasi dan Pengendalian Mutu Departemen Perdagangan telah ditetapkan menjadi 2 jenis standar mutu lada yaitu ASTA (American Standard Trade Association) dan FAQ (Fair Average Quality), seperti tampak pada table dibawah ini :

Tabel. Standardisasi Mutu Lada (ASTA dan FAQ) Untuk Lada Hitam dan Lada Putih Indonesia.

No Spesifikasi Lada Putih Lada Hitam
ASTA FAQ ASTA FAQ
1. Kadar air maksimal (%) 12 15 12 13.5
2. Kandungan butir hampa maksimal (%) 2 3 2 3
3. Kandungan jamur / buluk maksimal (%) 1 1 1 1
4. Kandungan lada enteng maksimal 1 2 1 3
5. Kandung butir hitam / kelabu pada lada putih maksimal (%) 1 2 - -

Sumber : Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI)
Catatan : bebas dari hama (hodup / mati) dan kotoran hama (tikus dan kotoran lain).





Mutu lada sanga tergantung pada teknis produksi terutama proses perendaman dan pencucian. Teknis produksi dilakukan dalam tingkatan kegiatan antara lain penanaman, pemeliharaan, pemetikan, perendaman, pencucian, penjemuran, sortasi, packing dan pengujian. Penjemuran tergantung spenuhnya dari matahari, sedang sortasi dilakukan 2 kali yaitu petani dan eksportir.























Rangkuman

Pengolahan Lada Hitam
Buah lada hasil pemetikan dihamparkan pada tikar atau lantai jemur. Lama penjemuran selama 3 hari bila cuaca baik dan sampai 7 hari bila hari mendung. Untuk melepaskan buah lada dari dompolan, dompolan diinjak-injak sampai butir-butir lada terlepas.
Untuk menguji apakah lada sudah kering dapat dilakukan dengan cara menggigit buah lada. Bila biah lada pecah dua, tandanya belum cukup kering perlu penjemuran diteruskan. Apabila pecahnya menjadi hancur tandanya buah lada cukup kering. Cara lain adalah mengambil segenggam lada lalu dijatuhkan kebawah. Bila lada bercerai berai berarti telah kering.

Pengolahan Lada Putih.
Buah lada yang telah dipetik dimasukkan ke dalam karung goni lalu direndam pada air yang mengalir selama 7 – 10 hari. Setelah direndam buah lada dikeluarkan dari karung goni lalu dimasukkan ke dalam tempeh atau ember dan dinjak-injak untuk melepaskan kulit bijinya. Setelah itu dicuci untuk dibersihkan buah lada dari kulit dan tangkai buah serta kotoran lainnya.
Setelah bersih, buah lada direndam lagi pada air mengalir selama 1 hari. Setelah perendaman ini buah lada dijemur selama 3 sampai 7 hari. Lama penjemuran tergantung cuaca. Untuk mengetahui apakah lada sudah kering, pengujiannya sama denga lada hitam.
Mutu lada sanga tergantung pada teknis produksi terutama proses perendaman dan pencucian. Teknis produksi dilakukan dalam tingkatan kegiatan antara lain penanaman, pemeliharaan, pemetikan, perendaman, pencucian, penjemuran, sortasi, packing dan pengujian. Penjemuran tergantung spenuhnya dari matahari, sedang sortasi dilakukan 2 kali yaitu petani dan eksportir.
Test Formatif 2
DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 1998. Control of Plant Parasitic Nematodes, Principles of Plant an Animal Pest Control. Vol. 4, Nat. Aced. Sci. D. C. 172 hal

Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI). 1996. Masalah Mutu dan Pemasaran Lada (Makalah dalam Temu Tugas dan Temu Usaha Lada di bandar lampung, 4 – 6 Penruari 1986). 4 hal.

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 1995. Laporan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat pada Raker Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 21 – 22 Pebruari 1995. 43 hal.

Departemen Pertanian. 1995. Pelaksanaan Pembangunan Pertanian Secara Terpadu (Bahan Pertemuan Dengan Ka. Kanwil Pertanian di Bandung, 22 Agustus 1995). 17 hal.

Direktorat Jenderal Perkebunan dan Institut Pertanian Bogor. 1993. Pedoman Pembibitan dan Pembuatan Kebun Perbanyakan Tanaman Lada. 49 hal.

Direktorat Bina Produksi, Direktorat Jenderal Perkebunan. 1996. Mendinamiskan Usaha Tani Lada (Makalah dalam Temu Tugas dan Temu Usaha di Bandar Lampung, 4 – 6 Pebruari). 15 hal.

Funder, S. 1986. Practical Mycology, Hafner Publishing Company Inc, New York and Kindston Open Thames. 158 hal.

Kalshoven, L. G. E. 1981. De plagen van de cultuurgewasen in Indonesia. N. V. Vitgeverij W. Van hoeve. S. Gravenhage. Bandung. 1065 hal.

Meyling D. H. G. 1993. Pedoman Bercocok Tanam Lada (Piper nigrum L.). Teknologi Pertanian 2. hal 154 – 174.

Mustika I. 2001. Peranan Nematoda Pada Tanaman Lada dan Hubungannya Dengan Penyakit Kuning Lada di Bangka (Makalah Seminar Balai Penelitian Tanaman Industri Bandar lampung). 18 hal.

Mustika I dan Dhalimi A. 1996. Penyakit Kuning Pada Tanaman Lada dan Cara Penanggulangannya (Makalah Dalam Temu Tugas dan Temu Usaha di Bandar Lampung). 10 hal.

Sitepu D; Kasim R; Manohara D. 2000. Penanggulangan Penyakit Busuk Pangkal Batang (Makalah dan Temu Tugas dan Temu Usaha Lada di Bandar Lampung). 10 hal.

Sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Natar. 1995. Laporan Tahunan 1994 – 1995. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 108 hal.

Waard de P. W. F dan A. C. Zeven. 1989. Pepper (Piper nigrum L.) in F. P. Ferwerda and F. Witt ”Outline of Perennial Crop Breeding in The Tropics (4). Hal. 409 – 426.

Wahid P. 1996. Hasil Penelitian Penyakit Kuning Pada Tanaman Lada di Daerah Bangka. Pemberitaan LPTI No. 21. April – Juni. 1996.

Wahid P. 1991. Percobaan Penyetekan Tanaman Lada. Pembr. Balittri VII (40). Hal 17 – 24.

Wahid P. dan Chaniago. 1997. Masalah Perladaan Di Daerah Kalimantan Barat. Pembr. Balitrri VIII (41). Hal. 39 – 48.

Wahid P. dan Zaubin R. 1999. Konsultasi Penelitian Pertanian Menunjang Pembangunan Sumatera. Lada. Bukittinggi. 28 Nopember – 2 Desember. 1979. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 43 hal.

Wahid P. 1994. Pengaruh naungan dan Pemupukan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Lada (Piper nigrum L.). Fakultas Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. 201 hal.

Wahid P. dan Ujang S. 1996. Teknik Budidaya Untuk Meningkatkan Produktifitas Tanaman Lada (Makalah Dalam temu Tugas dan temu Usaha Lada di bandar Lampung). 29 hal.

Zaubin R. 2001. Pengaruh bahan Stek, Cara Tanam dan Zat Tumbuh Terhadap pertumbuhan Akar Stek Lada. Pembr. Balittri (40). Hal. 31 – 35.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar