Jumat, 26 Februari 2010

laporan haramai

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Tujuan dan Manfaat
1.1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum budidaya tanaman serat yaitu haramai (Boehmeria nivea Var. Pujon 9) adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana teknik budidaya tanaman serat, khususnya haramai (Boehmeria nivea Var. Pujon 9).
b. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman serat, khususnya tanaman haramai(Boehmeria nivea Var. Pujon 9).

1.1.2 Manfaat
Dari hasil kegiatan ini dapat memberi atau menambah informasi bagi mahasiswa tentang budidaya tanaman serat, khusunya tanaman serat haramai.
Disamping itu mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan mengenai teknik budidaya yang tepat dan pengalaman dalam bidang usaha budidaya tanaman serat, sehingga produksi serat dapat meningkat.














BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Tanaman Haramai
Haramai atau Rami adalah tanaman serat alam nabati. Tanaman Rami sudah ada sejak jaman Jepang pada waktu Perang Dunia II, adalah tanaman tahunan yang berbentuk rumpun mudah tumbuh dan dikembangkan di daerah tropis, tahan terhadap penyakit dan hama, serta dapat mendukung pelestarian alam dan lingkungan. Tanaman haramai berasal dari Negeri China, tumbuh di daratan tengah dan barat, dan di sepanjang aliran sungai Yang Tse. Dikenal sejak ±2000 th SM.
Perkembangan di Indonesia dikenal sejak jaman penjajahan Jepang (tahun 1942-1945), di perkebunan Sumatera Utara, Jabar, Jateng, dan Jatim. Tahun 1947 tanaman Rami dibongkar (aksi militer I Belanda). Tahun 1955 pemerintah Indonesia meneliti 12 varietas Rami. Tahun 1957 pemerintah Indonesia mendirikan pabrik pemintalan Rami di Pematang Siantar. Dihasilkan beberapa varietas Pujon di Jatim (Malang, Jember). Tahun 1983 pemerintah Jabar memberikan stimulan untuk pengembangan tanaman haramay. Tahun 1988 target produksi nasional serat rami siap pintal 150.000-200.000 ton, dengan penanaman seluas 200.000 ha pada lahan pasang surut.

2.2 Botani Tanaman Haramai
2.2.1 Taksonomi Tanaman Haramai
Menurut Dempsey (1961), klasifikasi tanaman haramai:
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Klas : Dicotyledoneae
Ordo : Urticales
Famili : Urticaceae
Genus : Boehmeria
Spesies : Boehmeria nivea

2.2.2 Habitat
Sangat cocok ditanam/ideal di daerah tropis yaitu di Indonesia dengan ketinggian ideal 400 m s/d 1500 m diatas permukaan air laut, dengan curah hujan 90mm/bln yang merata sepanjang tahun, kondisi tanah datar terbuka berstruktur ringan seperti tanah liat berpasir dengan PH 5,6 s/d 6,5 dengan umur produktif 6 s/d 8 tahun dipanen 5 s/d 6 x dalam setahun. Pada panen pertama dipangkas kosmetik usia 6 bulan, setelah itu tiap 2 bulan dapat dipanen sampai usia 8 tahun. Batang tanaman rami tumbuh rhizome yang berbentuk ramping dan pertumbuhannya dapat mencapai ketinggian diatas 250 cm, diameter batang antara 8 s/d 20 mm, berat batang 60 s/d 140 gram dengan jumlah perumpun 4 s/d 12 batang, warna hijau sampai coklat.

2.2.3 Morfologi Haramai
Batang tanaman haramai ramping, tegak, tinggi 200 – 250 cm. Diameter batangnya mencapai 12 – 20 mm. Batang berwarna hijau ketika muda, dan berwarna kecoklatan ketika tua.
Bentuk daun bulat telur, menyerupai jantung. Tepi daun bergerigi, warna daun hijau (bagian atas), putih keperak-perakan (bagian bawah). Permukaan daun haramai berbulu halus.
Bunga tanaman haramai berwarna putih dan berkelompok. Letaknya pada ketiak daun. Bunga tanaman haramai termasuk tanaman berumah satu
Warna biji coklat, dengan bentuk lonjong. Ukuran biji kecil (± 1mm). Jumlah biji dalam 1 kg yaitu ± 7 juta/kg.
Akar bersifat dimorfisme. Akarnya berupa akar umbi (bulb), tumbuh vertical ke bawah ± 25 cm – 30 cm.
Dan berupa akar reproduksi (rhizome), tumbuh horizontal ± 10 cm di dalam tanah.




2.3 Syarat Tumbuh
Tanaman haramai berada cocok pada tempat dengan ketinggian 0 - 1400 m dpl, dan optimum berda pada 500 - 1400 m dpl. Tanaman ini tumbuh dengan baik pada temperatur udara 20°C - 28°C, dengan kelembaban 83% - 89%, serta curah hujan rata-rata 1200 mm – 2000 mm/tahun.
Haramai tumbuh pada tanah yang berstruktur gembur dan subur. Dengan pH 5,4 - 6,4. Namun pada lahan gambut, pH : 4,8 - 5,6 dengan aerasi dan drainase yang baik.

2.4 Kegunaan
2.4.1 Daun
Daun Rami digunakan sebagai kompos, pakan ternak (kambing, sapi ayam dll) adapun kandungan yang diambil dari daun rami sebagai berikut :
a. Protein : 24 s/d 26 %
b. Lemak : 5 s/d 6 %
c. N.F.E : 2 s/d 16 %
d. Phospor : 25 s/d 30 %
e. Kalsium : 5 s/d 6 %
f. Karotin r/g : 200 s/d 300 %
g. Kandungan lainnya : 36 s/d 46 % ( Kaya akan lisin dan karoten )

2.4.2 Batang
Proses dekortikasi menghasilkan limbah rami yang sangat baik untuk pupuk organik ( kompos). Setelah mengalami bio proses, pupuk organik dari batang rami tersebut dapat digunakan untuk pemupukan tanaman. Di samping tanaman rami itu sendiri kelebihannya dapat digunakan untuk tanaman hortiku-tura atau tanaman perkebunan lainnya.
Kegunaan batang rami yang lain adalah sebagai bahan baku pulp (kertas), bahan baku particle board serta mempunyai kandungan cellulosa yang cukup baik untuk dijadikan bahan baku propelant double base (bahan baku isian dorong peluru).
2.4.3 Serat
Serat rami yang telah diproses sampai menyerupai serat kapas sudah dapat dipintal menjadi benang untuk ditenun menjadi tekstil dari rami peringkat No.2 setelah sutera, (cotton nomor 7). Kegunaan yang lain adalah: canvas, slang PMK, jaring ikan, jala ikan, tambang/tali kapal, benang sepatu, dan kaos petromax.
Serat rami diteliti dan dikembangkan untuk kepentingan alat pertahanan karena serat alam rami mempunyai keunggulan lebih baik dari serat alam yang lain termasuk serat sintetis seperti fiber glass, kevlar dan spectra untuk digunakan sebagai material anti balistic seperti helm tahan peluru, plat dada anti peluru, tameng anti huru hara, rompi tahan peluru, komponen senjata dan lain-lain.

2.4.4 Biji
Sebagai minyak mentah biji rami berkhasiat mencegah dan mengobati kanker, stroke, jantung, luka lambung, anteriosklerosis.











BAB 3. METODOLOGI
3.1 Bahan dan Alat
3.1.1 Bahan
Bahan yang diperlukan diantaranya lahan, bibit haramai var. Pujon9, air, jerami, pestisida (buldok, decis, dupol), urea, SP36, KCl, furadan, fungisida, dolomit, pupuk kandang, ajir.
3.1.2 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, sabit, timba, knapsack sprayer, tugal, gembor, meteran, koret.

3.2 Prosedur Pelaksanaan
3.2.1 Persiapan Bibit
a. Rizom dipotong-potong sepanjang sekitar 10 cm
b. Ikat dengan tali rafia, setiap 10 buah stek rizome yang telah dipotong tersebut
c. Tempatkan dalam ruang yang lembab, dengan posisi tegak keatas
d. Lakukan penyiraman setiap hari, tetapi bagian bawah stek tidak boleh terendam air
e. Setelah 14 hari, stek telah berakar dan tumbuh banyak tunas dan bibit siap ditanam di lapangan.

3.2.2 Pengolahan Tanah I
a. Pembukaan lahan dengan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit
b. Buat plot dengan ukuran 3 x 2 meter, dengan tinggi 30 cm.



3.2.3 Pengolahan Tanah II
a. Gemburkan tanah kembali yang gunanya untuk membalik tanah.
b. Buat jarak tanam yaitu 40 x 30 cm
c Beri pupuk kandang (1 sak/plot) dan dolomit (2 kg/plot), kemudian balik kembali tanah tersebut.
d. Siram dengan air.
e. Buat guludan dan pembuatan saluran air.

3.2.4 Penanaman
a. Buat lubang tanaman dengan menggunakan tugal, dengan kedalam 3-5 cm.
b. Tanam benih 1 bibit/lubang tanam.
c. Lakukan penanamn secara diagonal menghadap ke arah munculnya matahari
d. Berikan furadan dan fungisida @ 20 gram/plot, diletakkan di sekitar lubang tanaman.
e. Berikan pula SP36 (90 gr/plot) dan KCl (60 gr/plot) sebagai pupuk dasar (pemupukan I). Pemupukan ini dilakukan karena KCL dan SP36 merupakan yang sulit larut, maka pupuk ini diberikan lebih awal.
e. Tutup dengan jerami agar kelembapan terjaga dan menghindari terjadinya evapotranspirasi.
f. Usahakan penutupan jerami jangan sampai menutupi bibit.

3.2.5 Pemeliharaan
a. Penyulaman
Penyulaman sebaiknya dilakukan dibawah umur 10-15 hari setelah tanam, agar pertumbuhan tanaman bisa seragam karena agar mempermudah dalam proses perawatanya.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila tumbuh rerumputan yaitu pada umur sekitar 7 hari setelah tanam. Penyiangan dilakukan berulang-ulang apabila tumbuh banyak gulma. Penyiangan dilakukan secara manual dengan menggunakan koret dan pada saat melakukan penyiangan juga sekaligus melakukan pembubunan agar tanaman tidak mudah roboh dan tanaman menjadi kokoh.
c. Pengairan
Kebutuhan akan air atau kelembaban untuk kacang tanah ialah sejak bulan pertama setelah tanam sampai kira-kira 14 hari sebelum panen. Cara pengairanya dengan cara disiram di daerah tanaman.

3.2.6 Pemupukan II
Pemupukan kedua dilakukan pada usia 2 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

3.2.7 Pemupukan III
Pemupukan ketiga dilakukan pada usia 4 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

3.2.8 Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman haramai ini berupa, belalang, dan emphoasca. Hama tersebut diatasi dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida berupa Buldok dengan dosis 2cc/liter, Dupol dengan dosis 6cc/liter, dan menggunakan Decis 4cc/liter. Sedang penyakit yang menyerang adalah puru akar, yang menyebabkan tanaman layu sementara dan akhirnya tanaman mati, serta bercak daun yang menyebabkan daun menjadi kuning.







Gambar: Penyakit bercak daun pada daun haramai
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kenaf
(Terlampir)

4.1.2 Data Pembibitan Rhizome Haramai
Hari ke- Juml. Tumbuh Tunas Keterangan
2 _ Tidak muncul tunas, tetapi tumbuh serabut akar
4 3 Tumbuh tunas dan serabut akar tumbuh banyak, tinggi rhizome rata-rata 2,5 cm
6 9 Tumbuh tunas dan serabut akar tumbuh banyak, tinggi rhizome rata-rata 2,75 cm
8 16 Tumbuh tunas dan serabut akar tumbuh banyak, tinggi rhizome rata-rata 4,5 cm
10 21 Tumbuh tunas, tinggi rhizome rata-rata 6 cm
12 26 Tumbuh tunas, tinggi rhizome rata-rata 7,5 cm
14 26 Tumbuh tunas, tinggi rhizome rata-rata 9 cm

4.1.3 Perbedaan Akar Rhizome dan Akar umbi (bulb)
Akar Rhizome Akar umbi (bulb)
Warnanya coklat tua Warnanya coklat tua
Ukurannya lebih kecil Ukurannya lebih besar
Dapat tumbuh tunas Tidak dapat tumbuh tunas
Pertumbuhannya ke samping Pertumbuhannya ke bawah
Diameter 1-3 cm (tergantung varietas) Diameter 4-6 cm (tergantung varietas)
Bentuknya lurus Bentuknya menggembung
4.1.4 Morfologi Tanaman haramai (Boehmeria nivea Var. Pujon 9)
Tanaman haramai (Boehmeria nivea Var. Pujon 9) memiliki morfologi sebagai berikut:
a. Akar
Akar tanamannya berupa akar rhizome (± 10 cm di dalam tanah) dan akar umbi (bulb), yang panjangnya kurang ± 25 cm – 30 cm. Akar tanaman haramai ini tumbuh dengan normal, sehingga memudahkan dalam memperoleh makanan, terbukti dengan tanaman kenaf tumbuh secara optimal dan baik.
Gambar rhizome Gambar akar umbi (bulb)








b. Batang
Batang tanaman haramai ini berbentuk silindris, dengan permukaan yang berbulu. Warna batang ketika masih muda yaitu berwarna hijau, sedangkan ketika tanamn berusia kurang lebih 9 minggu batangnya berubah warna menjadi kecoklatan. Lilit batang tanaman haramai mencapai 9,5 cm dan tingginya mencapai 210-230 cm.
Gambar 1 Gambar 2









Gambar 3 Gambar 4










Ket:
Gambar 1 : Tinggi mencapai 30-40 cm ketika tanaman berumur 3 minggu
Gambar 2 : Tinggi mencapai 55 cm ketika tanaman berumur 4 minggu
Gambar 3 : Warna batang hijau ketika tanaman masih muda
Gambar 4 : Warna batang kecoklatan ketika tanaman sudah tua

c. Daun
Bentuk daun bulat telur, menyerupai jantung. Tepi daun bergerigi, warna daun hijau (bagian atas), putih keperak-perakan (bagian bawah). Permukaan daun haramai berbulu halus. Labar daun mencapai 16-18 cm, dengan panjang daun mencapai 19-22 cm.
Gambar 1 Gambar 2






Keterangan: Gambar 1: Warna daun hijau (bagian atas)
Gambar 2: Putih keperak-perakan (bagian bawah)

d. Bunga
Bunga tanaman haramai berwarna putih ketika masih muda dan ketika bunga sudah tua berwarna merah. Letaknya pada ketiak daun dan berkelompok. Bunga tanaman haramai termasuk tanaman berumah satu.

Gambar 1 Gambar 2







Ket: Gambar 1 : Bunga ketika masih muda berwarna putih
Gambar 2 : Bunga ketika sudah tua berwarna merah

4.2 Pembahasan
Tanman haramai ini ditanam dengan cara menanam bibit, dimana bibit diperoleh dari membuat tunas dari akar rhizome yang disimpan di tempat yang lembab. Setelah 14 hari akar-akar rhizome in akan muncul tunas yang akhirnya dapat ditanam ke lahan secara langsung. Penanaman dilakukan secara diagonal menghadap ke arah munculnya matahari, dengan 1 bibit/lubang tanaman.
Akar tanamannya berupa akar rhizome (± 10 cm di dalam tanah) dan akar umbi (bulb), yang panjangnya kurang ± 25 cm – 30 cm.Perbedaan akar rhizome dan akar bulb terletak pada dimeter, dimana dimeter akar rhizome adalah 1-3 cm (tergantung varietas) dan dimeter akar bulb adalah 4-6 cm (tergantung varietas). Selain itu akar rhizome dapat tumbuh tunas dan pertumbuhannya ke samping, namun akar bulb tidak dapat tumbuh tunas dan pertumbuhannya ke bawah (menuju ke dalam tanah)
Bentuk daun tanaman haramai varietas Pujon9 adalah bulat telur, menyerupai jantung. Tepi daun bergerigi, warna daun hijau (bagian atas), putih keperak-perakan (bagian bawah). Permukaan daun haramai berbulu halus. Labar daun mencapai 16-18 cm, dengan panjang daun mencapai 19-22 cm.
Warna batang ketika masih muda yaitu berwarna hijau, sedangkan ketika tanamn berusia kurang lebih 9 minggu batangnya berubah warna menjadi kecoklatan. Lilit batang tanaman haramai mencapai 9,5 cm dan tingginya mencapai 210-230 cm. Batang tanaman haramai ini berbentuk silindris, dengan permukaan yang berbulu.
Letak bunga haramai pada ketiak daun dan berkelompok. Bunga tanaman haramai berwarna putih ketika masih muda dan ketika bunga sudah tua berwarna merah. Bunga tanaman haramai termasuk tanaman berumah satu.


























BAB 5. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum budidaya tanaman serat kenaf ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tanaman haramai (Boehmeria nivea Var. Pujon 9) ini dibudidayakan untuk diambil seratnya. Bibit diperoleh dari hasil pertunasan akar rhizome selama 14 hari, dengan ditanam secara diagonal di dalam tanah dan menghadap kea rah munculnya matahari.
2. Tanaman haramai (Boehmeria nivea Var. Pujon 9) ini tumbuh dan berkembang secara maksimal, dengan ditunjukkan bahwa organ-organ vegetatifnya tumbuh dengan bagus, baik batang yang jagur, tinggi tanaman yang tegap, dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

5.2 Saran
Kami mengharapkan kepada para praktikan lain yang mengadakan pembudidayaan tanamn serat yang sama, perlu dilakukan pengamatan yang lebih menyeluruh secara lengkap. Dan perlu pemeliharaan yang khusus pada saat membuat tunas dari akar rhizome yang akan dibuat bibit. Serta dilakukan perawatan yang lebih optimal, sekaligus menjaga keseimbangan kelembaban lingkungan, agar serangan hama dan penyakit tidak berlebihan. Sehingga nantinya hasil serat yang didapatkan dapat maksimal.













DAFTAR PUSTAKA


Budi, S. 2000. Rami (Boehmeria nivea Gaud) Penghasil Bahan Tekstil, Pulp, dan Pakan Ternak. Malang: Ballitas.

Hartati, R. 1996. Panduan Budidaya Rami. Malang: Ballitas

Heliyanto, B. 1999. Kriteria Seleksi pada Rami (Boehmeria nivea Gaud. Jurnal Agrotropika.

Sastrosupadi, A. 1996. Penembangan Rami di Lahan Gambut. Jurnal Penelitian Tanaman Industri.

Sastrosupadi, A. 2002. Potensi Rami sebagai Penghasil Serat dan Bahan Sandang. Jurnal Penelitian Tanaman Industri.

Rukmana, H.R. 2003. Rami: Budidaya dan Penanganan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar