Jumat, 26 Februari 2010

hama kutu lilin

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pinus merkusii dengan nama daerah tusam banyak dijumpai tumbuh dibelahan bumi bagian selatan. Pohon bertajuk lebat, berbentuk kerucut mempunyai perakaran cukup dalam dan kuat. Manfaat jenis pohon ini cukup banyak. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunanringan, peti, korek api, bahan baku kertas dan vinir/kayu lapis. Pada umur 10 tahun, pohon sudah dapat disadap getahnya. Dari getah Pinus dapat dibuat gondorukem dan terpentin. Gondorukem digunakan dalam industri batiksedang terpentin digunakan sebagai pelarut minyak cat dan lak.
Dalam usaha membudidayakan tanaman pinus merkusii ini masalah pertama yang dihadapi oleh pengusaha yang bersangkutan adalah tentang serangan hama. Serangan hama muncul sebagai problem utama tegakan pohon pinus. Hama yang menyerang tanaman pinus merkusii yang saat ini sedang banyak terjadi adalah kutu lilin.
Hama kutu lilin menyerang tanaman Pinus merkusii semua tingkatan umur, mulai umur 1 tahun sampai dengan tegakan akhir daur. Kutu ini mengisap cairan pohon, terutama di pucuk-pucuk ranting tajuk pinus. Tanda-tanda adanya serangan kutu lilin dapat dilihat berupa adanya bintik-bintik putih atau lapisan putih menempel pada ketiak daun di pucuk-pucuk ranting pinus. Lapisan putih ini merupakan benang-benang lilin yang dikeluarkan kutu, merupakan tempat berlindung kutu. Pucuk yang terserang daunnya menguning, kemudian daun dan pucuk menjadi rontok dan kering.
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tegakan pinus merkusiisesuai yang diharapkan, maka diperlukan teknik dalam hal perawatan terutama dalam pengendalian hama kutu lilin. Pengendalian yang dilakukan secara terpadu, berkelanjutan dan menyeluruh oleh berbagai pihak terkait.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Hama Kutu Lilin
Dari identifikasi yang dilakukan oleh pakar (Dr. Gillian W. Watson, ahli insect biosystematist, USA) diketahui bahwa spesies kutu lilin adalah Pineus boerneri. Adapun taksonomi hama kutu lilin (Pineus boerneri) selengkapnya adalah sebagai berikut :
Phylum : Arthropoda
Klas : Insekta
Ordo : Hemiptera
Sub ordo : Stenorrhyncha
Super famili : Aphidoidea
Famili : Adelgidae
Genus : Pineus
Species : Pineus boerneri

2.2 Morfologi Hama Kutu Lilin
Pada umumnya kutu lilin tubuhnya lunak, berukuran kecil (±1 mm), tinggal dan bereproduksi di pangkal pucuk bagian luar dari pohon Pinus. Kutu ini mengeluarkan lilin putih dari lubang yang terdapat di bagian dorsal.
Kutu betina mempunyai ovipositor, rostrum yang panjang, spirakel pada abdomen dan tidak aktif bergerak (sessile).
Sebagian besar famili Adelgidae mempunyai siklus hidup selama 2 tahun. P. boerneri adalah kutu yang aseksual sepanjang tahun dan memproduksi telur secara parthenogenesis. Biasanya mengisap spesies Pinus yang berdaun 2 dan 3.
Dengan sifat aseksual dan produksi telur parthenogenesis (berkembang biak tanpa perkawinan), maka populasi kutu ini cepat sekali berlipat ganda. Bila suatu petak tanaman pinus merkusii diketahui telah terserang, maka sangat mungkin bahwa pohon-pohon di petak-petak sekitarnya telah terserang namun populasi hama masih cukup rendah sehingga belum menunjukkan efek merusak yang terlihat mata.
Penyebaran dan fluktuasi populasi hama kutu lilin di lapangan dipengaruhi oleh faktor barrier (penghalang) berupa barrier alam (jurang, bukit), vegetasi (ada tidaknya vegetasi lain selain pinus), dan musim. Pertanaman pinus yang memiliki barrier alam dan vegetasi lain yang tinggi cenderung lebih lambat terserang dibanding pertanaman yang berada di bentang alam yang terbuka. Namun seiring waktu bilamana pohon-pohon pinus sudah tinggi (tinggi pohon pinus sudah menyamai/melebihi barrier yang ada) maka tingkat serangan hama kutu lilin juga meningkat. Serangan hama kutu lilin meningkat pada musim kemarau; pada musim hujan kutu lilin tertekan namun tetap ada dalam tegakan dalam populasi terbatas.

2.3 Klasifikasi Tanaman Pinus Merkusii
Klasifikasi tanaman pinus terdiri dari:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Gymnospermae
Class : Dycotyledonae
Ordo : Pinales
Family : Pinaceae
Genus : Pinus
Sub Genus : Pinus
Species : P. merkusii. Jungh. Et de Vriese

2.4 Morfologi Tanaman Pinus Merkusii
Pohon pinus besar, batang lurus, silindris. Tegakan masak dapat mencapai tinggi 30 m, diameter 60-80 cm. Tegakan tua mencapai tinggi 45 m, diameter 140 cm. Tajuk pohon muda berbentuk piramid, setelah tua lebih rata dan tersebar. Kulit pohon muda abu-abu, sesudah tua berwarna gelap, alur dalam. Terdapat 2 jarum dalam satu ikatan, panjang16-25 cm. Pohon berumah satu, bunga berkelamin tunggal. Bunga jantan dan betina dalam satu tunas. Bunga jantan berbentuk strobili, panjang 2-4 cm, terutama di bagian bawah tajuk. Strobili betina banyak terdapat di sepertiga bagian atas tajuk terutama di ujung dahan.












Gambar 2.1 Tegakan Pinus Merkusii















BAB 3. PEMBAHASAN

Hama kutu lilin merupakan salah satu hama yang menyerang tegakan pinus merkusii. Tanda-tanda adanya serangan kutu lilin dapat dilihat berupa adanya bintik-bintik putih atau lapisan putih menempel pada ketiak daun di pucuk-pucuk ranting pinus. Lapisan putih ini merupakan benang-benang lilin yang dikeluarkan kutu, merupakan tempat berlindung kutu. Pucuk yang terserang daunnya menguning, kemudian daun dan pucuk menjadi rontok dan kering.
Untuk serangan pada tegakan (pohon besar), indikasi serangan dapat diamati secara okuler dengan perubahan warna dan kelebatan tajuk pohon. Tajuk pohon yang sehat berwarna hijau dan segar, sedangkan tajuk pohon pinus yang sakit (terserang) berwarna hijau kusam, kekuningan. Tajuk pohon yang terserang juga berubah menjadi tipis akibat daun-daun yang rontok.
Dampak serangan hama kutu lilin pada tegakan pinus merkusii, diantanya ialah:
a. Ribuan hektar tanaman muda dan produktif telah terserang
b. Ribuan pohon, tanaman muda dan pohon umur produktif hidup merana, dan sudah banyak yang mati.
c. Akibat serangan pada pohon pinus yang sedemikian luas, maka produksi getah pinus sebagai sumber pendapatan perusahaan dapat terancam kelangsungannya.
d. Hama kutu lilin sangat mengancam kelangsungan tegakan pinus di Jawa.
Dari berbagai data dan informasi diketahui bahwa ternyata hama jenis pencucuk pengisap (superfamili Aphidoidea) banyak menyebabkan kerusakan dan permasalahan sangat serius pada pohon-pohon jenis konifer (jenis-jenis pinus dan daun jarum) di berbagai negara. Serangan hama pencucuk pengisap telah mengakibatkan krisis di kehutanan negara-negara Afrika. Sampai dengan saat ini serangan hama aphid (pencucuk pengisap) ini sudah berjalan selama 40 tahun (keberadaan hama pertama kali diketahui tahun 1968).
Mengingat seriusnya permasalahan hama kutu lilin bagi keberlangsungan pengelolaan hutan pinus, maka diperlukan pengendalian hama secara terpadu, berkelanjutan dan menyeluruh oleh berbagai pihak terkait.
Upaya yang dapat diterapkan antara lain :
a. Karantina
b. Survei dan Monitoring : cara ini penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan (penyebaran dan dampak) serangan hama kutu lilin dari waktu ke waktu secara detail. Dengan demikian maka keputusan langkah pengendalian (kapan dan dimana) dapat diambil secara tepat.
c. Pengendalian secara kimiawi : keuntungannya merupakan cara cepat untuk melindungi pohon; kerugiannya antara lain dapat mematikan parasit dan predator, di samping dampak polusi lingkungan..
d. Manipulasi Silvikultur : penggunaan jenis-jenis spesies alternatif, pemilihan tapak yang tidak cocok bagi hama kutu lilin, penjarangan tegakan yang terserang untuk meningkatkan kesehatan (vigoritas) pohon, penanaman lebih dari satu jenis spesies pada suatu lokasi pertanaman.
e. Pengendalian secara mekanik : melalui penggunaan perangkap dan penyemprotan air volume tinggi ke cabang-cabang. Cara ini tidak menimbulkan efek negatif pada lingkungan, tapi belum teruji untuk hama kutu lilin, juga perlu banyak tenaga pelaksana.
f. Observasi resistensi genetik : pada suatu tegakan pinus yang terserang hama kutu lilin. Dari berbagai observasi lapangan diketahui bahwa terdapat peluang adanya pohon resisten (pohon sehat hijau tidak dijumpai adanya serangan kutu lilin, pohon bersih dari kutu lilin) dan juga pohon toleran (kutu lilin menyerang, tapi pohon tetap sehat hijau tidak menunjukkan gejala sakit). Untuk mendapatkan pohon yang benar-benar resisten ataupun toleran, maka observasi kontinyu perlu dilakukan terhadap pohon-pohon kandidat resisten – toleran yang telah dipilih.
g. Pengendalian secara biologi, dilakukan dengan cara mengintroduksi musuh alami hama kutu lilin.

BAB 4. KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan tentang hama kutu lilin pada tanaman pinus merkusii dapat disimpulkan bahwa hama kutu lilin merupakan hama yang menyerang tanaman Pinus merkusii pada semua tingkatan umur, mulai umur 1 tahun sampai dengan tegakan akhir daur. Hama ini menyebabkan kerusakan dan permasalahan sangat serius pada pohon-pohon jenis konifer (jenis-jenis pinus dan daun jarum) di berbagai negara. Hal tersebut ditandai dengan adanya bintik-bintik putih atau lapisan putih menempel pada ketiak daun di pucuk-pucuk ranting pinus.
Serangan kutu lilin ini membawa dampak yang besar bagi para pengusaha yang terkait, kerena kualitas dan kuantitas tegakan tanaman pinus merkusii menurun. Sehingga perlu adanya pengendalian secara terpadu, berkelanjutan dan menyeluruh oleh berbagai pihak terkait. Pengendalian yang dapat diterapkan antara lain, karantina, survei dan monitoring, pengendalian secara kimiawi, manipulasi silvikultur, pengendalian secara mekanik, observasi resistensi genetik, dan pengendalian secara biologi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar