Jumat, 26 Februari 2010

laopran rosella dan yute

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Tujuan dan Manfaat
1.1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum budidaya tanaman serat yaitu kenaf (Hibiscus cannabinus L. Var HC36) adalah:
a. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman serat, khususnya tanaman Rosella Var. HS1.
b. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman serat, khususnya tanaman Yute Var. CC10.

1.1.2 Manfaat
Dari hasil kegiatan ini dapat memberi atau menambah informasi bagi mahasiswa tentang budidaya tanaman serat.
Disamping itu mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan mengenai teknik budidaya yang tepat dan pengalaman dalam bidang usaha budidaya tanaman serat, sehingga produksi serat dapat meningkat.














BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Tanaman Rosella dan Yute
Tanaman rosella tumbuh di banyak negara, seperti Sudan, Meksiko, Jamaika, Brazil, Panama, hingga beberapa negara bagian AS dan Australia. Banyak orang menyebut tanaman itu berasal dari Afrika. Sebab, tumbuhan tersebut memang banyak ditemukan di sana. Penyebarannya tidak lepas dari para budak yang dikirim kebeberapa belahan dunia.Namun, di Indonesia, tanaman itu ditemukan kali pertama di Pulau Jawa, tepatnya di halaman sebuah rumah, oleh ahli botani asal Belanda yang bernama M. de L’Obel pada 1576. Diduga, tanaman itu dibawa oleh pedagang India saat dating ke Indonesia,sekitar abad ke-14. Tanaman tersebut dikenal dalam berbagai nama, seperti jamaican sorell (India Barat), oseille rouge (Prancis), quimbombo chino (Spanyol), karkade (Afrika Utara), dan bisap (Senegal). Sedangkan di Indonesia, tanaman tersebut lebih dikenal sebagai mrambos hijau (Jateng), asam jarot (Padang), asam rejang (Muara Enim), dll.

2.2 Botani Tanaman Rosella dan Yute
2.2.1 Taksonomi Tanaman Rosella dan Yute
Tanaman Rosella memiliki taksonomi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Subclass : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Family : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus sabdariffa L


Tanaman Yute memiliki taksonomi sebagai berikut:
Kerajaan Plantae

Divisi Magnoliophyta

Kelas Magnoliopsida

Ordo Malvales

Famili Malvaceae

Genus Corchorus

Spesies C. capsularis

2.2.2 Morfologi Rosella dan Yute
Rosella [Hibiscus sabdariffa] termasuk dalam keluarga Malvaceae, dengan ciri-ciri tanaman tumbuh tegak, bercabang banyak, bersemak-semak, dan mempunyai siklus hidup tahunan. Batang berwarna kemerah-merahan, dan dapat mencapai ketinggian sampai 3,5 meter. Warna daun bervariasi, dari hijau gelap sampai ke merah dengan pinggiran bergerigi. Bunga berwarna merah dengan ujung berwarna agak gelap, dilengkapi dengan benang sari dan putik. Tipe daun tanaman ini adalah daun menjari tidak lengkap (daun bertangkai) dengan tipe duduk daun majemuk menyirip gasal berseling dan warna daun dewasa bervariasi dari hijau tua sampai merah kekuningan. Batang tanaman bulat, berserat dan bercabang. Tanaman rosela memiliki akar tunggal yang cukup dalam. Buah tanaman rosela berwarna hijau tua dan mampu mencapai diameter 5,3 cm dan panjang 5 cm Biji terdapat dalam cangkang, yang dilindungi oleh semacam kelopak lembut berwarna merah.
Yute merupakan sejenis tumbuhan berserat yang dari kulit pohonnya dibuat tali untuk membuat karung goni; rami. Nama ilmiah yaitu Corchorus capsularis. Batang tanaman yute berwarna hujau muda hingga hijau tua (tergantung varietas). Bentuk batangnya yaitu silindris, dengan memiliki cabang vegetatif dan generatif. Ketinggian tanaman mencapai 250 cm, dan diameter batangnya 3-4 cm. Daun berbentuk elips atau lanset, dengan panjang daun



BAB 3. METODOLOGI
3.1 Bahan dan Alat
3.1.1 Bahan
Bahan yang diperlukan diantaranya lahan, benih Rosella Var. HS1, benih Yute Var. CC10, air, jerami, pestisida (buldok, decis, dupol), urea, SP36, KCl, furadan, fungisida, dolomit, pupuk kandang, ajir.
3.1.2 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, sabit, timba, knapsack sprayer, tugal, gembor, meteran, koret.

3.2 Prosedur Pelaksanaan
3.2.1 Persiapan Lahan
a. Lokasi dipilih tempat yang relatif rata dekat dengan sumber air dan tidak tergenang air, mudah diawasi.
b. Lokasi dibersihkan, diratakan dan drainase diatur dengan baik.

3.2.2 Pengolahan Tanah I
a. Pembukaan lahan dengan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit
b. Buat plot dengan ukuran 3 x 2 meter, dengan tinggi 30 cm.

3.2.3 Pengolahan Tanah II
a. Gemburkan tanah kembali yang gunanya untuk membalik tanah.
b Beri pupuk kandang (1 sak/plot) dan dolomit (2 kg/plot), kemudian balik kembali tanah tersebut.
c. Buat jarak tanam yaitu 40 x 30 cm.
d. Siram dengan air.
e. Buat guludan dan pembuatan saluran air.

3.2.4 Penanaman
a. Buat lubang tanaman dengan menggunakan tugal, dengan kedalam 3-5 cm.
b. Tanam benih 2-3 benih/lubang tanam.
c. Berikan furadan dan fungisida @ 20 gram/plot, diletakkan di sekitar lubang tanaman.
d. Berikan pula SP36 (90 gr/plot) dan KCl (60 gr/plot) sebagai pupuk dasar (pemupukan I). Pemupukan ini dilakukan karena KCL dan SP36 merupakan yang sulit larut, maka pupuk ini diberikan lebih awal.
e. Tutup dengan jerami agar kelembapan terjaga dan menghindari terjadinya evapotranspirasi.

3.2.5 Pemeliharaan
a. Penyulaman
Benih yute dan rosella sudah tumbuh pada hari ketujuh setelah tanam, sehingga bila ada benih yang tidak tumbuh harus dilakukan penyulaman dengan benih yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan dibawah umur 10-15 hari setelah tanam, agar pertumbuhan tanaman bisa seragam karena agar mempermudah dalam proses perawatanya.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila tumbuh rerumputan yaitu paa umur sekitar 7 hari setelah tanam. Penyiangan dilakukan berulang-ulang apabila tumbuh banyak gulma. Penyiangan dilakukan secara manual dengan menggunakan koret dan pada saat melakukan penyiangan juga sekaligus melakukan pembubunan agar tanaman tidak mudah roboh dan tanaman menjadi kokoh.

c. Penjarangan
Pada umur 14 hari setelah tanam, biasanya dilakukan penjarangan terhadap tanaman yang melebihi kebutuhan awal. Karena pada saat itu tanaman belum terlalu tua dan perakaran masih dalam kondisi mudah untuk di lakukan penjarangan, dan karena pada umur tersebut adalah umur yang ideal untuk melakukan penyeleksian tanaman. Penjarangan dilakukan secara manual, yaitu dengan cara dicabut menggunakan tangan.
e. Pengairan
Kebutuhan akan air atau kelembaban untuk rosella dan yute ialah sejak bulan pertama setelah tanam sampai kira-kira 14 hari sebelum panen. Cara pengairanya dengan cara disiram di daerah tanaman.

3.2.6 Pemupukan II
Pemupukan kedua dilakukan pada usia 2 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

3.2.7 Pemupukan III
Pemupukan ketiga dilakukan pada usia 4 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

3.2.8 Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman rosella dan yute ini berupa belalang, dan emphoasca. Hama tersebut diatasi dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida berupa Buldok dengan dosis 2cc/liter, Dupol dengan dosis 6cc/liter, dan menggunakan Decis 4cc/liter.
.









BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kenaf
(Terlampir)

4.1.2 Morfologi Tanaman Rosella Var. HS1 dan Yute Var. CC10
Tanaman Rosella Var. HS1 dan Yute Var. CC10 memiliki morfologi sebagai berikut:
a. Akar
Terdapat akar adventif yang berguna dalam pengambilan udara dari atmosfer untuk proses metabolisme akar. Akar tanaman rosella dan yute ini tumbuh dengan normal, sehingga memudahkan dalam memperoleh makanan, terbukti dengan tanaman kenaf tumbuh secara optimal dan baik.
b. Batang
Batang tanaman rosella ini berbentuk silindris, dengan batang berwarna kemerah-merahan. Tigginya mencapai 2,5 meter, dan lilit batang mencapai 8 cm.
Batang tanaman yute berwarna hijau dan sedikit berduri. Tinggi batang mencapai 275 cm. Bentuk batang silindris. Tanaman yute juga memiliki cabang-cabang yang tunmbuh secara horisontal.
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4





Ket: Gambar 1: Batang tanaman yute berwarna hijau muda ketiak masih muda
Gambar 2: Batang tanaman yute berwarna hiaju tua ketika sudah tua
Gambar 1: Batang tanaman rosella berwarna merah ketiak masih muda
Gambar 2: Batang tanaman rosella berwarna merah tua ketika sudah tua




c. Daun
Daun Rosella berbentuk menjari yakni menjari 3-5. Tepi beringgit atau bergigi, ujung daun meruncing, permukaan atas gundul, panjang tangkai daun 5-10 cm. Warna daun hijau muda hingga hijau tua, dengan lebar daun 3-3,5 cm dan panjang daun mencapai 10-15 cm.
Daun Yute berwarna hijau muda dan letaknya berselang-seling pada ketiak. Bentuk daun yakni tunggal (unlobed), dengan lebar daun 5-10 cm dan panjangnya mencapai 10-15 cm. Dan tepi daun bergerigi.
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3





Ket: Gambar 1: Bentuk daun rosella menjari tiga (semi menjari),
Gambar 2: Bentuk daun menjari lima (menjari penuh)
Gambar 3: Bentuk daun tunggal (unlobed)

d. Bunga
Bunga tanaman rosella berwarna merah dengan ujung berwarna putih, dengan merah pada pangkal dalamnya dilengkapi dengan benang sari dan putik
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3








Ket:
Gambar 1: Kuncup bunga rosella
Gambar 2: Bunga rosella ketika mekar
Gambar 3: Bunga yute



4.2 Pembahasan
Terdapat akar adventif pada rosella dan yute yang berguna dalam pengambilan udara dari atmosfer untuk proses metabolisme akar. Akar tanaman rosella dan yute ini tumbuh dengan normal, sehingga memudahkan dalam memperoleh makanan, terbukti dengan tanaman kenaf tumbuh secara optimal dan baik.
Batang yute tanaman berbentuk silindris, berwarna hijau dan sedikit berduri. Tanaman yute juga memiliki cabang-cabang yang tunmbuh secara horisontal. Tinggi batang mencapai 275 cm..
Batang tanaman rosella ini berbentuk silindris, dengan batang berwarna kemerah-merahan. Tigginya mencapai 2,5 meter, dan lilit batang mencapai 8 cm.
Daun Yute berwarna hijau muda dan letaknya berselang-seling pada ketiak. Bentuk daun yakni tunggal (unlobed), dengan lebar daun 5-10 cm dan panjangnya mencapai 10-15 cm. Dan tepi daun bergerigi.
Daun Rosella berbentuk menjari yakni menjari 3-5. Tepi beringgit atau bergigi, ujung daun meruncing, permukaan atas gundul, panjang tangkai daun 5-10 cm. Warna daun hijau muda hingga hijau tua, dengan lebar daun 3-3,5 cm dan panjang daun mencapai 10-15 cm.
Bunga tanaman rosella berwarna merah dengan ujung berwarna putih, dengan merah pada pangkal dalamnya dilengkapi dengan benang sari dan putik
Serangan hama pada tanaman kenaf ini, disebabkan karena faktor alam. Sehingga serangan hama menjadi meledak, selain itu kondisi lingkungan yang terlalu lembab juga dapat menyebkan hama dan penyakit menyerang.








BAB 5. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum budidaya tanaman serat kenaf ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tanaman Rosella Var. HS1 dan Yute Var. CC10 ,dibudidayakan untuk diambil seratnya.
2. Tanaman Rosella Var. HS1 dan Yute Var. CC10, tumbuh dan berkembang secara maksimal, dengan ditunjukkan bahwa organ-organ vegetatifnya tumbuh dengan bagus.

5.2 Saran
Kami mengharapkan kepada para praktikan lain yang mengadakan pembudidayaan tanamn serat yang sama, perlu dilakukan pengamatan yang lebih menyeluruh secara lengkap. Serta dilakukan perawatan yang lebih optimal, sekaligu menjaga keseimbangan kelembaban lingkungan, agar serangan hama dan penyakit tidak berlebihan. Sehingga nantinya hasil serat yang didapatkan dapat maksimal.



















DAFTAR PUSTAKA


Angkasa, S. 2001. Nikmatnya Rosela. Jakarta: Trubus.

Hartati, R. 1996. Panduan Budidaya Rosela. Malang: Ballitas.

Hartati, R. 1996. Panduan Budidaya Yute. Malang: Ballitas.

Heliyanto, B. 1996. Kriteria pada Yute. Malang: Ballitas.

Mukani. 1996. Pengembangan Tanaman Serat Karung. Malang: Ballitas.

Sastrosupadi, A. 1994. Studi Kelayakan Usaha Tanaman Rosela. Malang: Ballitas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar