Jumat, 26 Februari 2010

pmw budidaya cabe merah

WIRAUSAHA BUDIDAYA CABE MERAH
(Capsicum annum L.)


PROPOSAL
PROGRAM MAHASISWA WIRAUSAHA
(PMW)






Oleh:

Ketua : Eko Purnomo A3208165
Anggota : Deni Istika Ningrum A3208126
Febri Prayuda A3208190
Lia Agustin A3208264






DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2009









LEMBAR PENGESAHAN PROGRAM MAHASISWA WIRAUSAHA

1. Judul Kegiatan : Wirausaha Budidaya Cabe Merah (Capsicum annum L.)
2. Bidang Kegiatan : PMW
3. Bidang Ilmu : Pertanian
4. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Eko Purnomo
b. NIM : A3208165
c. Jurusan : Produksi Pertanian
d. Universitas/Institut/Politeknik : Politeknik Negeri Jember
e. Alamat Rumah dan No. Telp/HP : Krajan kidul Sumberejo-Ambulu
Jember
Telp. 085258200291
5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 3 Orang
6. Dosen Pembibing/Teknisi
a. Nama Lengkap dan Gelar : Ir. Dian Hartatie, MP
b. NIP : 132062705
c. Alamat Rumah dan No. Telp/HP : Jl. Bangka 1 No. 14 Jember
HP. 08123466413
7. Biaya Kegiatan Total :
a. Dikti : Rp. 20.000.000,-
b. Sumber Lain : Rp. –
8. Jangka Waktu : 4 Bulan

Jember, 07 Mei 2009
Menyetujui
Ketua Jurusan/Pembimbing Ketua Pelaksana Kegiatan



Ir. Suwardi, MP Eko Purnomo
NIP. 131898336 NIM. A3208165


Pembantu Direktur III Dosen Pembimbing
Bidang Mahasiswa



Ir. Bambang Poerwanto Ir. Dian Hartatie, MP
NIP. 131847716 NIP. 132062705






BAB 1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Cabe atau lombok merupakan tanaman sayuran buah semusim dan termasuk jenis tanaman hortikultura (Rismunandar, 1984), yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penyedap masakan dan penghangat badan. Dari hal tersebut lebih dikenal sebagai sayuran rempah atau bumbu dapur.
Produksi nasional cabe rata rata setiap tahunnya adalah 217.351 ton (Hendro, 2002). Oleh karena kebutuhan atau konsumsi yang semakin meningkat dan persebaran produksinya tidak merata sepanjang tahun di seluruh daerah, maka menyebabkan harga cabe tidak stabil dan tidak merata. Di suatu daerah harga cabe dapat mencapai harga yang sangat tinggi dan di daerah lain sangat murah. Stabilitas harga cabe di pasar sangat dirasa sulit, terutama bagi para petani. Misalnya pada hari hari besar (hari raya) dan pada saat tanam (paceklik), harga cabe melonjak sampai beberapa kali harga pada hari biasa. Tetapi sebalinya, pada hari hari panen harganya merosot jauh dibawah rata rata harga pasar.
Pada bulan oktober-desember dan februari-april harga cabe di beberapa kota besar pada umumnya meningkat. Hal ini sesuai dengan kenyataan, pada bulan bulan tersebut adalah musim hujan lebat. Sehingga tidak banyak orang bertanam cabe, akibatnya hasil panen (persediaan) cabe rendah (paceklik), sedangkan permintaan bertambah.
Penanaman cabe merah pada musim hujan merupakan penanaman diluar musim (off season) yang penuh resiko, karena tanaman cabe merah tidak tahan terhadap hujan lebat terus menerus. Akan tetapi cabe merah keriting cukup tahan menghadapi pukulan air hujan tersebut.






Saat ini telah banyak benih cabe hibrida yang beredar di pasaran dengan nama varietas yang beraneka ragam dengan berbagai keunggulan yang dimiliki. PT. TANINDO SUBUR PRIMA sebagai salah satu perusahaan Agribisnis, telah merilis beberapa varietas cabe hibrida besar dan keriting. Cabe hibrida besar yang dirilis PT. TANINDO SUBUR PRIMA adalah Jet set, Arimbi, Buana 07, Somrak, Elegance 081, Horison 2089, Imperial 308 dan Emerald 2078. Dan untuk cabe hibrida keriting diantaranya, Papirus, CTH 01, Kunthi 01, Sigma, Flash 03, Princess 06 dan Helix 036. Dan untuk cabe rawit hibrida adalah Discovery.
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas cabe merah sesuai dengan permintaan konsumen maka diperlukan teknik budidaya yang sesuai, khususnya dalam hal pemupukan. Untuk menambahkan nutrisi berikan pupuk NPK grand S-15 sebanyak 80 gram yang telah dihaluskan untuk tiap 3 ember campuran bahan tersebut (Sutater,1986). Selain itu perlu adanya pengolahan lahan yang tepat agar tercapai kualitas dan kuantitas produksi cabe merah yang lebih optimal.

1.2 Rumusan Masalah
Saat ini permintaan pasar dan konsumsi masyarakat terhadap cabe merah terus meningkat seiring semakin banyak varietas cabe yang berkembang di masyarakat. Selain itu kebutuhan ekspor pun bertambah dengan harga yang cukup tinggi, sementara petani umumnya kurang mengenal efektifitas dan efisiensi waktu yang cocok dalam pembudidayaan tanaman cabe merah. Serta teknik budidaya yang tepat agar menghasilkan produksi dan kualitas cabe merah yang memenuhi syarat mutu sesuai dengan permintaan pasar, baik lokal, nasional maupun internasional.

1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh teknik budidaya yang tepat terhadap hasil produksi dan kualitas cabe merah.
2. Untuk meningkatkan pemasaran cabe merah terhadap permintaan segmen pasar.
3. Untuk mengembangkan peluang wirausaha dikalangan mahasiswa.


1.3.2 Manfaat
Dari hasil kegiatan ini dapat memberi atau menambah informasi bagi pembaca dan petani tentang budidaya tanaman cabe merah dan pendapatan serta penghasilan dalam usaha tani.
Disamping itu mahasiswa dan petani dapat memperoleh pengetahuan mengenai teknik budidaya yang tepat dan pengalaman dalam bidang usaha tani, sehingga produksi cabe merah dapat meningkat.


























BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Persebaran Cabe
Tanaman cabe berasal dari mexico, kemudian menyebar ke Eropa pada abad ke-15. Pada abad ke-8 tanaman cabe telah mulai dikenal di Amerika selatan dan Amerika Tengah. Kini telah menyebar di berbagai Negara tropic, terutama di Asia, Afrika tropic, Amerika Selatan dan Karibia. Di Indonesia, tanaman cabe tersebar luas di berbagai daerah, tetapi sebagai pusat penyebaran penting ialah Purworejo, Kebumen, Tegal, Pekalongan, Pati, Padang, Bengkulu, dan lain sebagainya.

2.2 Karakteristik Tanaman
2.2.1 Klasifikasi Tanaman
Tanaman cabe yang mempunyai nama botani Capsicum sp. Termasuk dalam family Solanaceae, ordo tubiflorae, genus Capsicum, dan Spesies Capsicum annum L. mempunyai nilai ekonomi tinggi.

2.2.2 Sifat Botani Tanaman
Menurut Cherilei (1968) cabe merah termasuk tanaman semusim (setahun) yang berbentuk perdu, tinggi batangnya kurang dari 1,5 meter. Akar tunggangnya dalam dengan susunan akar samping (serabut) yang baik. Cabangnya banyak, berbentuk bulat sampai agak persegi dengan posisi yang cenderung tegak. Warna batang kehijauan sampai keunguan dengan ruas berwarna hijau dan ungu bergantung pada varietasnya. Daunnya lonjong sampai bulat panjang dengan ujung meruncing. Warna daun hijau kelam sampai keunguan. Namun adapula jenis cabe kecil daunnya berwarna hijau kekuningan.
Bunganya sempurna berdiri tunggal atau berkelompok pada ketiak daun. Setiap bunga mempunyai 5 daun buah, dan 5-6 daun mahkota yang berwarna putih dan ungu bergantung pada varietasnya. Sebuah putik dengan kepala bulat, benangsari terdiri atas 5-6 buah dengan kepalasari lonjong.



Buahnya bulat sampai bulat panjang mempunyai 2-3 ruang yang berbiji banyak. Warna buah muda ada yang hijau, putih kekuningan dan ungu bergantung pada varietasnya. Tetapi buah yang telah tua atau matang pada umumnya kuning sampai merah dengan aroma yang berbeda sesuai varietas.
Bijinya kecil, bulat pipih seperti ginjal (buah pinggang), yang warnanya kuning kecoklatan. Berat 1000 biji kering berkisar antara 3-6 gram.

2.2.3 Kandungan Gizi
Secara umum cabe memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabe juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industri makanan dan industri obat-obatan atau jamu.
Cabe merah mengandung minyak eteris yang sangat tinggi, khusunya menyebabkan rasa pedas yang disebut capsaicin (C18 H27 NO3).

2.2.4 Syarat Tumbuh Tanaman Cabe

Pada umumnya cabe dapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 2000 meter dpl. Cabe dapat beradaptasi dengan baik pada temperatur 24 – 27 derajat Celsius dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi (Kusuma, 1979).
Tanaman cabe dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar dengan sudut kemiringan lahan 0 sampai 10 derajat serta membutuhkan sinar matahari penuh dan tidak ternaungi. pH tanah yang optimal antara 5,5 - 7.
Tanaman cabe menghendaki pengairan yang cukup. Tetapi apabila jumlahnya berlebihan dapat menyebabkan kelembaban yang tinggi dan merangsang tumbuhnya penyakit jamur dan bakteri. Jika kekurangan air tanaman cabe dapat kurus, kerdil, layu dan mati. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah dan air hujan.



BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penanaman tanaman cabe merah di lahan persawahan Desa Sumberejo-Ambulu. Dan dilakukan pada bulan Juni s/d Agustus 2009.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk membantu kegiatan ini adalah: Cangkul, sabit, tugal, knap sack spreyer, timba, kenca, pompa air (diesel), sak.
Bahan yang diperlukan adalah: Bibit cabe merah, pupuk urea, SP-36, NPK, Puradan 3G, insectisida, dan herbisida.

3.3 Metode Pelaksanaan
Program MAhasiswa Wirausaha (PMW) ini dilaksanakan pada lahan
2500 m2 dengan pengolahan lahan sebanyak 2 kali, menggunakan Jarak tanam yang digunakan adalah 50 – 60 cm jarak antar lubang dan 60 – 70 cm untuk jarak antar barisan dengan pola penanaman model segitiga atau zig-zag. Dengan 1 bibit tanaman perlubang tanaman . dan hasil produksi serta pemasaran dilakukan analisa usaha tani.

3.4 Pelaksanaan
3.4.1 Pengolah Tanah
Lahan yang akan dipakai tempat penanaman harus dibersihkan dari segala macam gulma dan akar bekas tanaman lama, agar pertumbuhan akar tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit. Apabila lahan banyak ditumbuhi gulma, pembersihannya lebih baik menggunakan Herbisida Sistemik seperti Rambo 480AS dengan dosis 2 sampai 4 liter per Hektar.
Selanjutnya lahan dibajak dan digaru dengan hewan ternak maupun dengan bajak traktor. Pembajakan dan penggaruan bertujuan untuk menggemburkan, memperbaiki aerasi tanah dan untuk menghilangkan OPT yang bersembunyi di tanah.
Buat bedengan dengan ukuran lebar 100 – 110 cm dengan ketinggian bedengan 50 – 60 cm dan lebar parit 50 – 60 cm . Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan.
Pengukuran pH tanah juga perlu dilakuan dengan alat pH meter atau dengan kertas lakmus. Untuk menaikkan pH tanah lakukan pengapuran lahan menggunakan dolomint atau kapur gamping dengan dosis 2 – 4 ton/Ha atau 200 – 400 gram / meter persegi tergantung pH tanah yang akan dinaikkan. Pengapuran diberikan pada saat pembajakan atau pada saat pembuatan bedengan bersamaan dengan sebar kompos atau pupuk kandang. Pupuk kandang yang diperlukan adalah 10 sampai 20 ton / Ha atau ½ sampai 1 zak untuk 10 meter panjang bedengan.
Pupuk dasar yang diberikan adalah pupuk NPK grand S-15, 2 kg untuk 10 meter panjang bedengan atau 2 ton / hektar.
Tahap berikutnya adalah pemasangan mulsa plastic hitam perak yang berguna untuk menekan perkembangbiakan hama dan penyakit, pertumbuhan gulma, mengurangi penguapan, mencegah erosi tanah, mempertahankan struktur, suhu dan kelembaban tanah serta dapat mencegah terjadinya pencucian pupuk. Pemasangan mulsa dilakukan dengan cara membentang dan menarik antara dua sisi dengan permukaan perak di bagaian atas. Setiap ujung dan sisi mulsa dikancing dengan pasak.. Agar pemasangan mulsa lebih optimal dan dapat menutup permukaan bedengan dengan baik sebaiknya dilakukan pada siang hari atau saat cuaca panas.

3.4.2 Teknik Penanaman
Jarak tanam yang digunakan adalah 50 – 60 cm jarak antar lubang dan 60 – 70 cm untuk jarak antar barisan dengan pola penanaman model segitiga atau zig-zag.
Pembuatan lubang tanam sedalam 8 sampai 10 cm dilakukan bersamaan dengan pembuatan lubang pada mulsa yang berpedoman pada pola yang dipakai dan sesuai jarak tanam yang dianjurkan .
Pembuatan lubang pada mulsa dapat juga menggunakan system pemanasan dengan menggunakan kaleng dengan diameter kurang lebih 8 – 10 cm. Lubang tanam dibuat dengan cara menugal tanah sedalam 8 – 10 cm.


Bibit cabe dipersemaian yang telah berumur 15 – 17 hari atau telah memiliki 3 atau 4 daun, siap dipindah tanam pada lahan. Semprot bibit dengan fungisida dan insektisida 1 – 3 hari sebelum dipindahtanamkan untuk mencegah serangan penyakit jamur dan hama sesaat setelah pindah tanam
Seleksi dan pengelompokan bibit berdasarkan ukuran besar kecil dan kesehatanya. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pada saat cuaca tidak terlalu panas, dengan cara merobek kantong semai dan diusahakan media tidak pecah dan langsung dimasukkan pada lubang tanam. Kemudian lakukan pemasangan lanjaran atau ajir, dipasang di samping lubang tanam.

3.4.3 Pemeliharaan Tanaman
Setelah tanaman berumur 7 – 14 hst , tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan normal atau mati perlu dilakukan penyulaman dengan bibit yang masih ada di persemaian.
Jika pada lubang tanam tumbuh gulma, maka perlu dilakukan penyiangan dengan cara mencabut . Pengendalian gulma perlu dilakukan pada gulma yang tumbuh di parit dengan menggunakan cangkul atau dengan herbisida Rambo 480AS. Pada saat aplikasi nozelnya perlu diberi sungkup agar semprotan herbisida tidak mengenai tanaman cabe.
Pewiwilan perlu dilakukan pada tunas yang tumbuh pada ketiak yang berada dibawah cabang utama dan bunga pertama yang muncul pada cabang utama. Pewiwilan ini dilakukan agar pertumbuhan vegetatif tanaman dapat optimal.
Pengikatan dilakukan saat tanaman umur 10 – 15 hst dengan mengikatkan batang yang berada dibawah cabang utama dengan tali plastic pada lanjaran atau ajir. Pada saat tanaman berumur 30 – 40 hst, ikat tanaman diatas cabang utama dan ikat juga pada saat pembesaran buah yaitu pada umur 50 -60 hst.

3.4.4 Pengairan
Pengairan dilakukan setiap 7 – 10 hari atau tergantung kondisi lahan dengan cara menggenangi atau leb. Pada waktu pelepasan air dari petak penanaman harus dilakukan dengan pelan agar tidak terjadi pencucian pupuk dari bedeng tanaman.


3.4.5 Pemupukan Susulan
Untuk memacu pertumbuhan tanaman, dianjurkan untuk melakukan pengocoran mulai umur 7 sampai 60 hst dengan NPK Grand S-15 konsentrasi 7 gram per liter sebanyak 250 cc pertanaman dengan interval 7 hari . Setiap pengulangan pengocoran konsentrasi pupuk dinaikkan 2 gram per liter. Pada saat tanaman berumur 30 hst, pemupukan susulan pertama dilakukan dengan memberikan campuran pupuk NPK Grand S-15 150 kg/Ha dan Urea 40 Kg/Ha. Pemupukan dilakukan dengan cara melubangai mulsa dan menugal pada sisi tanaman dengan jarak 15 cm.
Selain tanaman dikocor, dianjurkan juga disemprot dengan pupuk daun Mamigro Super N atau NPK spesial atau dengan Gardena D dengan konsentrasi 2 – 5 gram / liter air mulai umur 7 sampai 30 hst dengan interval pemberian 7 – 15 hari.
Pupuk susulan kedua dilakukan saat tanaman berumur 40 hst dengan memberikan pupuk NPK Grand S-15 300 kg / Ha.
Pada saat tanaman berumur 50 hst, pupuk susulan ke tiga dilakukan dengan memberikan pupuk NPK Grand S-15 dengan dosis 350 kg/Ha.
Untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah, dianjurkan untuk dilakukan penyemprotan dengan pupuk daun Mamigro Super P atau NPK Spesial, Gardena B atau dengan Pupuk Mikro Fitomic . Konsentrasi untuk Fitomic adalah 1,5 – 2,5 cc / liter dengan interval pemberian 10 – 15 hari.
Pemupukan susulan ke empat dilakukan saat tanaman berumur 60 hst. Pupuk yang diberikan adalah pupuk NPK Grand S-15 dengan dosis 200 Kg/Ha.

3.4.6 Hama Dan Penyakit Tanaman Cabe
Hama yang sering menyerang tanaman cabe adalah :

• Ulat tanah atau Agrotis Ipsilon
• Thrips
• Ulat grayak atau Spodoptera litura
• Lalat buah atau Dacus verugenius
• Aphids hijau /kutu daun
• Tungau / mite
• Nematode puru akar


Ulat Tanah dengan nama latin Agrotis ipsilon, biasa menyerang tanaman cabe yang baru pindah tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tanaman hingga roboh bahkan bisa sampai putus. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan penyemprotan insektisida Turex WP dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 g/liter bergantian dengan insektisida Direct 25ec dengan konsentrasi 0,4 cc/liter atau insentisida Raydok 28ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter sehari sebelum pindah tanam.
Ulat grayak pada tanaman cabe biasa menyerang daun, buah dan tanaman yang masih kecil. Untuk tindakan pengendalian dianjurkan menyemprot pada sore atau malam hari dengan insektisida biologi TurexWP bergantian dengan insektisida Raydok 28ec atau insektisida Direct 25ec.
Lalat buah gejala awalnya adalah buah berlubang kecil, kulit buah menguning dan kalau dibelah biji cabe berwarna coklat kehitaman dan pada akhirnya buah rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan membuat perangkap dengan sexferomon atau dengan penyemprotan insektisida Winder 100EC dengan konsentrasi 0,5 sampai 1 cc per liter bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter atau dengan insektisida Cyrotex 75sp dengan konsentrasi 0,3-0,6 g/liter.
Hama Tungau atau mite menyerang tanaman cabe hingga daun berwarna kemerahan, menggulung ke atas, menebal akhirnya rontok. Untuk penengendalian dan pencegahan semprot dengan akarisida Samite 135EC dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 ml / liter air bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter.
Tanaman yang terserang hama thrips, bunga akan mengering dan rontok. Sedangkan apabila menyerang bagian daun pada daun terdapat bercak keperakan dan menggulung. Jika daun terserang aphids, daun akan menggulung kedalam, keriting, menguning dan rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian lakukan penyemprotan dengan insektisida Winder 25 WP dengan konsentrasi 100 – 200 gr / 500 liter air / ha atau dengan Winder 100EC 125 – 200 ml / 500 liter air / Ha bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter.


Nematoda merupakan organisme pengganggu tanaman yang menyerang daerah perakaran tanaman cabe. Jika tanaman terserang maka transportasi bahan makanan terhambat dan pertumbuhan tanaman terganggu. Selain itu kerusakan akibat nematode dapat memudahkan bakteri masuk dan mengakibatkan layu bakteri. Pencegahan yang efektif adalah dengan menanam varietas cabe yang tahan terhadap nematode dan melakukan penggiliran tanaman. Dan apabila lahan yang ditanami merupakan daerah endemi, pemberian nematisida dapat diberikan bersamaan dengan pemupukan.
Penyakit yang sering menyerang tanaman cabe diantaranya adalah

• Rebah semai
• Layu Fusarium
• Layu bakteri
• Antraknose / patek
• Busuk Phytophthora
• Bercak daun Cercospora
• Penyakit Virus

Penyakit anthracnose buah. Gejala awalnya adalah kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang kemudian meluas dan akhirnya membusuk. Untuk pengendaliannya semprot dengan fungisida Kocide 54 WDG dengan konsentrasi 1 sampai 2 g / l air bergantian dengan fungisida Victory 80wp dengan konsentrasi 1 – 2 g / liter air.
Penyakit busuk Phytopthora gejalanya adalah bagian tanaman yang terserang terdapat bercak coklat kehitaman dan lama kelamaan membusuk. Penyakit ini dapat menyerang tanaman cabe pada bagian daun, batang maupun buah. Pengendaliannya adalah dengan menyemprot fungisida Kocide 77 wp dengan dosis 1,5 – 3 kg / Ha bergantian dengan fungisida Victory 80WP konsentarsi 2 sampai 4 gram / liter dicampur dengan fungisida sistemik Starmyl 25 wp dengan dosis 0,8 – 1 g / liter
Rebah semai ( dumping off ) . Penyakit ini biasanya menyerang tanaman saat dipersemaian. Jamur penyebabnya adalah Phytium sp. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan perlakuan benih dengan Saromyl 35SD dan menyemprot fungisida sistemik Starmyl 25WP saat dipersemaian dan saat pindah tanam dengan konsentrasi 0,5 sampai 1 gram / liter.


Penyakit layu fusarium dan layu bakteri pada tanaman cabe biasanya mulai menyerang tanaman saat fase generatif. Untuk mencegahnya dianjurkan penyiraman Kocide 77WP pada lubang tanam dengan konsentrasi 5 gram / liter / lima tanaman, mulai saat tanaman menjelang berbunga dengan interval 10 sampai 14 hari.
Penyakit bercak daun cabe disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici. Gejalanya berupa bercak bercincin, berwarna putih pada tengahnya dan coklat kehitaman pada tepinya. Pencegahannya dapat dilakukan dengan menyemprot fungisida Kocide 54WDG konsentrasi 1,5 sampai 3 gram / liter bergantian dengan fungisida Victory 80WP konsentrasi 2 sampai 4 gram / liter dengan interval 7 hari.
Penyakit mozaik virus. Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit mozaik virus ini. Dan sebagai tindakan pencegahan dapat dilakukan pengendalian terhadap hewan pembawa virus tersebut yaitu aphids.
Untuk pencegahan serangan hama penyakit, gunakan benih cabe hibrida yang tahan terhadap serangan hama penyakit dan yang telah diberi perlakuan pestisida. Apabila terjadi serangan atau untuk tujuan pencegahan lakukan aplikasi pestisida sesuai OPT yang menyerang atau sesuai petunjuk petugas penyuluh lapang.

3.4.7 Panen
Pada saat tanaman berumur 75 – 85 hst yang ditandai dengan buahnya yang padat dan warna merah menyala, buah cabe siap dilakukan pemanenan pertama. Umur panen cabe tergantung varietas yang digunakan, lokasi penanaman dan kombinasi pemupukan yang digunakan serta kesehatan tanaman. Tanaman cabe dapat dipanen setiap 2 – 5 hari sekali tergantung dari luas penanaman dan kondisi pasar.
Pemanenan dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya yang bertujuan agar cabe dapat disimpan lebih lama. Buah cabe yang rusak akibat hama atau penyakit harus tetap di panen agar tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman cabe sehat. Pisahkan buah cabe yang rusak dari buah cabe yang sehat.
Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena bobot buah dalam keadaan optimal akibat penimbunan zat pada malam hari dan belum terjadi penguapan.



3.4.8 Pasca Panen Cabe
Hasil panen yang telah dipisahkan antara cabe yang sehat dan yang rusak, selanjutnya dikumpulkan di tempat yang sejuk atau teduh sehingga cabe tetap segar .
Untuk mendapatkan harga yang lebih baik, hasil panen dikelompokkan berdasarkan standar kualitas permintaan pasar seperti untuk supermarket, pasar lokal maupun pasar eksport.
Setelah buah cabe dikelompokkan berdasarkan kelasnya, maka pengemasan perlu dilakukan untuk melindungi buah cabe dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Kemasan dapat dibuat dari berbagai bahan dengan memberikan ventilasi. Cabe siap didistribusikan ke konsumen yang membutuhkan cabe segar.
Dengan penerapan teknologi budidaya, penangganan pasca panen yang benar dan tepat serta penggunaan benih hibrida yang tahan hama penyakit dapat meningkatkan produksi cabe yang saat ini banyak dibutuhkan.

3.4.9 Pemasaran
Pemasaran cabe merah dilakukan secara langsung pada konsumen atau pada pengepul. Kegiatan ini dilaksanakan di sekitar daerah kecamatan Ambulu jalur tata niaga cabe merah dari produsen ke konsumen adalah sebagai berikut:





Produsen

Konsumen
Teknologi Mahasiswa



Gambar 1. Jalur Tata Niaga Cabe Merah



3.5 Nama dan Biodata
3.5.1 Nama dan Biodata Pelaksana
1. Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : Eko Purnomo
b. NIM : A3208165
c. Program Study/Jurusan : Produksi Tanaman Perkebunan
Produksi Pertanian
d. Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Jember
e. Waktu Untuk Kegiatan : 12 jam/minggu
2. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Deni Istika NIngrum
b. NIM : A3208126
c. Program Study/Jurusan : Produksi Tanaman Perkebunan
Produksi Pertanian
d. Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Jember
e. Waktu Untuk Kegiatan : 12 jam/minggu
3. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Febri Prayuda
b. NIM : A3208190
c. Program Study/Jurusan : Produksi Tanaman Perkebunan
Produksi Pertanian
d. Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Jember
e. Waktu Untuk Kegiatan : 12 jam/minggu
4. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Lia Agustin
b. NIM : A3208264
c. Program Study/Jurusan : Produksi Tanaman Perkebunan
Produksi Pertanian
d. Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Jember
e. Waktu Untuk Kegiatan : 12 jam/minggu




3.5.2 Nama dan Biodata Dosen Pembimbing
a. Nama lengkap : Ir. Dian Hartatie, MP
b. NIP : 132062705
c. Golongan dan Pangkat : IV A / Pembina
d. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
e. Program Studi : Produksi Tanaman Perkebunan
f. Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Jember
g. Bidang Keahlian : Produksi Pertanian
h. Waktu Untuk Kegiatan : 3 jam/minggu

























Lampiran 1
Pelaksanaan Kegiatan

Pengolahan Lahan


Pembuatan Plot


Penyiapan Bibit Pemasaran


Pemeliharaan





















Lampiran 2

Rincian Biaya Tanam Cabe Merah

Jenis Tanaman : Cabe Merah
Luas Tanah : 2500 M2
a. Biaya sewa lahan 2500 M2 = Rp. 4.000.000,-
b. Pengadaan Inventaris
1. 4 Buah Cangkul @ Rp. 50.000,- = Rp. 200.000,-
2. 4 Buah Gembor @ Rp. 25.000,- = Rp. 100.000,-
3. 4 Buah Timba @ Rp. 10.000,- = Rp. 40.000,-
4. 1 Unit Knap sack Sprayer = Rp. 360.000,-
5. Kenco 50 M @ Rp. 750,- = Rp. 37.500,-
6. 5 Buah Sak/Karung @ Rp. 10.000,- = Rp. 40.000,- +
Jumlah = Rp. 777.500,-




















c. Biaya Pelaksanaan Selama 6 Bulan
1. Pengadaan Bibit Cabe Merah
• 0.25 Ha / 60 cm x 50 cm = 8334 Bibit
• 8400 Bibit @ Rp. 750, = Rp. 6.300.000,-
2. Pupuk
• NPK 200 Kg @ Rp. 15.000,- = Rp.3000.000,-
• UREA 100 Kg @ Rp. 1300,- = Rp. 130.000,-
• SP-36 50Kg @ Rp. 1500,- = Rp. 150.000,-
3. Fungisida
• Decis 1 L = Rp. 90.000,-
• Lanat 1 L = Rp. 90.000,-
• Curacorn 1 L = Rp. 125000,-
4. Pengairan 15 Kali @ Rp.30.000 = Rp. 450.000,-
5. Pengolahan Tanah 5 Orang (4 hari) @ Rp. 30.000 = Rp. 600.000,-
6. Tenaga Kerja Penanaman 5 Orang @ Rp. 30.000 = Rp. 150.000,-
7. Tenaga Kerja Pemupukan 5 Orang (3 kali) @ Rp. 25.000,- = Rp 375.000,-
8. Tenaga Kerja Pemeliharaan 5 Orang (5 kali)@ Rp.20.000, = Rp. 500.000,-
9. Tenaga Kerja Pemanenan 5 Orang (20 kali) @ Rp.15000,- = Rp. . 750.000,
Jumlah Rp.14.210.000,-
d. Pemasaran
1. Transportasi 20 Kali @ 25.000 = Rp. 500.000,-
Jumlah Rp. 500.000,-










Lampiran 3
Pendapatan

 Panen
• Panen 1 = 50 Kg @ Rp. 5.000,- = Rp. 250.000,-
• Panen 2 = 100 Kg @ Rp.5.000,- = Rp. 500.000,-
• Panen 3 = 150 Kg @ Rp.5.000 = Rp. 750.000,-
• Panen 4 = 300 Kg @ Rp.5.000, = Rp.1.500.000,-
• Panen 5 = 400 Kg @ Rp.5.000, = Rp.2.000.000,-
• Panen 6 = 450 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.2.250.000,-
• Panen 7 = 500 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.2.500.000,-
• Panen 8 = 500 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.2.500.000,-
• Panen 9 = 350 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.750.000,-
• Panen 10 = 350 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.750.000,-
• Panen 11 = 300 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.500.000,-
• Panen 12 = 300 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.500.000,-
• Panen 13 = 300 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.500.000,-
• Panen 14 = 250 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.250.000,-
• Panen 15 = 250 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.250.000,-
• Panen 16 = 250 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.250.000,-
• Panen 17 = 200 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.000.000,-
• Panen 18 = 200 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.000.000,-
• Panen 19 = 200 Kg @ Rp.5.000,- = Rp.1.000.000,-
• Panen 20 = 150 Kg @ Rp.5.000,- = Rp. 750.000,- +
Jumlah Rp. 27.750.000,-

 R/L = Pendapatan – Biaya
= Rp. 27.750.000 - Rp. 19.427.500
= Rp. 8.262.500,-



Lampiran 4

Analisa Usaha

1. Payback Period
Biaya Rp.19.487.500
x Bulan = x 12 = 8,43
Pedapatan Rp.27.750.000

Hasil tersebut mempunyai arti bahwa modal yang akan diinvestasikan akan kembali setelah 8 bulan 5 hari.

2. B/C Ratio
Keuntungan Rp. 8.262.500
= = 0,3
Pedapatan Rp. 27.750.000

Dari B/C sebesar menandakan bahwa dari modal Rp. 1 akan mempunyai keuntungan Rp. 0,3

3. Break Even Point
Biaya Tetap Rp. 11.577.500
= = Rp. 16.079.900,-
1 – Biaya tidak tetap 1 – Rp.7.910.000
Pendapatan Rp.27.750.000
Hasil BEP tersebut berarti bahwa usaha tidak untung dan tidak rugi pada saat pendapatan mencapai Rp. 16.079.900,-











DAFTAR PUSATAKA

Apriantono, A. 2004. Rujukan Profesional Agribisnis. Percaturan Pasar Domestik pada Peralihan Tahun. Majalah Hortikultura, Vol. 3. No.12.


Etty Sumiati, dan Herbagiandono. 1985. Pengaruh beberapa Zat Pengatur Tumbuh dan Pupuk Daun Biokimia Terhadap Hasil Buah Cabe (Capsicum annum L.) Kultifar Padang. Bul. Panel. Hort. Vol. XII No. 1.


Kerlinger, N. Fred., 2000. Asas-asas Penelitian Behavioral. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Hendro dan Rismunandar. 1984. Kunci Bercocok Tanam Sayur Sayuran Penting di Indonesia. Sinar Baru. Bandung. Hal. 39 – 44.

Nazir. 1995. Metode Penelitian. Ghalia. Indonesia

Sunaryono, H. 2002. Budidaya Cabe Merah. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar