Selasa, 01 Juni 2010

laporan kenaf

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Tujuan dan Manfaat
1.1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum budidaya tanaman serat yaitu kenaf (Hibiscus cannabinus L. Var HC36) adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana teknik budidaya tanaman serat, khususnya kenaf (Hibiscus cannabinus L. Var HC36).
b. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman serat, khususnya tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L. Var HC36).
c. Untuk mengetahui pengolahan hasil serat kenaf (pasca panen)

1.1.2 Manfaat
Dari hasil kegiatan ini dapat memberi atau menambah informasi bagi mahasiswa tentang budidaya tanaman serat dan pengolahan hasil serat atau pasca panen.
Disamping itu mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan mengenai teknik budidaya yang tepat dan pengalaman dalam bidang usaha budidaya tanaman serat, sehingga produksi serat dapat meningkat.












BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Tanaman Kenaf
Kenaf merupakan tanaman asli Afrika, di negara-negara selatan Sahara, Hibiscus cannabinus merupakan tanaman liar yang umum dan secara luas ditanam sebagai tanaman sayuran dan serat. Angola kemungkinan menjadi pusat tanamn asli yang pertama,tetapi keragaman morfologi terbesar ditemukan di Afrika Utara. Baik kenaf maupun rosella (Hibiscus sabdariffa L.) temukan pertama pada awal abad 4000 SM di Sudan, dibawa ke India tidak diketahui waktunya.
Negara penghasil kenaf terbesar adalah Bengal Barat dan daerah pantai sepanjang Visakhapatnam (Andhra Pradesh) dan Madras (Tamil Nadu). Kenaf dikenalkan ke Indonesia dari India pada tahun 1904. Program budidaya Kenaf secara ekstensif dimulai pada tahun 1920an di daerah Caucasus Federasi Rusia (USSR) dan dari sana dibawa ke China pada tahun 1935. Produksi Kenaf juga dimulai setelah tahun 1945, misalnya di Amerika Serikat, Kuba dan Amerika Selatan. Sekarang Kenaf telah menyebar luas di daerah tropik dan subtropik, sebagai tanaman serat. Di Malyasia ditanam sebagai pengganti tembakau untuk mengurangi produksi rokok.

2.2 Botani Tanaman Kenaf
2.2.1 Taksonomi Tanaman Kenaf
Tanaman kenaf memiliki taksonomi sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotylledoneae
Ordo : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus cannabinus L.



2.2.2 Habitat
Kenaf mempunyai adaptasi yang lebar terhadap iklim dan tanah. Tanaman ini tumbuh pada 45°N dan 30°S. Tanaman Kenaf toleran terhadap variasi temperatur harian antara 10°C dan 50°C, tetapi mati oleh salju. Tanaman ini tumbuh terbaik pada temperaur harian diatas 20°C dan curah hujan bulanan rata-rata 100—125 mm. Kondisi ini ditemukan selama musim hujan di daerah tropik dan musim panas di daerah subtropik.
Kenaf merupakan tanaman berhari pendek: meskipun beberapa kultivar meninggalkan bagian vegetatifnya sampai periode pencahayaan turun dibawah 12,5 jam. Beberapa kultivar ditanam pada 20°N, kemudian tidak mulai berbunga pada awal September. Pada latitude yang lebih tinggi, kebiasaan berbunga lebih lambat, pada daerah equator, tanaman berbunga lebih awal dan mencapai tinggi yang tidak mencukupi, kecuali kultivar yang ditanam adalah photo-insensitive.
Kenaf dapat tumbuh pada berbagai tanah, tetapi paling baik pada tanah lempung aluvial atau kolluvial berpasir, dengan pH 6—6.8. Tanaman ini toleran terhadap garam, tetapi sensitif terhadap hilangnya air.

2.2.3 Morfologi Kenaf
Merupakan herba tegak, satu tahunan, tinggi tumbuhan liar mencapai 2 m, jika ditanam mencapai 5 m. Batang pipih, silindris, pada tanaman budidaya tidak bercabang dan gundul, pigmentasi seluruhnya hijau, hijau dengan merah atau ungu ataupun seluruhnya merah, kadang separo dibawah hijau dan separo diatas berpigmentasi.
Daun berseling, stipula filiform, panjang 5—8 mm, berambut, panjang tangkai daun 3—30 cm, pada bagian adaksial berambut rata dan pada bagian abaksial berbulu tegak, berwarna hijau hingga merah; helaian daun berukuran 1—19 cm x 0.1—20 cm, pangkal daun meruncing sampai bentuk jantung, tepi beringgit atau bergigi, ujung daun meruncing, permukaan atas gundul, permukaan bawah berambut sepanjang urat daun.
Bunga axiler, soliter atau kadang berkelompok dekat ujung, biseksual, diameter 7.5—10 cm; kelopak menggenta, berwarna hijau, berbulu tegak, mahkota besar dan terlihat, biasanya berwarna krem hingga kuning dengan merah pada pangkal dalamnya, terkadang biru atau ungu.
Buah bulat telur, tipe kapsul, 12—20 mm x 11—15 mm, berambut lebat, mengandung 20—25(—35) biji. Biji bentuk ginjal hingga triangular dengan sudut runcing, 3—4 mm x 2—3 mm, berwarna keabuan atau coklat-hitam dengan titik kuning menyala.

2.3 Kegunaan
Serat kenaf yang kering, digunakan dalam pembuatan tekstil kasar seperti, pakaian hessian dan karung untuk mengemas komoditas pertanian dan industri, juga dibuat menjadi benang, tambang dan benang sepatu. Bijinya dapat dimakan dan dapat digunakan sebagai pupuk alami.
Kenaf (Hibiscus cannabinus L) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peluang besar untuk menghasilkan devisa. Hampir seluruh komponen tanaman dapat digunakan sebagai bahan baku industri, seperti: Daun : pakan ternak, pupuk organic, makanan anak-anak (jelly)
Kayu : briket bahan bakar, perangkat rumah seperti daun pintu, kusen, jendela, particle board
Serat : pulp dan kertas, geotekstil, doortrim, fibre drain, karpet, hardboard, handicraft.
Biji : minyak goreng, farmasi, kosmetik
Keunggulan komoditas kenaf adalah: berumur pendek (4-5 bulan), mampu beradaptasi di berbagai lingkungan tumbuh marjinal, seperti lahan banjir (bonorowo), podsolik merah kuning, gambut dan tadah hujan. Gangguan hama dan penyakit sedikit dan biaya produksi rendah. Di samping multiguna, kenaf juga termasuk komoditas ramah lingkungan karena mudah terdegradasi dan selama pertumbuhannya dapat menangkap karbondioksida (CO2) di udara sehingga dapat mengurangi pencemaran udara.
















BAB 3. METODOLOGI
3.1 Bahan dan Alat
3.1.1 Bahan
Bahan yang diperlukan diantaranya lahan, benih kenaf var. HC36, air, jerami, pestisida (buldok, decis, dupol), urea, SP36, KCl, furadan, fungisida, dolomit, pupuk kandang, ajir, EM4, detergen, pemutih, dll.
3.1.2 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, sabit, timba, knapsack sprayer, tugal, gembor, meteran, koret, sikat, bak, gunting pemotong dll.

3.2 Prosedur Pelaksanaan
3.2.1 Persiapan Lahan
a. Lokasi dipilih tempat yang relatif rata dekat dengan sumber air dan tidak tergenang air, mudah diawasi.
b. Lokasi dibersihkan, diratakan dan drainase diatur dengan baik.

3.2.2 Pengolahan Tanah I
a. Pembukaan lahan dengan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit
b. Buat plot dengan ukuran 3 x 2 meter, dengan tinggi 30 cm.

3.2.3 Pengolahan Tanah II
a. Gemburkan tanah kembali yang gunanya untuk membalik tanah.
b Beri pupuk kandang (1 sak/plot) dan dolomit (2 kg/plot), kemudian balik kembali tanah tersebut.
c. Buat jarak tanam yaitu 40 x 30 cm, yang dimanfaatkan sebagai penghasil biji. Akan tetapi ketika berumur 9 minggu tanaman kenaf ini sudah dipanen untuk diambil seratnya.
d. Siram dengan air.
e. Buat guludan dan pembuatan saluran air.

3.2.4 Penanaman
a. Buat lubang tanaman dengan menggunakan tugal, dengan kedalam 3-5 cm.
b. Tanam benih 2-3 benih/lubang tanam.
c. Berikan furadan dan fungisida @ 20 gram/plot, diletakkan di sekitar lubang tanaman.
d. Berikan pula SP36 (90 gr/plot) dan KCl (60 gr/plot) sebagai pupuk dasar (pemupukan I). Pemupukan ini dilakukan karena KCL dan SP36 merupakan yang sulit larut, maka pupuk ini diberikan lebih awal.
e. Tutup dengan jerami agar kelembapan terjaga dan menghindari terjadinya evapotranspirasi.

3.2.5 Pemeliharaan
a. Penyulaman
Benih kenaf sudah tumbuh pada hari ketujuh setelah tanam, sehingga bila ada benih yang tidak tumbuh harus dilakukan penyulaman dengan benih yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan dibawah umur 10-15 hari setelah tanam, agar pertumbuhan tanaman bisa seragam karena agar mempermudah dalam proses perawatanya.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila tumbuh rerumputan yaitu paa umur sekitar 7 hari setelah tanam. Penyiangan dilakukan berulang-ulang apabila tumbuh banyak gulma. Penyiangan dilakukan secara manual dengan menggunakan koret dan pada saat melakukan penyiangan juga sekaligus melakukan pembubunan agar tanaman tidak mudah roboh dan tanaman menjadi kokoh.

c. Penjarangan
Pada umur 14 hari setelah tanam, biasanya dilakukan penjarangan terhadap tanaman yang melebihi kebutuhan awal. Karena pada saat itu tanaman belum terlalu tua dan perakaran masih dalam kondisi mudah untuk di lakukan penjarangan, dan karena pada umur tersebut adalah umur yang ideal untuk melakukan penyeleksian tanaman. Penjarangan dilakukan secara manual, yaitu dengan cara dicabut menggunakan tangan.
e. Pengairan
Kebutuhan akan air atau kelembaban untuk tanaman kenaf ialah sejak bulan pertama setelah tanam sampai kira-kira 14 hari sebelum panen. Cara pengairanya dengan cara disiram di daerah tanaman.

3.2.6 Pemupukan II
Pemupukan kedua dilakukan pada usia 2 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

3.2.7 Pemupukan III
Pemupukan ketiga dilakukan pada usia 4 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

3.2.8 Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman kenaf ini berupa earias vittella, belalang, dan emphoasca. Hama tersebut diatasi dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida berupa Buldok dengan dosis 2cc/liter, Dupol dengan dosis 6cc/liter, dan menggunakan Decis 4cc/liter. Sedang penyakit yang menyerang adalah puru akar, yang menyebabkan tanaman layu sementara dan akhirnya tanaman mati.

3.2.9 Pemanenan
Tanaman kenaf varietas HC36 ini dipanen pada umur 9 minggu. Pada awalnya tanaman kenaf ini dimanfaatkan untuk diambil bijinya, akan tetapi karena tanaman kenaf ini digunakan sebagai pembanding tanaman kenaf lain yang varietasnya sama maka tanaman kenaf ini dipanen untuk diambil seratnya. Ciri tanaman kenaf ini siap untuk dipanen yaitu ketika 50% dari keseluruhan populasi tanaman telah berbunga.
Cara pemanenan dilakukan dengan pemotongan batang secara seragam yaitu bagian bawah dipotong 5 cm dari permukaan tanah dan bagian atas 10 cm dari pucuk pertubuhan. Setelah dipotong batang dibedakan menjadi 3 kriteria berdasarkan diameter batang dan panjang batang. Setelah itu diikat dan ditimbang sesuai kualitas masing-masing, lalu diberi label.

3.2.10 Pasca Panen
Batang-batang kenaf direndam kedalam bak besar yang berisi air dengan dicampur EM4 (proses fermentasi). Penambahan EM4 sebesar 20 cc/liter bertujuan untuk mempercepat proses fermentasi. Proses ini membutuhkan waktu 2 minggu.
Setelah proses perendaman, dilakukan proses penyeratan, pencucian, dan pengeringan. Apabila serat sudah kering, serat ditimbamg secara keseluruhan.


















BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kenaf
(Terlampir)

4.1.2 Morfologi Tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L. Var HC36).
Tanaman kenaf var HC36 memiliki morfologi sebagai berikut:
a. Akar
Akar tanamannya berupa akar akar tunggang, yang panjangnya kurang lebih 15-20 cm. Terdapat akar adventif yang berguna dalam pengambilan udara dari atmosfer untuk proses metabolisme akar. Akar tanaman kenaf ini tumbuh dengan normal, sehingga memudahkan dalam memperoleh makanan, terbukti dengan tanaman kenaf tumbuh secara optimal dan baik.
b. Batang
Batang tanaman kenaf ini berbentuk silindris, dengan permukaan yang berduri dan sedikit berbulu. Warna batang ketika masih muda yaitu berwarna hijau muda, sedangkan ketika tanamn berusia kurang lebih 8 minggu batangnya berubah warna menjadi hijau kecoklatan. Lilit batang tanamn kenaf mencapai 8 cm, hal tersebut tergantung dari varietas, jarak tanam, waktu tanam dan kesuburan tanah. Sedang tingginya mencapai 275 cm.
Gambar 1 Gambar 2











Gambar 3 Gambar 4









Ket:
Gambar 1 : Batang kenaf berwarna hijau muda ketika masih muda
Gambar 2 : Tinggi batang mencapai 30-50 cm pada minggu ke3 dan 4
Gambar 3 : Tinggi batang mencapai 150-200 cm ketika berumur 7-8 minggu
Gambar 4 : Tinggi batang mencapai tinggi 275 cm pada minggu ke9

c. Daun
Permukaan daun berbulu dan sedikit berduri, pangkal daun meruncing sampai bentuk jantung, tepi beringgit atau bergigi, ujung daun meruncing, permukaan atas gundul, panjang tangkai daun 15-30 cm.
Daun berwarna hijau dan letaknya berselang-seling. Bentuk daun ketika masih muda berbentuk tunggal (unlobed), dengan lebar daun 4-5 cm dan panjangnya mencapai 7-8 cm. Kemudian berubah menjadi bentuk semi menjari, kemudian menjari 5 dan menjari 7 ketika tanaman mulai tua. Lebar daunnya 3-4,5 cm dan panjangnya mencapai 15-17 cm.
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4



Gambar 1: Bentuk daun tunggal (unlobed),
Gambar 2: Bentuk daun semi menjari (partially lobed),
Gambar 3: Bentuk daun menjari lima atau menjari penuh (deeply lobed)
Gambar 4: Bentuk daun menjari tujuh atau menjari penuh (deeply lobed)



d. Bunga
Bunga pertama kali muncul ketika berumur 6 minggu. Bunga tanaman kenaf merupakan bunga axiler dan kadang berkelompok dekat ujung. Memiliki dua alat kelamin akni benangsari dan putik (biseksual). Diameter 7.5—10 cm, kelopaknya berwarna hijau, berbulu tegak, mahkota besar dan terlihat, biasanya berwarna krem hingga kuning dengan merah pada pangkal dalamnya.
Ganbar 1 Gambar 2







Gambar 3










Ket:
Gambar 1: Kuncup bunga
Gambar 2: Letak bunga berkelompok dekat ujung
Gambar 3: Bunga pada umur tanaman 8 minggu







4.1.3 Data Hasil Panen
a. Varietas : HC36
1. Data Kualitas Batang
NO A B C
Lilit Batang Panjang Batang Lilit Batang Panjang Batang Lilit Batang Panjang Batang
1 8 260 5,4 203 3,7 162
2 9 229 5,4 198 3,4 84
3 7 203 4,4 190 4 155
4 8 184 5,3 180 4,4 129
5 7 196 5 183 4,5 145
6 6,9 223 6 169 4,4 166
7 5,7 197 5 196 4 157
8 7 129 4,7 183 3,6 90
9 6,2 220 4 171 3,9 129
10 6 221 5 213 3,8 73
11 5,6 210 5 186 4,5 114
12 7 202 6 200
13 5,5 208 5 162
14 7 222 5 189
15 5,4 207 4 187
16 7 227 4,5 195
17 6,2 219 4,5 190
18 7 206 4,5 148
19 5,4 203 5 177
20 6 220 4,5 177
21 7 224 4,5 169
22 7 226 4,5 193
23 6 194 4 159
24 6 206 4 158
25 6 236 4 175
26 7 202 3,5 177
27 6,5 240
28 6 199

x = 6,59 x = 211,17 x = 4,72 x = 181,85 x = 4,02 x = 127,64

2. Data kualitas batang

NO Kualitas Berat (Kg)
1 A 4,5
2 B 2,9
3 C 0,5







3. Data Berat Bersih Serat
Jumlah berat bersih kenaf =600 gram

4. Dikonversikan kedalam Lahan 1Ha
1000 m2 x 0,6 kg = 1000 kg
6 m2

b. Varietas : KR6
1. Data Kualitas Batang
NO A B C
Lilit batang (cm) Panjang batang (cm) Lilit batang (cm) Panjang batang cm Lilit batang (cm) Panjang batang (cm)
1 7 184 6 151 3,5 169
2 6 148 6 165 4 153
3 7 157 6.5 179 4 161
4 5 148 6 160 4 155
5 55 1 6 203 4 139
6 7 200 5 140 3,5 127
7 6 174 6 142 3,5 145
8 6 182 6 188 3,5 135
9 8 203 5.5 187 1 84
10 8,5 206 5 154 2 104
11 6,5 194 6 154 2 102
12 6 169 5.5 164 2 86
13 6 196 5 174
14 5,5 167 5.5 145
15 6 206 6.5 168
16 5 183 5.5 162
17 5,5 178
18 5,5 184
19 5,5 184
20 5,5 164
21 6 164
22 6 184
X = 6,11 X = 180,73 X = 5,76 X = 164,75 X = 3,08 X = 130


2. Data Kualitas Batang
NO Kualitas Berat (Kg)
1 A 4,3
2 B 2,2
3 C 0,8

3. Data Berat Bersih Serat Kenaf
Jumlah berat bersih serat = 400 gram

4. Dikonversikan kedalam Lahan 1 Ha Gambar. Serat Kenaf
10000 m2 x 0,9 kg = 666,67 kg
6 m2

4.2 Pembahasan
Daun kenaf berwarna hijau, dengan permukaan yang berbulu dan sedikit berduri, pangkal daun meruncing sampai bentuk jantung, tepi beringgit atau bergigi, ujung daun meruncing, permukaan atas gundul. Pertumbuhan daun pada tanaman kenaf varietas HC36 ini dimulai dari bentuk tunggal (unlobed), dengan lebar daun 4-5 cm dan panjangnya mencapai 7-8 cm. Berubah menjadi bentuk semi menjari (partially lobed), kemudian menjari 5 dan menjari 7 ketika tanaman mulai tua (deeply lobed). Lebar daunnya 3-4,5 cm dan panjangnya mencapai 15-17 cm. Dari bentuk tunggal menjadi bentuk menjari lebar daun semkin mengecil, tergantung berapakah menjarinya daun tersebut.
Permukaan batang tanaman kenaf varietas HC36 ini berduri kecil-kecil dan sedikit berbulu. Bentuk batangnya silindris, dengan tinggi mencapai 275 cm dan lilit batangnya mencapai 8cm. Warna batang kenaf ketika masih muda berwarna hijau muda, dan ketika tua berubah menjadi hijau kecoklatan.
Bunga pertama kali muncul ketika berumur 6 minggu, merupakan bunga axiler dan kadang berkelompok dekat ujung, dengan diameter 7.5—10 cm.
Serangan hama pada tanaman kenaf ini, disebabkan karena faktor alam. Sehingga serangan hama menjadi meledak, selain itu kondisi lingkungan yang terlalu lembab juga dapat menyebkan hama dan penyakit menyerang.
Tanaman kenaf varietas HC36 dengan jarak tanam 40 x 30 cm ini dimanfaatkan sebagai penghasil biji. Tetapi ketika berumur 9 minggu tanaman kenaf ini sudah dipanen untuk diambil seratnya. Sehingga organ tanaman hasil pertumbuhan vegetatif berkembang dengan baik, dan mempengaruhi terhadap serat yang dihasilkan.
Cara pemanenan dilakukan dengan pemotongan batang secara seragam yaitu bagian bawah dipotong 5 cm dari permukaan tanah dan bagian atas 10 cm dari pucuk pertubuhan. Setelah dipotong batang dibedakan menjadi 3 kriteria berdasarkan diameter batang dan panjang batang.
Batang-batang kenaf direndam kedalam bak besar yang berisi air dengan dicampur EM4 (proses fermentasi). Penambahan EM4 sebesar 20 cc/liter bertujuan untuk mempercepat proses fermentasi. Proses ini membutuhkan waktu 2 minggu.
Setelah proses perendaman, dilakukan penyeratan dengan menggunakan sikat. Kemudian dilakukan pencucian dan pengeringan. Setelah serat-serat tersebut kering dilakukan penimbangan terhadap hasil serat yang dihasilkan.















BAB 5. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum budidaya tanaman serat kenaf ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L. Var HC36), dibudidayakan untuk diambil seratnya.
2. Tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L. Var HC36), tumbuh dan berkembang secara maksimal, dengan ditunjukkan bahwa organ-organ vegetatifnya tumbuh dengan bagus.
3. Serat batang tanaman kenaf diperoleh dari hasil perendaman batang-batang kenaf dengan bantuan larutan EM4, yang membantu dalam mempercepat proses fermentasi.

5.2 Saran
Kami mengharapkan kepada para praktikan lain yang mengadakan pembudidayaan tanamn serat yang sama, perlu dilakukan pengamatan yang lebih menyeluruh secara lengkap. Serta dilakukan perawatan yang lebih optimal, sekaligu menjaga keseimbangan kelembaban lingkungan, agar serangan hama dan penyakit tidak berlebihan. Sehingga nantinya hasil serat yang didapatkan dapat maksimal.














DAFTAR PUSTAKA


Mabberley, D.J. 1987. The Plant Book. A portable dictionary of the higher plants. Cambridge University Press, Cambridge.

Hartati, R. 1996. Panduan Budidaya Kenaf. Malang: Ballitas

Hartati, R. 1996. Peluang Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.). Malang: Ballitas.

Heliyanto, B. 1996. Pemuliaan Tanaman Kenaf dan Hasilnya. Malang: Ballitas.

Sastrosupadi, A, B. Santoso, dan Sudjindro. 1996. Budidaya Kenaf (Hibiscus cannabinus L.). Malang: Ballitas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar